Dapat Kompor Listrik, Warga di Solo Tetap Pilih Kompor Gas

tim | CNN Indonesia
Jumat, 23 Sep 2022 19:10 WIB
PT PLN (Persero) mulai lakukan uji coba penggunaan kompor listrik yang menyasar 1.000 warga miskin berdaya listrik 450-900 VA dan UMKM. Pemerintah mulai lakukan uji coba penggunaan kompor listrik yang menyasar 1.000 warga tidak mampu dan UMKM dengan daya listrik 450-900 VA. (iStockphoto).
Solo, CNN Indonesia --

PT PLN (Persero) mulai lakukan uji coba penggunaan kompor listrik di tiga kota salah satunya di Solo. Uji coba ini menyasar 1.000 warga tidak mampu berdaya listrik 450-900 VA dan UMKM.

Sayangnya, masih ada warga yang lebih nyaman menggunakan kompor gas ketimbang kompor listrik induksi dari pemerintah.

Teddy (47) misalnya. Pengusaha angkringan itu mengaku lebih suka menggunakan kompor gas lamanya.

Apalagi usaha angkringannya juga tidak mungkin dijalankan menggunakan kompor induksi. Ia merasa kurang puas dengan hasil masakan kompor induksi.

"Kompornya paling cuma saya pakai buat bikin mi instan sama menggoreng telur. Itu pun untuk menggoreng nggak bisa garing," katanya.

Ia mengatakan mau menerima bantuan kompor induksi dari PLN agar mendapat subsidi listrik.

"Dulu kan ditawari kalau mau dapat subsidi harus mau ambil kompor listriknya, ya saya terima," katanya.

Berbeda dengan Teddy, Indrawati, seorang ibu rumah tangga di kelurahan Mojo, mengaku mendapatkan paket kompor listrik gratis dari pemerintah. Ia mendapat kompor induksi dua tungku bermerek Myamin dengan total daya 2.000 Watt.

"Sama dapat panci stainless steel dan wajan anti lengket. Soalnya kompor ini nggak bisa pakai panci alumunium," katanya.

Indrawati menuturkan sebelum menerima paket kompor tersebut, instalasi di rumahnya menggunakan 1.300 VA. Namun, ia akhirnya turun daya ketika mendapatkan tawaran bantuan kompor listrik induksi.

Sebab, untuk menjadi penerima paket kompor listrik itu, syaratnya adalah memiliki daya listrik 900 VA dan masuk golongan subsidi. Tanpa pikir panjang, ia pun menerima tawaran tersebut.

Terlebih, ia memang berhak mendapatkan subsidi karena ia tergolong tidak mampu. Selama ini, ia juga sudah terdaftar sebagai peserta Program Keluarga Harapan (PKH) dan penerima Bantuan Pangan Nontunai dari pemerintah. Sebelumnya, pada awal tahun ini, ia dapat program penataan kawasan dari Kementerian PUPR sehingga rumahnya dipasang listrik 1.300 VA.

Ia mengaku instalansi kompor listrik dilakukan oleh petugas PLN. Selain memasang kompor listrik, petugas itu juga menambah mini circuit breaker (MCB) di rumahnya. Satu MCB khusus kompor listrik, satu lagi untuk perangkat elektronik lain.

"Kalau mau masak, MCB yang buat kompor listrik harus dinyalakan dulu. Kalau sudah selesai harus dimatikan. Biar kompornya awet," katanya.

Sejak menggunakan kompor listrik, Indrawati mengaku pengeluaran listriknya justru berkurang.

Jika dulu dengan daya 1.300 VA merogoh Rp200 ribu sampai Rp250 ribu per bulan, kini dengan daya 900 VA ia hanya membayar Rp100 ribu per bulan.

Penghematan konsumsi ini karena sejak menggunakan kompor induksi, ia menjadi penerima subsidi listrik 900 VA.

"Dulu waktu masih 1.300 VA itu beli Rp 50 ribu cuma dapat 31 kWH. Sekarang saya beli Rp 100 ribu dapatnya 150 kWH," katanya.

[Gambas:Video CNN]



(syd/dzu)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER