Anak muda sekarang banyak yang berlomba bekerja di startup karena menawarkan gaji besar dan waktu kerja yang fleksibel. Tapi, startup sedang dihantui badai PHK. Ilustrasi startup. (Istockphoto/ismagilov).
Jakarta, CNN Indonesia --
Perusahaan rintisan (startup) belakangan menjadi incaran banyak pekerja, terutama kaum muda. Startup yang identik dengan teknologi mendadak menjadi primadona bagi anak muda yang juga tak bisa lepas dari teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Tak heran, kaum muda atau milenial berlomba-lomba melamar kerja terutama di startup ternama seperti Gojek, Shopee, Tokopedia, dan lainnya.
Razan, salah satu pekerja di startup teknologi asuransi mengatakan alasannya memilih bekerja di dunia startup adalah karena ruang untuk berkembang yang sangat besar. Setiap tantangan selama bekerja di startup membuatnya terus meningkatkan kemampuan diri.
"Saya merasa selama sekitar 5 tahun bekerja di startup, saya sangat berkembang secara pribadi maupun profesional," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (22/10).
Selain itu, gaji dan keuntungan lainnya juga menjadi faktor yang membuatnya memilih startup sebagai tempat kerja.
Raza menceritakan hal yang ia suka dari startup adalah budaya kerja yang fleksibel serta komunikasi yang terbuka.
"Saya didorong untuk memiliki ownership terhadap pekerjaan saya, sehingga saya bisa mengatur jam kerja dan menyelaraskannya dengan jadwal kehidupan saya asalkan pekerjaan dan target OKR (Objectives and Key Results) saya tercapai dengan baik," ujarnya.
Meski memberi penghasilan dan keuntungan yang menggiurkan, toh Raza tidak memungkiri beban kerja serta target perusahaan sering terlalu tinggi. Karena itulah agar tak tertinggal, ia perlu menjaga ritme kerja cepat agar bisa mencapai target.
Sementara itu, Nana, salah satu karyawan startup di bidang kesehatan mengaku menyukai bekerja di startup karena budaya kerja yang dinamis, selalu memunculkan ide baru, fleksibel, dan menghargai pendapat setiap pekerja. Selain itu, Nana juga menyukai startup karena beroperasi tidak dengan cara manual, tetapi dengan teknologi.
"Sebelum di startup, aku pernah di corporate dan aku enggak terlalu suka budayanya yang memang pergerakannya sangat lama," ujar Nana.
Namun, Nana mengatakan di balik perubahan yang cepat, di startup juga terjadi turnover atau perputaran keluar dan masuknya karyawan juga kilat. Biasanya, karyawan hanya bertahan dalam waktu tiga hingga enam bulan.
Meski memberikan banyak keuntungan, namun bekerja di startup bukan tanpa risiko. Salah satu yang mengemuka belakangan ini adalah PHK yang bisa terjadi kapan saja.
Badai ini setidaknya sudah menimpa karyawan startup seperti; Linkja, Shopee, TaniHub, hingga Binar Academy.
Tak hanya melakukan PHK, beberapa startup bahkan menyatakan gulung tikar. Beberapa pekan lalu, startup furnitur, Fabelio mengumumkan secara resmi menutup seluruh unit usahanya di Indonesia.
Alasan melakukan PHK pun beragam. Ada yang berdalih karena melakukan perubahan strategi usaha, hingga penghematan karena perusahaan bersiap untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi di tahun depan.
Melihat fenomena itu, Razan memang sempat mengaku khawatir. Tetapi ia berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya.
Ia menceritakan pernah menjadi korban PHK di sebuah startup. Lalu dua bulan kemudian kembali mendapat pekerja di startup lainnya.
Ditambah lagi, uang pesangon yang diberikan kepadanya saat itu juga cukup besar.
"Ketika saya bekerja di startup, opsi PHK itu sudah ada di pikiran saya, sehingga saya sudah mengelola ekspektasi dengan baik soal PHK startup dan membuat back up plan apa yang harus saya lakukan jika hal itu terjadi lagi," ujarnya.
Segendang sepenarian dengan Razan, Nana mengaku tak khawatir dengan maraknya startup yang melakukan PHK. Ia menilai kondisi setiap startup berbeda.
Nana menceritakan startup tempatnya bekerja cukup bijak dalam merekrut pekerja. Mereka tidak merekrut secara besar-besaran tetapi menyesuaikan dengan fungsi yang dibutuhkan. Dengan begitu, PHK bisa dihindari.
"Jadi memang sudah diprediksi sejak tahun kemarin sebenarnya untuk lebih bijak lagi dalam merekrut, lebih melihat lagi fungsinya apa," ujarnya.
Di sisi lain, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Ebi Junaidi mengatakan startup memiliki model bisnis yang sangat relevan dengan kondisi selama covid-19 di mana hampir setiap hal dilakukan secara daring. Namun, saat kondisi mulai membaik dan masyarakat kembali beraktivitas secara langsung, model bisnis startup perlahan mulai tidak relevan.
"Misalnya Sayur Box dulu relevan sekali karena kita enggak berani keluar belanja, sekarang pandemi berakhir menjadi kurang relevan," ujarnya.
Ebi menjelaskan saat bisnis startup berkembang pesat di awal. Karena itu, perusahaan cenderung melakukan rekrutmen secara besar-besaran. Seiring dengan model bisnis yang semakin tak relevan dan menurunnya pendapatan, startup mau tak mau harus melakukan PHK.
Sementara itu, Konsultan dan Pengamat Bisnis Djoko Kurniawan melihat badai PHK terjadi karena karena target yang ditetapkan startup tidak tercapai. PHK kemudian menjadi jalan yang ditempuh demi menjaga arus kas perusahaan.
"Jadi PHK dilakukan untuk penyelamatan perusahaan agar bisa bertahan sambil menata ulang bisnis mereka," ujarnya.
Djoko menambahkan PHK juga dilakukan sebagai upaya untuk beradaptasi dengan kondisi ekonomi saat ini yang diliputi ketidakpastian.
Kendati, Djoko mengatakan startup masih memiliki peluang untuk terus tumbuh di waktu mendatang. Namun sektor dan strategi yang dipilih harus tepat.
Ia mengatakan sebuah startup akan berhasil jika mampu memenuhi kebutuhan pasar. Jika tidak, maka mereka tidak akan memiliki peluang untuk berkembang
"Jadi dalam bisnis startup, harus jeli dalam melihat problem yang terjadi di market dan harus mampu memberikan solusi terbaik sehingga akan menjadi pilihan target market," ujarnya.
Perusahaan rintisan (startup) belakangan menjadi incaran banyak pekerja, terutama kaum muda. Startup yang identik dengan teknologi mendadak menjadi primadona bagi anak muda yang juga tak bisa lepas dari teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Tak heran, kaum muda atau milenial berlomba-lomba melamar kerja terutama di startup ternama seperti Gojek, Shopee, Tokopedia, dan lainnya.
Razan, salah satu pekerja di startup teknologi asuransi mengatakan alasannya memilih bekerja di dunia startup adalah karena ruang untuk berkembang yang sangat besar. Setiap tantangan selama bekerja di startup membuatnya terus meningkatkan kemampuan diri.
"Saya merasa selama sekitar 5 tahun bekerja di startup, saya sangat berkembang secara pribadi maupun profesional," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (22/10).
Selain itu, gaji dan keuntungan lainnya juga menjadi faktor yang membuatnya memilih startup sebagai tempat kerja.
Raza menceritakan hal yang ia suka dari startup adalah budaya kerja yang fleksibel serta komunikasi yang terbuka.
"Saya didorong untuk memiliki ownership terhadap pekerjaan saya, sehingga saya bisa mengatur jam kerja dan menyelaraskannya dengan jadwal kehidupan saya asalkan pekerjaan dan target OKR (Objectives and Key Results) saya tercapai dengan baik," ujarnya.
Meski memberi penghasilan dan keuntungan yang menggiurkan, toh Raza tidak memungkiri beban kerja serta target perusahaan sering terlalu tinggi. Karena itulah agar tak tertinggal, ia perlu menjaga ritme kerja cepat agar bisa mencapai target.
Sementara itu, Nana, salah satu karyawan startup di bidang kesehatan mengaku menyukai bekerja di startup karena budaya kerja yang dinamis, selalu memunculkan ide baru, fleksibel, dan menghargai pendapat setiap pekerja. Selain itu, Nana juga menyukai startup karena beroperasi tidak dengan cara manual, tetapi dengan teknologi.
"Sebelum di startup, aku pernah di corporate dan aku enggak terlalu suka budayanya yang memang pergerakannya sangat lama," ujar Nana.
Namun, Nana mengatakan di balik perubahan yang cepat, di startup juga terjadi turnover atau perputaran keluar dan masuknya karyawan juga kilat. Biasanya, karyawan hanya bertahan dalam waktu tiga hingga enam bulan.
Meski memberikan banyak keuntungan, namun bekerja di startup bukan tanpa risiko. Salah satu yang mengemuka belakangan ini adalah PHK yang bisa terjadi kapan saja.
Badai ini setidaknya sudah menimpa karyawan startup seperti; Linkja, Shopee, TaniHub, hingga Binar Academy.
Tak hanya melakukan PHK, beberapa startup bahkan menyatakan gulung tikar. Beberapa pekan lalu, startup furnitur, Fabelio mengumumkan secara resmi menutup seluruh unit usahanya di Indonesia.
Alasan melakukan PHK pun beragam. Ada yang berdalih karena melakukan perubahan strategi usaha, hingga penghematan karena perusahaan bersiap untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi di tahun depan.
Melihat fenomena itu, Razan memang sempat mengaku khawatir. Tetapi ia berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya.
Ia menceritakan pernah menjadi korban PHK di sebuah startup. Lalu dua bulan kemudian kembali mendapat pekerja di startup lainnya.
Ditambah lagi, uang pesangon yang diberikan kepadanya saat itu juga cukup besar.
"Ketika saya bekerja di startup, opsi PHK itu sudah ada di pikiran saya, sehingga saya sudah mengelola ekspektasi dengan baik soal PHK startup dan membuat back up plan apa yang harus saya lakukan jika hal itu terjadi lagi," ujarnya.
Segendang sepenarian dengan Razan, Nana mengaku tak khawatir dengan maraknya startup yang melakukan PHK. Ia menilai kondisi setiap startup berbeda.
Nana menceritakan startup tempatnya bekerja cukup bijak dalam merekrut pekerja. Mereka tidak merekrut secara besar-besaran tetapi menyesuaikan dengan fungsi yang dibutuhkan. Dengan begitu, PHK bisa dihindari.
"Jadi memang sudah diprediksi sejak tahun kemarin sebenarnya untuk lebih bijak lagi dalam merekrut, lebih melihat lagi fungsinya apa," ujarnya.
Peluang Tumbuh Startup di Masa Depan
Meski sekarang badai PHK sedang mengintai karyawan startup tapi pengamat yakin di masa depan bekerja di perusahaan rintisan cukup menjanjikan. , (Pixabay/StartupStockPhotos).
Di sisi lain, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Ebi Junaidi mengatakan startup memiliki model bisnis yang sangat relevan dengan kondisi selama covid-19 di mana hampir setiap hal dilakukan secara daring. Namun, saat kondisi mulai membaik dan masyarakat kembali beraktivitas secara langsung, model bisnis startup perlahan mulai tidak relevan.
"Misalnya Sayur Box dulu relevan sekali karena kita enggak berani keluar belanja, sekarang pandemi berakhir menjadi kurang relevan," ujarnya.
Ebi menjelaskan saat bisnis startup berkembang pesat di awal. Karena itu, perusahaan cenderung melakukan rekrutmen secara besar-besaran. Seiring dengan model bisnis yang semakin tak relevan dan menurunnya pendapatan, startup mau tak mau harus melakukan PHK.
Sementara itu, Konsultan dan Pengamat Bisnis Djoko Kurniawan melihat badai PHK terjadi karena karena target yang ditetapkan startup tidak tercapai. PHK kemudian menjadi jalan yang ditempuh demi menjaga arus kas perusahaan.
"Jadi PHK dilakukan untuk penyelamatan perusahaan agar bisa bertahan sambil menata ulang bisnis mereka," ujarnya.
Djoko menambahkan PHK juga dilakukan sebagai upaya untuk beradaptasi dengan kondisi ekonomi saat ini yang diliputi ketidakpastian.
Kendati, Djoko mengatakan startup masih memiliki peluang untuk terus tumbuh di waktu mendatang. Namun sektor dan strategi yang dipilih harus tepat.
Ia mengatakan sebuah startup akan berhasil jika mampu memenuhi kebutuhan pasar. Jika tidak, maka mereka tidak akan memiliki peluang untuk berkembang
"Jadi dalam bisnis startup, harus jeli dalam melihat problem yang terjadi di market dan harus mampu memberikan solusi terbaik sehingga akan menjadi pilihan target market," ujarnya.