Jasa Tukar Uang dan Jerit Emak-emak Demi Biayai Kuliah Anak
Wella Andany | CNN Indonesia
Senin, 25 Apr 2022 14:49 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sejumlah ibu-ibu, salah satunya Maria menjual jasa penukaran uang pecahan baru jelang lebaran 2022 demi membiayai kuliah dua anaknya. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --
Maria (bukan nama sebenarnya) menatap lurus ke arah setiap pejalan kaki yang melewatinya di sepanjang trotoar Taman Sari, Jakarta Barat, Senin (25/4) ini.
Sesekali ia memanggil mereka, berharap ada pelanggan pertama yang menukarkan uang kepadanya hari ini. Bukan tanpa sebab.
Jasa penukaran uang recehnya belum laku sama sekali sejak ia membuka lapak jam 11 tadi. Terik matahari ibu kota tak menghalanginya.
Topi, jaket, dan kursi plastik putih ia siapkan sebagai modalnya melawan teriknya matahari.
"Belum, belum ada yang beli. Nanti ramenya sore, jam-jam pulang kerja," katanya kepada CNNIndonesia.com.
Wanita berusia 50 tahun yang berprofesi sebagai joki membuka jasa penukaran uang pecahan baru sebagai kerjaan sampingan saja jelang Idulfitri. Profesi itu sudah dilakoninya tiga tahun belakangan.
Ia bercerita mau tak mau harus bekerja keras menjadi apa saja, termasuk joki dan penjual jasa penukaran uang baru, demi membiayai kuliah dua anaknya.
Ia enggan menjelaskan terlalu detail siapa orang yang ia sebut sebagai bandar itu. Namun dari pengakuannya, untung yang didapat dibagi tiga sehingga ia hanya mendapat sekitar sepertiga untung. "Saya boleh ada bandarnya gitu, jadi saya cuma persenan doang," ujarnya.
Segendang sepenarian dengan Maria, upaya mendulang untung dari jasa penukaran uang baru juga dilakoni Maimunah (bukan nama sebenarnya).
Beroperasi tepat di seberang Pasar Borobudur, Ciledug, Tangerang ia berteriak lantang menawarkan jasa penukaran uang barunya kepada masyarakat yang lewat.
"Boleh mba, boleh Pak, uang barunya," ujar dia sambil mengipaskan tumpukan uang pecahan Rp10 ribu ke arah mereka yang berlalu lalang di lokasi itu, Jumat (22/4) lalu.
Maimunah mengaku sudah dua hari belakangan menjajakan jasa penukaran uang baru. Namun, usahanya mencari untung dari jasa tersebut ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan.
Kendati ramai pengunjung pasar, namun nyaris tak ada yang melirik jasa penukaran uang Maimunah. Di lapak dia tampak lengkap uang receh pecahan Rp1.000, Rp2.000, Rp5.000, Rp10 ribu, dan Rp20 ribu.
Sejak buka lapak pagi tadi, ia baru dapat 'penglaris' atau pembeli pertama pada sekitar pukul 12 siang.
"Ini baru ada pelaris, baru ini, masih sepi, tapi enggak tahu ya baru hari kedua," katanya.
Dari jasa penukaran uang, Maimunah mengaku untung 10 persen atau Rp10 ribu dari setiap penukaran Rp100 ribu. Misalnya, untuk penukaran 10 lembar pecahan Rp10 ribu ia jual Rp110 ribu ke pelanggan. Begitu pun kelipatannya.
"Kalau ambil Rp200 ribu ya berarti bayar Rp220 ribu," imbuhnya.
Meski sepi pembeli, Maimunah mengaku tak berkecil hati. Toh, masih ada lebih dari seminggu sebelum hari raya. Selain itu, berdagang uang baru hanya usaha musiman untuk penghasilan tambahan.
"Usaha utama saya buka warung, tuh di sana," terangnya sembari menunjuk ke gerobak kopi instan dan snack yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari lapak uang barunya.
Mirisnya, baru berhasil mendapat pelanggan pertama, Maimunah harus buru-buru menutup lapaknya karena hujan deras mengguyur. Rencananya untuk berdagang hingga maghrib kemungkinan gagal karena hujan tak kunjung reda.
Nasib serupa juga terjadi pada dua penjaja uang baru lainnya yang terpaksa harus menutup lapak dan bergegas berteduh.
Seperti tahun sebelumnya, di tahun ketujuh ini, Maimunah menyebut tak keluar sepeser pun untuk modal. Pasalnya, uang baru keluaran Bank Indoesia yang ia jual berasal dari agen.
Sayangnya, Maimunah enggan menjelaskan agen yang ia maksud. "Modalnya enggak ada, saya ngambil dari agen, ini saya jualin doang. Nanti dikasih lagi," pungkas dia.
Jakarta, CNN Indonesia --
Maria (bukan nama sebenarnya) menatap lurus ke arah setiap pejalan kaki yang melewatinya di sepanjang trotoar Taman Sari, Jakarta Barat, Senin (25/4) ini.
Sesekali ia memanggil mereka, berharap ada pelanggan pertama yang menukarkan uang kepadanya hari ini. Bukan tanpa sebab.
Jasa penukaran uang recehnya belum laku sama sekali sejak ia membuka lapak jam 11 tadi. Terik matahari ibu kota tak menghalanginya.
Topi, jaket, dan kursi plastik putih ia siapkan sebagai modalnya melawan teriknya matahari.
"Belum, belum ada yang beli. Nanti ramenya sore, jam-jam pulang kerja," katanya kepada CNNIndonesia.com.
Wanita berusia 50 tahun yang berprofesi sebagai joki membuka jasa penukaran uang pecahan baru sebagai kerjaan sampingan saja jelang Idulfitri. Profesi itu sudah dilakoninya tiga tahun belakangan.
Ia bercerita mau tak mau harus bekerja keras menjadi apa saja, termasuk joki dan penjual jasa penukaran uang baru, demi membiayai kuliah dua anaknya.
Ia enggan menjelaskan terlalu detail siapa orang yang ia sebut sebagai bandar itu. Namun dari pengakuannya, untung yang didapat dibagi tiga sehingga ia hanya mendapat sekitar sepertiga untung. "Saya boleh ada bandarnya gitu, jadi saya cuma persenan doang," ujarnya.
Segendang sepenarian dengan Maria, upaya mendulang untung dari jasa penukaran uang baru juga dilakoni Maimunah (bukan nama sebenarnya).
Beroperasi tepat di seberang Pasar Borobudur, Ciledug, Tangerang ia berteriak lantang menawarkan jasa penukaran uang barunya kepada masyarakat yang lewat.
"Boleh mba, boleh Pak, uang barunya," ujar dia sambil mengipaskan tumpukan uang pecahan Rp10 ribu ke arah mereka yang berlalu lalang di lokasi itu, Jumat (22/4) lalu.
Sejumlah ibu-ibu menjual jasa penukaran uang pecahan baru jelang lebaran. Dari jasa itu, mereka dapat untung Rp10 ribu dari setiap penukaran Rp100 ribu. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru).
Maimunah mengaku sudah dua hari belakangan menjajakan jasa penukaran uang baru. Namun, usahanya mencari untung dari jasa tersebut ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan.
Kendati ramai pengunjung pasar, namun nyaris tak ada yang melirik jasa penukaran uang Maimunah. Di lapak dia tampak lengkap uang receh pecahan Rp1.000, Rp2.000, Rp5.000, Rp10 ribu, dan Rp20 ribu.
Sejak buka lapak pagi tadi, ia baru dapat 'penglaris' atau pembeli pertama pada sekitar pukul 12 siang.
"Ini baru ada pelaris, baru ini, masih sepi, tapi enggak tahu ya baru hari kedua," katanya.
Dari jasa penukaran uang, Maimunah mengaku untung 10 persen atau Rp10 ribu dari setiap penukaran Rp100 ribu. Misalnya, untuk penukaran 10 lembar pecahan Rp10 ribu ia jual Rp110 ribu ke pelanggan. Begitu pun kelipatannya.
"Kalau ambil Rp200 ribu ya berarti bayar Rp220 ribu," imbuhnya.
Meski sepi pembeli, Maimunah mengaku tak berkecil hati. Toh, masih ada lebih dari seminggu sebelum hari raya. Selain itu, berdagang uang baru hanya usaha musiman untuk penghasilan tambahan.
"Usaha utama saya buka warung, tuh di sana," terangnya sembari menunjuk ke gerobak kopi instan dan snack yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari lapak uang barunya.
Mirisnya, baru berhasil mendapat pelanggan pertama, Maimunah harus buru-buru menutup lapaknya karena hujan deras mengguyur. Rencananya untuk berdagang hingga maghrib kemungkinan gagal karena hujan tak kunjung reda.
Nasib serupa juga terjadi pada dua penjaja uang baru lainnya yang terpaksa harus menutup lapak dan bergegas berteduh.
Seperti tahun sebelumnya, di tahun ketujuh ini, Maimunah menyebut tak keluar sepeser pun untuk modal. Pasalnya, uang baru keluaran Bank Indoesia yang ia jual berasal dari agen.
Sayangnya, Maimunah enggan menjelaskan agen yang ia maksud. "Modalnya enggak ada, saya ngambil dari agen, ini saya jualin doang. Nanti dikasih lagi," pungkas dia.