Menerka Prospek Investor Danai Startup Usai Gelombang PHK
CNN Indonesia
Kamis, 02 Jun 2022 18:52 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Investor menilai bisnis startup masih potensial untuk diberikan suntikan modal. Namun, kondisi ekonomi global membuat investor lebih selektif. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan di perusahaan rintisan alias startup tengah muncul di publik. Mulai dari Zenius, LinkAja, JD.ID, hingga yang teranyar Mobile Premier League (MPL).
Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) melihat gelombang PHK karyawan startup terjadi karena perusahaan mulai kesulitan modal dari investor. Padahal, startup sangat bergantung pada dana investor untuk 'bakar duit' guna menarik pasar dan mengembangkan bisnis mereka.
"Kalau tidak ada modal atau injeksi dari investor, mereka sulit untuk terus menjalankan aktivitasnya," ungkap Sekretaris Jenderal Amvesindo Eddi Danusaputro kepada CNNIndonesia.com, Senin (30/5).
"Masalahnya saat ini, investor lebih selektif, pilih-pilih ke startup yang mana (yang ingin didanai)," lanjutnya.
Menurutnya, investor mulai selektif karena kondisi ekonomi global dan nasional mulai tidak tentu. Salah satunya karena bank-bank sentral dari berbagai negara di dunia berencana menaikkan tingkat suku bunga acuan mereka.
"Terjadi pergerakan di dunia makro, suku bunga naik, likuiditas berkurang, jadi memang investor itu lebih selektif," katanya.
Kondisi ini membuat satu per satu investor startup mulai mengurangi pendanaan kepada perusahaan. Bahkan, ada pula yang menyetop suntikan.
"Jadi modal yang mereka miliki harus 'dipanjangin', dari yang tadinya mungkin cukup untuk enam bulan jadi harus cukup untuk 12 bulan. Istilahnya runway-nya diperpanjang," terangnya.
Ketika modal harus dihemat, maka jalan utama yang cenderung dilakukan adalah efisiensi, termasuk mengurangi jumlah karyawan lewat PHK. Maka tak heran, gelombang PHK itu kini terjadi.
Lantas bagaimana prospek ke depan? Apakah investor sudah tidak mau mendanai startup lagi?
Menurut Eddi yang juga Direktur Utama PT Mandiri Capital Indonesia (MCI), perusahaan modal ventura milik PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, investor tentu masih mau mendanai startup.
Termasuk para bank dan perusahaan modal ventura yang kini getol menyuntik modal ke startup. Sebab, menurutnya, bisnis startup tetap punya potensi untung ke depan asal bisa dikelola dengan optimal.
"Tetap ada growth ke depannya meski ada koreksi saat ini. Menurut saya, long term-nya ekosistem digital juga tetap menarik untuk investor. Tapi kita harus lebih cerdas memilahnya karena kita tidak bisa mengeneralisasi semua startup itu sama," jelasnya.
Dengan begitu, investor akan lebih selektif dan memperketat syarat pendanaan mereka ke startup. Misalnya, masa 'bakar duit' startup harus lebih singkat, dari yang sebelumnya boleh 8-10 tahun, kini lima tahun sudah harus untung.
"Karena startup mana pun ujungnya harus punya profitable bisnis atau road map menuju profitability, dan itu yang sekarang investor semakin tekankan," tuturnya.
MCI sendiri merupakan salah satu perusahaan yang banyak mendanai startup. Beberapa di antaranya seperti Amartha, Crowde, KoinWorks, Investree, hingga Gojek Indonesia.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Masih Potensial
Senada, PT CIMB Niaga Tbk, bank swasta yang turut mendanai sejumlah startup melalui kerja sama dengan Genesis Alternative Ventures, perusahaan modal ventura di Asia Tenggara, juga melihat bisnis startup masih potensial.
Namun, Direktur Utama CIMB Niaga Lani Darmawan tak memungkiri bahwa kondisi ekonomi saat ini turut menjadi pertimbangan bank dalam memberi pendanaan ke startup.
"Sehubungan dengan terjadinya seleksi (startup) saat ini, pasti juga kami pertimbangkan," ujar Lani.
Untuk itu, sambungnya, bank akan selektif dalam memberikan pendanaan. Salah satunya dengan turut mempertimbangkan investor lain di balik startup tersebut.
"Tentunya kami memilih perusahaan yang prospektif, lebih sustainable, punya fungsi inclusiveness yang bagus terhadap komunitas dan penuh guna untuk pertumbuhan ekonomi yang mungkin belum terjangkau oleh lembaga konvensional," ucapnya.
Kendati begitu, baik Eddi dan Lani belum bisa memberi prospek signifikan terhadap masing-masing startup yang perusahaan danai. Sebab, hal ini menyangkut strategi bisnis perusahaan.
Sementara PT Lunaria Annua Teknologi alias KoinWorks, salah satu startup yang mendapat pendanaan dari investor menilai gelombang PHK karyawan utamanya memang terjadi karena dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Penyebab lain karena ada persaingan yang semakin ketat di bisnis startup. "Sehingga para pemain startup menyusun prioritas masing-masing, antara lain mungkin untuk marketing, fokus pada profit terlebih dahulu, bahkan mungkin prioritas lain seperti ingin menghemat budget," ungkap CEO sekaligus Co-Founder KoinWorks Benedicto Haryono.
Namun, ia yakin tantangan startup saat ini tetap bisa memberi potensi bisnis, termasuk kerja sama dengan para investor. Hanya saja, masing-masing startup tentu perlu menelurkan strategi yang menarik dan kuat untuk tetap bisa menjaga kepercayaan investor mereka, termasuk suntikan pendanaannya.
"KoinWorks selalu berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan para investor yang terlibat dari awal pendanaan seri A hingga sekarang memperoleh seri C. Bagi kami penting untuk menjaga kepercayaan investor," tandasnya.
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan di perusahaan rintisan alias startup tengah muncul di publik. Mulai dari Zenius, LinkAja, JD.ID, hingga yang teranyar Mobile Premier League (MPL).
Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) melihat gelombang PHK karyawan startup terjadi karena perusahaan mulai kesulitan modal dari investor. Padahal, startup sangat bergantung pada dana investor untuk 'bakar duit' guna menarik pasar dan mengembangkan bisnis mereka.
"Kalau tidak ada modal atau injeksi dari investor, mereka sulit untuk terus menjalankan aktivitasnya," ungkap Sekretaris Jenderal Amvesindo Eddi Danusaputro kepada CNNIndonesia.com, Senin (30/5).
"Masalahnya saat ini, investor lebih selektif, pilih-pilih ke startup yang mana (yang ingin didanai)," lanjutnya.
Menurutnya, investor mulai selektif karena kondisi ekonomi global dan nasional mulai tidak tentu. Salah satunya karena bank-bank sentral dari berbagai negara di dunia berencana menaikkan tingkat suku bunga acuan mereka.
"Terjadi pergerakan di dunia makro, suku bunga naik, likuiditas berkurang, jadi memang investor itu lebih selektif," katanya.
Kondisi ini membuat satu per satu investor startup mulai mengurangi pendanaan kepada perusahaan. Bahkan, ada pula yang menyetop suntikan.
"Jadi modal yang mereka miliki harus 'dipanjangin', dari yang tadinya mungkin cukup untuk enam bulan jadi harus cukup untuk 12 bulan. Istilahnya runway-nya diperpanjang," terangnya.
Ketika modal harus dihemat, maka jalan utama yang cenderung dilakukan adalah efisiensi, termasuk mengurangi jumlah karyawan lewat PHK. Maka tak heran, gelombang PHK itu kini terjadi.
Lantas bagaimana prospek ke depan? Apakah investor sudah tidak mau mendanai startup lagi?
Menurut Eddi yang juga Direktur Utama PT Mandiri Capital Indonesia (MCI), perusahaan modal ventura milik PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, investor tentu masih mau mendanai startup.
Termasuk para bank dan perusahaan modal ventura yang kini getol menyuntik modal ke startup. Sebab, menurutnya, bisnis startup tetap punya potensi untung ke depan asal bisa dikelola dengan optimal.
"Tetap ada growth ke depannya meski ada koreksi saat ini. Menurut saya, long term-nya ekosistem digital juga tetap menarik untuk investor. Tapi kita harus lebih cerdas memilahnya karena kita tidak bisa mengeneralisasi semua startup itu sama," jelasnya.
Dengan begitu, investor akan lebih selektif dan memperketat syarat pendanaan mereka ke startup. Misalnya, masa 'bakar duit' startup harus lebih singkat, dari yang sebelumnya boleh 8-10 tahun, kini lima tahun sudah harus untung.
"Karena startup mana pun ujungnya harus punya profitable bisnis atau road map menuju profitability, dan itu yang sekarang investor semakin tekankan," tuturnya.
MCI sendiri merupakan salah satu perusahaan yang banyak mendanai startup. Beberapa di antaranya seperti Amartha, Crowde, KoinWorks, Investree, hingga Gojek Indonesia.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Masih Potensial
Investor menilai bisnis startup masih potensial untuk diberikan suntikan modal. Namun, kondisi ekonomi global membuat investor lebih selektif. Ilustrasi. (Istockphoto/ismagilov).
Masih Potensial
Senada, PT CIMB Niaga Tbk, bank swasta yang turut mendanai sejumlah startup melalui kerja sama dengan Genesis Alternative Ventures, perusahaan modal ventura di Asia Tenggara, juga melihat bisnis startup masih potensial.
Namun, Direktur Utama CIMB Niaga Lani Darmawan tak memungkiri bahwa kondisi ekonomi saat ini turut menjadi pertimbangan bank dalam memberi pendanaan ke startup.
"Sehubungan dengan terjadinya seleksi (startup) saat ini, pasti juga kami pertimbangkan," ujar Lani.
Untuk itu, sambungnya, bank akan selektif dalam memberikan pendanaan. Salah satunya dengan turut mempertimbangkan investor lain di balik startup tersebut.
"Tentunya kami memilih perusahaan yang prospektif, lebih sustainable, punya fungsi inclusiveness yang bagus terhadap komunitas dan penuh guna untuk pertumbuhan ekonomi yang mungkin belum terjangkau oleh lembaga konvensional," ucapnya.
Kendati begitu, baik Eddi dan Lani belum bisa memberi prospek signifikan terhadap masing-masing startup yang perusahaan danai. Sebab, hal ini menyangkut strategi bisnis perusahaan.
Sementara PT Lunaria Annua Teknologi alias KoinWorks, salah satu startup yang mendapat pendanaan dari investor menilai gelombang PHK karyawan utamanya memang terjadi karena dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Penyebab lain karena ada persaingan yang semakin ketat di bisnis startup. "Sehingga para pemain startup menyusun prioritas masing-masing, antara lain mungkin untuk marketing, fokus pada profit terlebih dahulu, bahkan mungkin prioritas lain seperti ingin menghemat budget," ungkap CEO sekaligus Co-Founder KoinWorks Benedicto Haryono.
Namun, ia yakin tantangan startup saat ini tetap bisa memberi potensi bisnis, termasuk kerja sama dengan para investor. Hanya saja, masing-masing startup tentu perlu menelurkan strategi yang menarik dan kuat untuk tetap bisa menjaga kepercayaan investor mereka, termasuk suntikan pendanaannya.
"KoinWorks selalu berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan para investor yang terlibat dari awal pendanaan seri A hingga sekarang memperoleh seri C. Bagi kami penting untuk menjaga kepercayaan investor," tandasnya.