Pemerintah Hitung Risiko Kenaikan Suku Bunga AS

CNN Indonesia | Jumat, 04/06/2021 23:30 WIB
Pemerintah mewaspadai inflasi AS yang terus meningkat. Pasalnya, hal ini akan mempengaruhi The Fed dalam menentukan kebijakan moneternya. Pemerintah mewaspadai inflasi AS yang terus meningkat. Pasalnya, hal ini akan mempengaruhi The Fed dalam menentukan kebijakan moneternya.(Dok: Universitas Indonesia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah mewaspadai inflasi Amerika Serikat (AS) yang terus meningkat. Pasalnya, hal ini akan mempengaruhi The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan bank sentral AS berpotensi mengerek suku bunga acuan jika inflasi AS terus meningkat. Kebijakan itu akan berdampak pada suku bunga acuan negara lain, termasuk Indonesia.

"Inflasi di AS ini terus menguat dan ekspektasi inflasi ini yang kami waspadai. Ini sudah mulai menunjukkan kekhawatiran di pasar," ucap Febrio dalam diskusi online, Jumat (4/6).


Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan ada potensi pengetatan kebijakan moneter (taper tantrum) oleh The Fed akibat inflasi AS. Sebab, inflasi AS saat ini sudah tembus lebih dari 4 persen.

"Belajar dari fenomena terdahulu seperti terjadinya taper tantrum pada 2013, di mana ekspektasi normalisasi kebijakan moneter AS dapat mendorong, menimbulkan spill over atau efek rambatan yaitu pembalikan arus modal dari negara-negara berkembang," ungkap Sri Mulyani.

Menurutnya, inflasi AS karena pemerintah menggelontorkan stimulus jumbo di tengah pemulihan ekonomi pasca dihantam covid-19. Diketahui, pemerintah AS menggelontorkan insentif fiskal sebesar US$1,9 triliun.

Lonjakan inflasi AS pun menjadi perhatian dunia. Untuk Indonesia sendiri, Sri Mulyani menyebut inflasi di negeri Paman Sam akan mempengaruhi pergerakan surat berharga negara (SBN), pasar modal, dan pasar uang.

Sementara, Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) Bank Indonesia Riza Tyas Utami mengatakan tak khawatir dengan potensi taper tantrum AS. Menurutnya, kondisi pasar keuangan Indonesia berbeda dengan 2013 lalu ketika taper tantrum terjadi.

Riza menyatakan bank sentral Indonesia sudah memiliki tiga strategi intervensi (triple intervention) guna mengatasi risiko tersebut. Strategi tersebut, antara lain melakukan intervensi pasar, memiliki stabilitas sistem keuangan yang lebih tangguh, memperkuat kerja sama internasional.

[Gambas:Video CNN]



(aud/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK