Pemadaman Listrik di China Terus Berlanjut

CNN Indonesia
Selasa, 12 Oct 2021 08:17 WIB
Pemadaman listrik di China kembali berlanjut pada awal pekan ini. Itu terjadi karena harga batu bara mencetak rekor tertinggi dalam beberapa waktu terakhir. Pemadaman listrik di China kembali berlanjut pada awal pekan ini. Itu terjadi karena harga batu bara mencetak rekor tertinggi dalam beberapa waktu terakhir. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemadaman listrik di China kembali berlanjut pada awal pekan ini. Itu terjadi karena harga batu bara mencetak rekor tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Kenaikan ini membuat Negeri Tirai Bambu semakin kesulitan mendistribusikan pasokan listrik ke masyarakat di tengah kekurangan batu bara sebagai bahan baku.

Melansir CNN Business, harga batu bara berjangka naik 12 persen ke kisaran US$219 per metrik ton atau setara Rp3,1 juta per metrik ton (kurs Rp14.200 per dolar AS). Harga tersebut naik lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun ini.


Selain faktor kenaikan harga, pemadaman listrik di China juga terjadi karena terganggunya distribusi akibat banjir yang terjadi di China bagian utara. Banjir memaksa sekitar 60 tambang batu bara tutup di Provinsi Shanxi, pusat tambang terbesar sekaligus penghasil seperempat produksi batu bara di China.

Sementara dari sisi permintaan, kebutuhan listrik masyarakat dan dunia usaha meningkat sejalan dengan pemulihan ekonomi global dan negara tersebut. Tercatat, konsumsi listrik nasional di China meningkat 14 persen pada Januari-Agustus 2021 dibandingkan Januari-Agustus 2020.

[Gambas:Video CNN]

Selain itu, China juga tengah kekurangan pasokan batu bara dari Australia. Hal ini terjadi karena kedua negara sedang tidak akur dalam masalah perdagangan.

Lebih lanjut, Moody's, lembaga pemeringkat internasional menilai krisis energi dan pemadaman listrik di China akan menghambat pertumbuhan ekonomi negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping itu.

"Pemadaman listrik China akan menambah tekanan ekonomi, membebani pertumbuhan PDB 2022. Risiko terhadap perkiraan PDB bisa lebih besar karena gangguan pada produksi dan rantai pasokan masuk," ungkap laporan Moody's.

(agt/agt)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER