RI Keok dari Australia-Brasil Sebagai Eksportir Produk Halal

CNN Indonesia | Rabu, 28/07/2021 11:34 WIB
Wapres Ma'ruf Amin menilai sebagai negara mayoritas muslim, RI kalah dari Australia dan Brasil sebagai eksportir produk halal. Bahkan, RI impor produk halal. Wapres Ma'ruf Amin menilai sebagai negara mayoritas muslim, RI kalah dari Australia dan Brasil sebagai eksportir produk halal. Bahkan, RI impor produk halal. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan Indonesia kalah dari Australia dan Brasil sebagai produsen produk halal. Padahal, penduduk muslim kedua negara itu kalah jauh dibandingkan Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan mayoritas Islam terbesar di dunia.

Data Global Islamic Economic Report 2019 lalu memaparkan Brasil tercatat sebagai eksportir terbesar produk makanan dan minuman halal, yakni US$5,5 miliar. Australia mengekor senilai US$2,4 miliar.

"Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, kita belum mampu memanfaatkan potensi ini secara optimal seperti Malaysia. Bahkan, Brasil dengan penduduk muslim minoritas, utamanya menjadi produsen makanan halal terbesar di dunia," ungkapnya dalam Konferensi Ekonomi, Bisnis dan Keuangan Islam Nusantara, Rabu (28/7).


Sebaliknya, Indonesia malah menjadi konsumen terbesar produk halal di dunia. Indonesia tercatat membelanjakan US$173 miliar setara 12,6 persen dari pangsa pasar produk makanan halal dunia pada 2018.

Angka ini menjadikan Indonesia sebagai konsumen terbesar produk halal global dibandingkan negara mayoritas muslim lainnya.

"Jangankan sebagai produsen dan menjadi pemain global, untuk memenuhi kebutuhan makanan halal domestik saja kita masih harus impor," imbuhnya.

Menyikapi kondisi tersebut, ia menuturkan pemerintah terus berupaya mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, termasuk kegiatan usaha syariah baik skala besar maupun kecil.

Salah satu langkah konkretnya adalah dengan mengembangkan tiga kawasan industri halal, yaitu Modern Cikande Industrial Estate di Serang, Banten, Safe n Lock Halal Industrial Park di Sidoarjo, Jawa Timur, dan Bintan Inti Halal Hub di Bintan, Kepulauan Riau.

"Pengembangan usaha skala mikro dan kecil, termasuk usaha keuangan dapat menjadi bagian dari rantai nilai industri halal global atau global halal value chain, serta untuk memacu pertumbuhan usaha dan peningkatan ketahanan ekonomi umat," jelasnya.

Pemerintah juga akan mengembangkan sektor riil dengan menyiapkan para pengusaha berbasis syariah melalui inkubasi-inkubasi di berbagai daerah.

Selain itu, program pengembangan ekonomi dan keuangan syariah juga dilakukan melalui pemberdayaan para pengusaha eksisting sehingga tumbuh menjadi lebih besar.

Caranya, dengan membangun pusat-pusat bisnis syariah (Syariah Business Center) sebagai wahana interaksi dan transaksi, didukung teknologi digital bagi para pengusaha syariah.

"Strategi pengembangan ini perlu perencanaan dan data statistik yang baik. Tantangan terbesar adalah belum tercatatnya data produksi ataupun nilai perdagangan produk halal Indonesia melalui sebuah sistem informasi manajemen yang terintegrasi," jelasnya.

Sebagai informasi, dalam Global Islamic Economic Report 2019, industri makanan halal Indonesia bahkan tidak masuk peringkat 10 besar. Secara berurutan, negara-negara yang masuk dalam ranking 10 tersebut yakni Uni Emirat Arab, Malaysia, Brasil, Australia, Sudan, Pakistan, Oman, Brunei Darussalam, Turki, dan Iran.

Sementara itu, lima negara eksportir terbesar meliputi Brasil senilai US$5,5 miliar, Australia US$2,4 miliar, India US$1,7 miliar, Sudan US$621 juta, dan Turki US$548 juta. Laporan itu disusun berdasarkan data dari 1,8 miliar konsumen muslim yang tersebar di seluruh dunia.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK