Performa IHSG secara year to date naik 4,24 persen dari tahun lalu. Namun, jika dilihat dalam enam bulan terakhir, IHSG justru menurun 1,19 persen. (ANTARAFOTO/PUSPA PERWITASARI).
Jakarta, CNN Indonesia --
Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka dengan positif pada awal tahun dengan kenaikan 83,82 poin atau naik 1,27 persen ke level 6.665, Senin (3/1).
Kala itu, investor melakukan transaksi sebesar Rp9,77 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 21,68 miliar saham. Pelaku pasar asing mencatatkan jual bersih atau net sell di seluruh pasar sebesar Rp344,68 miliar.
Padahal, IHSG ditutup melemah 19,19 poin atau 0,29 persen pada pekan sebelumnya atau Kamis (30/12/2021), akibat bayang-bayang Omicron yang saat itu kembali memuncak.
Dilansir dari RTI Infokom per 29 Desember 2022, catatan year-to-date performa IHSG naik 4,24 persen dari tahun lalu. Namun, jika dilihat performa enam bulan terakhir, IHSG justru menurun sebesar 1,19 persen.
Sama halnya dengan catatan 6 bulan terakhir, IHSG terpantau minus 2,50 persen dan sebulan terakhir memiliki rata-rata minus 2,29 persen.
Sementara, jika ditilik lebih jauh dari investor chart, selama tiga bulan terakhir tercatat investor asing menjual bersih (net sell) sebesar minus Rp6,25 triliun. Sedangkan, enam bulan terakhir mencapai Rp7,16 triliun.
Performa itu terbukti dengan IHSG ditutup di level 6.968 pada Senin (1/8) ini. Indeks saham menguat 17,66 poin atau 0,25 persen dibandingkan Jumat (29/7) kemarin.
Mengutip RTI Infokom, investor bertransaksi sebesar Rp14,84 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 25,49 miliar saham.
Secara akumulatif 30 hari terakhir penjualan bursa, tercatat 14 hari di antaranya bursa ambruk dengan rata-rata 8,27 persen. Sedangkan 9 hari lainnya menguat 6,07 persen. Artinya selama 30 hari terakhir, bursa minus 2,20 persen.
Jika merinci perjalanan bursa saham sepanjang 2022, tercatat pada akhir Januari atau Jumat (28/1), IHSG ditutup di level 6.645 atau naik 34,35 poin atau 0,52 persen dibanding hari sebelumnya.
Pada pengujung Februari, perdagangan juga ditutup menguat pada perdagangan Jumat (25/2). Indeks saham mendarat di level 6.888 setelah naik 70,351 poin atau naik 1,03 persen.
Selang sebulan, IHSG ditutup di level 7.071 pada Kamis (31/3). Indeks saham naik 18,25 poin atau 0,26 persen dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya.
Kenaikan ini terus berlangsung hingga pengujung April, IHSG ditutup di level 7.229 pada Kamis (28/4). Indeks saham menguat 32,15 poin atau 0,45 persen dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya.
Kenaikan ini secara berturut-turut masih terjadi pada penutupan Mei. IHSG berada di level 7.148, naik 111,4 poin atau 1,58 persen, Selasa (31/5).
Kejayaan ini mulai menurun pada pengujung Juni, IHSG ditutup di level 6.911 pada Kamis (30/6). Indeks saham melemah 30,76 poin atau 0,44 persen dibandingkan Rabu.
Penurunan juga terjadi pada Juli, di mana IHSG ditutup di level 6.951 pada Jumat (29/7). Indeks saham menurun 5,6 poin atau 0,08 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Kala itu terpantau, 7 dari 11 indeks sektoral melemah dengan sektor kesehatan paling anjlok, yakni 2,66 persen.
Selama April-Juli, meski IHSG ditutup dengan membaik, namun level saham terus menurun. Untungnya, sebulan kemudian, IHSG membaik dan ditutup di level 7.178 pada Rabu (31/8). Indeks saham menguat 19,11 poin atau 0,27 persen dibandingkan sebelumnya.
Kemudian, IHSG kembali ditutup di level 7.040 pada akhir September, Jumat (30/9). Indeks saham menguat tipis 4,6 poin atau plus 0,07 persen dari perdagangan sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan perdagangan bulan lalu, IHSG mengalami penurunan.
Selang sebulan, bursa ditutup di level 7.098 pada Senin (31/10). Indeks saham menguat 42,85 poin atau plus 0,61 persen dari perdagangan sebelumnya. Level ini juga terdongkrak ketimbang bulan sebelumnya.
Namun, pengujung November ditutup di level 7.081 pada Rabu (30/11) sore. Indeks saham menguat 69,24 poin atau plus 0,99 persen dari perdagangan sebelumnya. Meskipun, dibanding poin penutupan bulan sebelumnya, IHSG kembali mengalami penurunan.
Terakhir, pada penutupan perdagangan bulan ini, Jumat (30/12) IHSG berada di level 6.850. Indeks saham kembali loyo 9,45 poin atau minus 0,14 persen dari perdagangan sebelumnya.
Analis saham Alfred Nainggolan mengungkapkan sejumlah faktor pergerakan IHSG sepanjang tahun ini dipengaruhi beberapa isu utama. Pertama, kebijakan suku bunga bank sentral global.
"Kedua, dampak perang atau konflik Ukraina dan Rusia yang mempengaruhi supply chain termasuk komoditi. Akibatnya, ketiga, adalah kenaikan harga komiditi," ujar Alfred ketika dihubungi CNNIndonesia.com hari ini.
Sementara, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya memaparkan sejumlah momen penting yang memengaruhi pergerakan IHSG. Sejak awal tahun, pada Januari ia mencatat adanya pengaruh akibat vaksinasi booster covid-19.
Sebulan kemudian, invasi Rusia ke Ukraina juga mengganggu supply chain dan kenaikan harga komoditas. Terlebih, pada Mei 2022, masyarakat Indonesia kembali merayakan Idulfitri pertama kali setelah dua tahun pandemi covid-19.
"Lebih lagi, libur panjang yang dimulai pada 1 Mei 2022 dimanfaatkan masyarakat untuk berwisata baik ke domestik dan internasional. Pelaku pasar khawatir bahwa jumlah kasus covid-19 akan meroket pasca lebaran, menyebabkan IHSG anjlok hingga akhir Mei," ucapnya.
Kemudian, antara Juli-Agustus sejumlah emiten mencatatkan pertumbuhan laba pada kuartal II 2022.
"Indonesia membukukan pertumbuhan ekonomi 2Q22 yang lebih tinggi dari perkiraan sebesar 5,44 persen year-on-year (yoy) dibandingkan ekspektasi konsensus 5,17 persen yoy pada 5 Agustus 2022. Kombinasi itu mendongkrak IHSG dari Juli hingga September 2022," papar Hariyanto.
Sementara, faktor terakhir kenaikan harga BBM adalah kebijakan Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga pertama kali pada 23 Agustus 2022. Kenaikan ini merupakan pertama kali diambil dari 3,5 persen selama 1,5 tahun pandemi.
"Kenaikan ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas Rupiah dan momentum pemulihan sekaligus meredam laju peningkatan inflasi dengan menyerap likuiditas di pasar," tuturnya.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka dengan positif pada awal tahun dengan kenaikan 83,82 poin atau naik 1,27 persen ke level 6.665, Senin (3/1).
Kala itu, investor melakukan transaksi sebesar Rp9,77 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 21,68 miliar saham. Pelaku pasar asing mencatatkan jual bersih atau net sell di seluruh pasar sebesar Rp344,68 miliar.
Padahal, IHSG ditutup melemah 19,19 poin atau 0,29 persen pada pekan sebelumnya atau Kamis (30/12/2021), akibat bayang-bayang Omicron yang saat itu kembali memuncak.
Dilansir dari RTI Infokom per 29 Desember 2022, catatan year-to-date performa IHSG naik 4,24 persen dari tahun lalu. Namun, jika dilihat performa enam bulan terakhir, IHSG justru menurun sebesar 1,19 persen.
Sama halnya dengan catatan 6 bulan terakhir, IHSG terpantau minus 2,50 persen dan sebulan terakhir memiliki rata-rata minus 2,29 persen.
Sementara, jika ditilik lebih jauh dari investor chart, selama tiga bulan terakhir tercatat investor asing menjual bersih (net sell) sebesar minus Rp6,25 triliun. Sedangkan, enam bulan terakhir mencapai Rp7,16 triliun.
Performa itu terbukti dengan IHSG ditutup di level 6.968 pada Senin (1/8) ini. Indeks saham menguat 17,66 poin atau 0,25 persen dibandingkan Jumat (29/7) kemarin.
Mengutip RTI Infokom, investor bertransaksi sebesar Rp14,84 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 25,49 miliar saham.
Secara akumulatif 30 hari terakhir penjualan bursa, tercatat 14 hari di antaranya bursa ambruk dengan rata-rata 8,27 persen. Sedangkan 9 hari lainnya menguat 6,07 persen. Artinya selama 30 hari terakhir, bursa minus 2,20 persen.
Jika merinci perjalanan bursa saham sepanjang 2022, tercatat pada akhir Januari atau Jumat (28/1), IHSG ditutup di level 6.645 atau naik 34,35 poin atau 0,52 persen dibanding hari sebelumnya.
Pada pengujung Februari, perdagangan juga ditutup menguat pada perdagangan Jumat (25/2). Indeks saham mendarat di level 6.888 setelah naik 70,351 poin atau naik 1,03 persen.
Selang sebulan, IHSG ditutup di level 7.071 pada Kamis (31/3). Indeks saham naik 18,25 poin atau 0,26 persen dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya.
Kenaikan ini terus berlangsung hingga pengujung April, IHSG ditutup di level 7.229 pada Kamis (28/4). Indeks saham menguat 32,15 poin atau 0,45 persen dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya.
Kenaikan ini secara berturut-turut masih terjadi pada penutupan Mei. IHSG berada di level 7.148, naik 111,4 poin atau 1,58 persen, Selasa (31/5).
Kejayaan ini mulai menurun pada pengujung Juni, IHSG ditutup di level 6.911 pada Kamis (30/6). Indeks saham melemah 30,76 poin atau 0,44 persen dibandingkan Rabu.
Penurunan juga terjadi pada Juli, di mana IHSG ditutup di level 6.951 pada Jumat (29/7). Indeks saham menurun 5,6 poin atau 0,08 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Kala itu terpantau, 7 dari 11 indeks sektoral melemah dengan sektor kesehatan paling anjlok, yakni 2,66 persen.
Selama April-Juli, meski IHSG ditutup dengan membaik, namun level saham terus menurun. Untungnya, sebulan kemudian, IHSG membaik dan ditutup di level 7.178 pada Rabu (31/8). Indeks saham menguat 19,11 poin atau 0,27 persen dibandingkan sebelumnya.
Pergerakan IHSG dipengaruhi covid-19 hingga suku bunga bank global
Performa IHSG secara year to date naik 4,24 persen dari tahun lalu. Namun, jika dilihat dalam enam bulan terakhir, IHSG justru menurun 1,19 persen. (Adhi Wicaksono).
Kemudian, IHSG kembali ditutup di level 7.040 pada akhir September, Jumat (30/9). Indeks saham menguat tipis 4,6 poin atau plus 0,07 persen dari perdagangan sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan perdagangan bulan lalu, IHSG mengalami penurunan.
Selang sebulan, bursa ditutup di level 7.098 pada Senin (31/10). Indeks saham menguat 42,85 poin atau plus 0,61 persen dari perdagangan sebelumnya. Level ini juga terdongkrak ketimbang bulan sebelumnya.
Namun, pengujung November ditutup di level 7.081 pada Rabu (30/11) sore. Indeks saham menguat 69,24 poin atau plus 0,99 persen dari perdagangan sebelumnya. Meskipun, dibanding poin penutupan bulan sebelumnya, IHSG kembali mengalami penurunan.
Terakhir, pada penutupan perdagangan bulan ini, Jumat (30/12) IHSG berada di level 6.850. Indeks saham kembali loyo 9,45 poin atau minus 0,14 persen dari perdagangan sebelumnya.
Analis saham Alfred Nainggolan mengungkapkan sejumlah faktor pergerakan IHSG sepanjang tahun ini dipengaruhi beberapa isu utama. Pertama, kebijakan suku bunga bank sentral global.
"Kedua, dampak perang atau konflik Ukraina dan Rusia yang mempengaruhi supply chain termasuk komoditi. Akibatnya, ketiga, adalah kenaikan harga komiditi," ujar Alfred ketika dihubungi CNNIndonesia.com hari ini.
Sementara, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya memaparkan sejumlah momen penting yang memengaruhi pergerakan IHSG. Sejak awal tahun, pada Januari ia mencatat adanya pengaruh akibat vaksinasi booster covid-19.
Sebulan kemudian, invasi Rusia ke Ukraina juga mengganggu supply chain dan kenaikan harga komoditas. Terlebih, pada Mei 2022, masyarakat Indonesia kembali merayakan Idulfitri pertama kali setelah dua tahun pandemi covid-19.
"Lebih lagi, libur panjang yang dimulai pada 1 Mei 2022 dimanfaatkan masyarakat untuk berwisata baik ke domestik dan internasional. Pelaku pasar khawatir bahwa jumlah kasus covid-19 akan meroket pasca lebaran, menyebabkan IHSG anjlok hingga akhir Mei," ucapnya.
Kemudian, antara Juli-Agustus sejumlah emiten mencatatkan pertumbuhan laba pada kuartal II 2022.
"Indonesia membukukan pertumbuhan ekonomi 2Q22 yang lebih tinggi dari perkiraan sebesar 5,44 persen year-on-year (yoy) dibandingkan ekspektasi konsensus 5,17 persen yoy pada 5 Agustus 2022. Kombinasi itu mendongkrak IHSG dari Juli hingga September 2022," papar Hariyanto.
Sementara, faktor terakhir kenaikan harga BBM adalah kebijakan Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga pertama kali pada 23 Agustus 2022. Kenaikan ini merupakan pertama kali diambil dari 3,5 persen selama 1,5 tahun pandemi.
"Kenaikan ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas Rupiah dan momentum pemulihan sekaligus meredam laju peningkatan inflasi dengan menyerap likuiditas di pasar," tuturnya.