Impor Gandum Tinggi Gara-gara Masyarakat Hobi Makan Mi Instan

CNN Indonesia | Selasa, 16/03/2021 19:52 WIB
BPS menyebut kegemaran masyarakat Indonesia terhadap mi instan membuat impor gandum tinggi dan membebani neraca perdagangan. BPS menyebut kegemaran masyarakat Indonesia terhadap mi instan membuat impor gandum tinggi dan membebani neraca perdagangan. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyebut kegemaran masyarakat Indonesia terhadap mi instan membuat impor gandum tinggi dan turut membebani neraca perdagangan.

Hal ini juga menjadi tantangan pemerintah untuk melakukan diversifikasi pangan dan meningkatkan produksi bahan baku mi instan yang dapat dapat menjadi substitusi gandum.

"Mengenai impor pangan bisa dilihat bahwa diversifikasi kita perlu 'diluruskan' karena ketergantungan kita pada gandum terutama mi instan sangat tinggi," ucapnya dalam rapat bersama Badan Legislasi (Baleg) DPR, Selasa (16/3).


Berdasarkan catatan BPS, impor gandum dan meslin rata-rata berada di atas US$2,5 milar tiap tahunnya.

Pada 2018, misalnya, nilai impor gandum Indonesia mencapai US$2,56 miliar dan meningkat jadi US$2,79 miliar pada 2019. Kemudian, pada 2020 nilainya menjadi US$2,6 miliar. "Jadi impor kita 2,6 miliar untuk gandum," imbuhnya.

Tak hanya gandum, ia juga menyoroti impor kedelai, garam dan jagung yang cukup besar. Pada 2018, impor kedelai mencapai US$1,1 miliar. Lalu, pada 2019 dan 2020 mencapai US$1 miliar.

Sementara impor garam pada 2018 mencapai US$90 juta dan meningkat pada 2019 menjadi US$95 juta, meskipun pada 2020 nilainya turun menjadi US$94 juta.

Terakhir, impor jagung yang mencapai US$159 juta pada 2018, US$212 juta pada 2019 dan US$172,6 juta pada 2020. "Jadi, memang ini harus benar-benar menjadi perhatian," pungkas Suhariyanto.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK