Kontribusi BRI untuk Kurangi Dampak Negatif Perubahan Iklim

BRI, CNN Indonesia | Minggu, 04/04/2021 12:54 WIB
Direktur Utama Sunarso membeberkan ragam kontribusi BRI dalam menerapkan kinerja berbasis ESG, khususnya pada perubahan iklim ekstrim belakangan ini. Direktur Utama Sunarso membeberkan ragam kontribusi BRI dalam menerapkan kinerja berbasis ESG, khususnya pada perubahan iklim ekstrim belakangan ini. (Foto: Bank BRI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menyadari bahwa perubahan iklim akan berpengaruh pada keberlanjutan masa depan, BRI meneguhkan komitmen untuk berkontribusi mengurangi dampak negatifnya.

Salah satu cara, melalui penyaluran pembiayaan berbasiskan nilai-nilai lingkungan, sosial, dan tata kelola (environment, social, and governance atau ESG) kepada pelaku usaha yang ramah lingkungan dan bersertifikasi pengelolaan analisis dampak lingkungan (AMDAL).

Sustainability Report BRI pada 2020 menyatakan, hingga akhir tahun BRI telah menyalurkan 63,9 persen dari total kredit untuk kegiatan usaha berwawasan lingkungan. Secara keseluruhan, ada 10 jenis usaha yang jadi sasaran penyaluran kredit, yaitu kegiatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), energi terbarukan, pencegahan dan pengendalian polusi, serta pengelolaan sumber daya alam hayati dan penggunaan lahan yang berkelanjutan.


Selain itu juga termasuk usaha kegiatan konservasi keanekaragaman hayati darat dan air, transportasi ramah lingkungan, pengelolaan air dan air limbah yang berkelanjutan, eco-efficient, bangunan berwawasan lingkungan, dan kegiatan usaha berwawasan lingkungan lainnya.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, pihaknya juga terlibat dalam aksi pengurangan emisi gas rumah kaca. Pada 2020, intensitas emisi per pekerja sebesar 4.765,52 kg CO2 eq/pekerja atau menurun 11,8 persen dari periode sebelumnya.

Langkah lain yang ditempuh BRI adalah menggiatkan digitalisasi layanan. Kenaikan volume transaksi elektronik pada tahun lalu mengurangi emisi gas rumah kaca, karena nasabah kini tak perlu bepergian ke kantor untuk mendapatkan layanan BRI.

Sementara di tahun yang sama, layanan elektronik internet banking BRI diakses oleh 25,92 juta pengguna, dan 29,03 juta nasabah menggunakan mobile banking. Jika ditotal, Sunarso menyebut potensi penurunan emisi dari digitalisasi BRI mencapai 412.400.385,28 kg CO2 eq per tahun lalu.

Sunarso menambahkan bahwa resiliensi perubahan iklim menjadi salah satu prioritas BRI, bersamaan dengan integrasi aspek lingkungan, sosial, tata kelola, dan ekonomi. Komitmen itu diperkuat oleh sustainability bond yang dikeluarkan pada 2019.

Mengingatkan bahwa BRI adalah perusahaan pertama di Indonesia yang menerbitkan sustainability bond, obligasi berwawasan lingkungan dan sosial itu bernilai US$500 juta. Hal ini juga menegaskan kesiapan BRI memperbesar pembiayaan bagi pelaku usaha yang ramah lingkungan dan berwawasan ESG ke depannya.

"Dengan komitmen yang dijaga terus menerus, BRI percaya penurunan emisi internal dan nasional akan dapat terwujud sebagai bentuk usaha menghadapi perubahan iklim dan sebagai bentuk dukungan terhadap pencapaian tujuan pembangunan global (SDGs) ke-13 Penanganan Perubahan Iklim," kata Sunarso.

(rea)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK