Eks Menteri Keuangan Yakin AS Bakal Resesi

tim | CNN Indonesia
Jumat, 07 Okt 2022 13:59 WIB
Eks Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Larry Summers meyakini negaranya bakal mengalami resesi ekonomi dengan melihat kondisi saat ini. Eks Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Larry Summers meyakini negaranya bakal mengalami resesi ekonomi dengan melihat kondisi saat ini. Ilustrasi. (AFP/WILLIAM WEST).
Jakarta, CNN Indonesia --

Eks Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Larry Summers meyakini negaranya bakal mengalami resesi ekonomi berdasarkan kondisi saat ini.

"Historis menunjukkan bahwa jenis inflasi yang kita miliki jarang kembali ke tingkat normal--tingkat target sekitar 2 persen--tanpa resesi," kata Summers di acara The Situation Room yang ditayangkan CNN pada Kamis (6/10).

Namun, Summers memperkirakan AS tidak akan mengalami hal seperti sesudah pandemi covid-19 ataupun selama krisis keuangan 2008 lalu.

"Saya pikir kita memiliki periode stimulus yang sangat substansial dan di lain sisi kemungkinan akan terjadi penurunan," imbuhnya.

Secara keseluruhan, ekonomi AS menyusut 0,6 persen selama kuartal II 2022. Tanda-tanda peringatan tersebut membuat Negeri Paman Sam di ambang resesi.

Akan tetapi, beberapa ekonom dan pembuat kebijakan menolak klaim resesi yang bakal terjadi pada awal 2023. Pertumbuhan pekerjaan yang kuat hingga belanja konsumen dan manufaktur menjadi dalih.

Gubernur Bank Sentral (The Fed) AS Jerome Powell memang masih optimistis ada cara mengendalikan inflasi tanpa memicu penurunan ekonomi. Kendati demikian, peluang mulai menyempit karena pada akhirnya bank sentral harus menaikkan suku bunga cukup drastis.

Selain percaya bahwa AS bakal resesi, Summers menyinggung keputusan OPEC+ yang secara mengejutkan mengurangi produksi minyak harian. Menurutnya, keputusan tersebut amat berdampak pada AS.

"Ini bukan kabar baik. Ini meningkatkan risiko inflasi, risiko yang sehubungan dengan resesi," ujarnya.

Kelompok produsen minyak utama, meliputi Arab Saudi dan Rusia, memutuskan untuk mengurangi produksi sebesar 2 juta barel per hari mulai November. Ini merupakan yang terbesar sejak pandemi covid-19 merebak pada 2020.

[Gambas:Video CNN]



(skt/sfr)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER