Nilai Tukar Petani Turun 0,11 Persen per Juli 2021

CNN Indonesia | Senin, 02/08/2021 20:18 WIB
BPS mencatat nilai tukar petani (NTP) sebesar 103,48 pada Juli 2021 atau turun 0,11 persen dari posisi bulan sebelumnya. BPS mencatat nilai tukar petani (NTP) sebesar 103,48 pada Juli 2021 atau turun 0,11 persen dari posisi bulan sebelumnya. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani (NTP) nasional sebesar 103,48 per Juli 2021. Angkanya turun 0,11 persen dari posisi Juni 2021 sebesar 103,59.

Sebelumnya, NTP adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan.

NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun dengan biaya produksi.


Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan penurunan NTP bulan lalu dipengaruhi peningkatan indeks harga hasil produksi pertanian yang lebih rendah dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun biaya produksi dan penambahan barang modal.

"Penurunan NTP Juli 2021 dipengaruhi oleh turunnya NTP di dua subsektor pertanian," ucap Margo dalam konferensi pers, Senin (2/8).

Margo merinci subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,63 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat turun sebesar 0,98 persen, subsektor taman perkebunan rakyat turun sebesar 0,13 persen.

Sementara, tiga subsektor lainnya tercatat naik. Rinciannya, subsektor tanaman hortikultura naik sebesar 2,49 persen, subsektor peternakan naik 0,84 persen, dan subsektor perikanan naik 0,23 persen.

Ia menjelaskan 15 provinsi mencatatkan penurunan NTP, sedangkan 19 provinsi lainnya membukukan kenaikan NTP. Penurunan tertinggi terjadi di Riau sebesar 2,29 persen dan kenaikan terbesar terjadi di DKI Jakarta sebesar 2,58 persen.

Sementara, Margo menyatakan indeks konsumsi rumah tangga (IKRT) naik sebesar 0,14 persen perJuli 2021. Salah satu yang mendorong kenaikan IKRT adalah peningkatan indeks pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,18 persen.

"Dari 34 provinsi yang dihitung IKRT-nya, 24 provinsi alami peningkatan IKRT, 10 provinsi alami penurunan IKRT," kata Margo.

Ia menambahkan peningkatan IKRT tertinggi terjadi di Sulawesi Utara sebesar 1 persen. Kemudian, penurunan IKRT terbesar terjadi di DKI Jakarta sebesar 0,76 persen.

[Gambas:Video CNN]



(aud/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK