Harga Minyak Terdongkrak Ramalan Kenaikan Permintaan

CNN Indonesia | Rabu, 16/06/2021 08:14 WIB
Harga minyak terdongkrak pada perdagangan Selasa (15/6) oleh ramalan kenaikan permintaan pada paruh kedua tahun ini. Harga minyak terdongkrak pada perdagangan Selasa (15/6) oleh ramalan kenaikan permintaan pada semester 2 tahun ini. Ilustrasi. (iStock/bomboman).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak melonjak hampir dua persen ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir pada perdagangan Selasa waktu Amerika Serikat (AS). Kenaikan tajam itu didukung oleh ekspektasi permintaan yang diprediksi pulih dengan cepat pada paruh kedua 2021.

Mengutip Antara, Rabu (16/6), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus naik US$1,13 atau 1,6 persen, menjadi US$73,99 per barel. Bahkan sepanjang sesi perdagangan, Brent juga sempat mencapai US$74,07 per barel yang merupakan level harga tertinggi sejak April 2019.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juli naik US$1,24 atau 1,8 persen, menjadi US$72,12 per barel. WTI sempat mencapai level US$72,19 per barel yang merupakan level tertinggi sejak Oktober 2018.


Pedagang minyak terbesar dunia mengatakan pada Selasa (15/6) kemarin bahwa mereka memperkirakan harga minyak tetap di atas US$70 per barel karena permintaan diperkirakan akan kembali ke tingkat pra-pandemi pada paruh kedua 2022.

Kepala Eksekutif Vitol, Russell Hardy memperkirakan harga minyak akan bergerak antara US$70 dan US$80 per barel untuk sisa tahun ini. Itu dibuat dengan harapan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) disiplin menjaga pasokan, bahkan ketika ekspor Iran dapat dilanjutkan usai AS bergabung kembali dengan perjanjian nuklir dengan Teheran.

"Kami telah mengalami pengurangan stok tersebut selama beberapa bulan. Pasar menuju ke arah yang benar," kata Hardy kepada FT Commodities Global Summit.

[Gambas:Video CNN]

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Trafigura Jeremy Weir mengatakan ada peluang harga mencapai US$100 per barel karena penurunan cadangan sebelum dunia mencapai puncak permintaan minyak.

Produsen OPEC+ secara bertahap melonggarkan pembatasan produksi dalam beberapa bulan terakhir.

"Keputusan OPEC+ untuk terlalu berhati-hati dalam mengembalikan pasokan ke pasar, apakah ini benar-benar hati-hati atau mereka sengaja menaikkan harga minyak, telah menjadi penghela utama dalam melihat Brent US$73 per barel," kata Louise Dickson, analis pasar minyak di Rystad Energy.

(hrf/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK