Bulog Tunggu 'Restu' Pemerintah Sulap Sisa Beras Jadi Tepung

CNN Indonesia | Senin, 29/03/2021 17:22 WIB
Dirut Bulog Budi Waseso menunggu restu pemerintah menyulap beras sisa impor yang turun mutu menjadi tepung terigu. Dirut Bulog Budi Waseso menunggu restu pemerintah menyulap beras sisa impor yang turun mutu menjadi tepung terigu. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengaku masih menunggu restu pemerintah guna menindaklanjuti pemanfaatan 106 ribu ton sisa beras impor yang turun mutu. Rencananya, sisa beras impor itu bakal disulap menjadi tepung terigu.

Saat ini, kata Buwas, sapaan akrabnya, belum ada komunikasi terbaru antara perusahaan dengan pemerintah terkait tindak lanjut pemanfaatan beras yang terlanjur turun mutu.

Rencananya, hal ini baru akan dibahas dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) dalam beberapa waktu ke depan.


"Nanti yang 106 ribu ton ini akan kita angkat dalam rakortas, karena ini beras CBP (cadangan beras pemerintah). Jadi, keputusannya harus dari pemerintah mau diapakan, apa jadi tepung terigu atau apa? Itu nanti keputusannya di pemerintah," ujar Buwas saat konferensi pers virtual, Senin (29/3).

Buwas menekankan sisa beras impor itu akan diolah karena masih dapat dimanfaatkan. Artinya, beras yang terlanjur turun mutu tidak serta merta dimusnahkan dan tidak digunakan untuk konsumsi.

"Tapi bukan dimusnahkan, karena itu turun mutu dalam batas kewajaran. Jadi bukan seperti saat beras tiba dan tentu harus ada perawatan," jelasnya.

Di sisi lain, ia mengatakan beras yang sudah terlanjur turun mutu sejatinya tetap dirawat oleh Bulog. Salah satunya, dengan penyimpanan yang baik di gudang-gudang Bulog.

Lebih lanjut, Buwas mengungkapkan beras bekas impor pada 2018 itu masih tersisa dan kemudian secara perlahan-lahan turun mutu karena tidak kunjung terkonsumsi. Menurut Buwas, hal ini terjadi karena ada perubahan kebijakan pemberian bantuan sosial (bansos).

Semula, pemberian bansos dari pemerintah berbentuk bahan pokok, di mana salah satunya berupa beras. Namun, belakangan berubah menjadi bansos tunai berupa uang.

"Selama dua tahun ke belakang kan kita sudah tidak lagi menyalurkan bansos rastra. Dulunya Bulog salurkan sejumlah 2,6 juta ton setahun, begitu berubah, maka 2,6 juta ton ini tidak ada lagi untuk bansos rastra. Memang, kemarin karena covid-19, Pak Presiden (Jokowi) buat program baru lewat Mensos, yaitu bansos dan kita salurkan 450 ribu ton, tapi habis itu tidak ada lagi," terangnya.

Kendati begitu, Buwas memastikan Bulog tetap berkomitmen untuk merawat beras CBP yang ada di gudangnya. Beberapa jurus pun dilakukan mulai dari tata kelola gudang yang lebih baik hingga program modern rice plant.

"Bulog sekarang sedang bangun modern rice plant, kita akan serap gabah sebanyak mungkin dari semua wilayah produksi. Dengan sistem ini tidak lagi berkurang kadar air karena ada pengeringan, dryer, dan kita simpan di selo. Sekarang lagi dibangun, akan serap 6 ribu ton beras dalam selo-selonya," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK