Eks Menteri ESDM Duga Tesla Pilih Nikel Australia Karena EBT

CNN Indonesia | Jumat, 30/07/2021 14:08 WIB
Eks menteri ESDM Arcandra Tahar menduga Tesla memilih memasok kebutuhan nikelnya dari BHP Billiton Australia karena alasan kesamaan visi peduli lingkungan. Eks menteri ESDM Arcandra Tahar menduga Tesla memilih memasok kebutuhan nikelnya dari BHP Billiton Australia karena alasan kesamaan visi peduli lingkungan. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Eks menteri ESDM yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama PT PGN (Persero) Tbk Arcandra Tahar mensinyalir produsen mobil listrik Tesla besutan Elon Musk memilih memasok kebutuhan nikel mereka dari Australia ketimbang RI karena beberapa alasan.

Pertama, BHP Billiton selaku penyedia nikel, bahan baku baterai mobil listrik, memiliki visi ramah lingkungan yang ditunjukkan dari keseriusan perusahaan mengolah tambang nikel dengan kadar emisi rendah.

Harap maklum, Tesla selama ini terus mendapatkan desakan agar bisnisnya dapat mengurangi dampak perubahan iklim.


"Selain itu, Tesla dan BHP juga akan bekerja sama dalam pengembangan energy storage yang ramah lingkungan. Mereka punya komitmen untuk mengelola tambang yang ramah lingkungan dengan menggunakan energi terbarukan," ungkap Arcandra melalui unggahan di Instagram pribadinya pada Selasa (27/7) lalu.

Kesamaan visi ramah lingkungan ini bisa memberi kepercayaan kepada investor kedua perusahaan. Hasilnya, tentu bisa meningkatkan potensi bisnis bagi kedua belah pihak.

"Bayangkan bagaimana reaksi investor apabila Tesla bekerja sama dengan penambang nikel yang tidak ramah lingkungan. Tesla bisa jadi mendapat harga nikel yang lebih murah, tapi kalau nilai sahamnya turun, maka kerugian besar bagi Tesla," imbuh Arcandra.

Begitu juga dengan BHP Billiton, reputasi yang dibangunnya selama ini sebagai perusahaan tambang yang peduli lingkungan bisa tercoret bila menjual nikel ke perusahaan yang tidak punya visi yang sama.

[Gambas:Instagram]

"Inilah fenomena ke depan yang harus dihadapi perusahaan dunia yang sudah go public. Mereka harus peduli dengan lingkungan kalau tidak ingin ditinggal investor," jelasnya.

Selain itu, Arcandra menduga ada nilai tambah dari kebijakan pemerintah Australia, di mana mereka memberikan insentif fiskal bagi perusahaan yang ramah lingkungan. Hal ini, sambungnya, mungkin bisa mengompensasi faktor tingginya upah pekerja di Australia.

"Inilah kunci untuk membangun dunia usaha yang berkelanjutan dan handal. Tidak dipaksa melalui jalan sulit dengan peta jalan yang buram," terang dia.

Padahal, sekadar mengingatkan, Indonesia memiliki pasokan nikel yang melimpah ruah. Selain itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat melobi Elon Musk untuk mengalirkan investasi dengan membangun pabrik baterai listrik di Indonesia.

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK