45 Pensiunan TNI-Polri Jadi Komisaris BUMN, Bisakah Memberi Manfaat?
Sakti Darma Abhiyoso | CNN Indonesia
Selasa, 17 Jun 2025 07:48 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pengamat memperkirakan keberadaan purnawirawan TNI-Polri di BUMN tidak akan berdampak apa-apa karena merunut sejarah bisnis militer banyak yang bangkrut juga. ( CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah mengobral kursi empuk untuk purnawirawan TNI dan Polri di Dewan Komisaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com, ternyata ada 45 purnawirawan yang menjadi komisaris di berbagai perusahaan pelat merah itu.
Jumlahnya tak termasuk di anak usaha holding BUMN. Pengecualian hanya berlaku untuk perusahaan di bawah PT Len Industri (Persero) alias DEFEND ID sebagai induk BUMN industri pertahanan serta PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID yang merupakan holding tambang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mungkin memang masih wajar jika urusan pertahanan dipercayakan kepada mantan prajurit. Namun, ternyata masalah tambang sampai pangan juga dalam cengkeraman purnawirawan. TNI atau Polri, mereka sama-sama mengambil porsi cukup dominan.
Contohnya, Nugroho Widyotomo selaku purnawirawan bintang tiga TNI yang menduduki kursi Komisaris Independen MIND ID. Holding BUMN tambang itu bahkan menunjuk anggota Polri aktif, yakni Komjen Muhammad Fadil Imran sebagai Komisaris.
Fadil diketahui masih menjadi Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri.
Ada juga 3 purnawirawan yang memegang peran penting dalam urusan beras dengan duduk di kursi Anggota Independen Dewan Pengawas Perum Bulog. Mereka adalah Mayjen TNI (Purn.) Arifin Seman; Letjen TNI (Purn.) Andi Geerhan Lantara; dan Komjen Pol (Purn.) Verdianto Iskandar Bitticaca.
Begitu pula di PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) alias ID FOOD yang tak luput dari kelap-kelip bintang. Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen induk BUMN pangan itu adalah Mayjen TNI (Purn.) Fransiskus Xaverius Suhartono Suratman.
Sedangkan posisi Komisaris ditempati Irjen Pol (Purn.) Budiono Sandi.
Lantas, apa maslahat dan mudarat eksistensi purnawirawan TNI-Polri di BUMN, terlebih, semua perusahaan pelat merah baru-baru ini bermigrasi ke Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara)?
Sekretaris Jenderal Transparency International (TI) Indonesia J Danang Widoyoko melihat fenomena ini bukan untuk kepentingan bisnis BUMN. Menurutnya, penempatan pensiunan TNI dan Polri murni sebagai urusan politik.
"Ini bentuk patronase. Jadi, yang berkuasa memberikan pekerjaan atau jabatan ke para pendukung sebagai imbalan dari dukungan politik," kata Danang kepada CNNIndonesia.com, Senin (16/6).
"Tidak perlu mereka cakap atau tidak, punya skill relevan atau tidak, juga bukan untuk BUMN akan untung atau tidak. Ini semata-mata relasi patronase untuk memelihara dukungan bagi pemegang kekuasaan," tegasnya.
Danang secara spesifik mempertanyakan bagaimana mantan prajurit itu bisa bercokol di BUMN pangan. Ia menilai tidak ada hubungan dan korelasi hadirnya purnawirawan dalam pos tersebut.
Apalagi, jika dipaksakan dengan narasi menjaga ketahanan pangan Indonesia.
Ia menyebut militer bukan satu-satunya pihak dengan etos kerja. Militer yang berprestasi tentu punya disiplin luar biasa di bidang pertahanan.
Akan tetapi tambahnya, masalah bisnis bisa ditangani manajer yang bertahun-tahun belajar dan mengerjakan operasional perusahaan.
"Ketika dipindah ke sektor lain, apakah (TNI-Polri) akan berguna atau tidak? Saya kira kita perlu merunut sejarah. Banyak bisnis militer yang bangkrut dan bubar saat diterpa krisis 1998. Kalau tidak ada krisis, mungkin BUMN baik-baik saja. Tetapi pengalaman bisnis di bawah yayasan dan koperasi TNI menunjukkan bisa rugi (ketika ada krisis) dan akhirnya bubar atau dijual ke pihak lain," jelasnya.
Danang menyarankan tujuan BUMN ke depan sudah semestinya diperjelas. Ia mencontohkan bagaimana perusahaan swasta bertekad mencetak profit sebesar-besarnya.
Nah berkaitan dengan hal ini, seharusnya pemerintah juga demikian; mau menjadikan BUMN apa?
Ia melihat perusahaan pelat merah justru sering tidak jelas dalam menetapkan tujuan bisnis, apakah BUMN dibuat untuk mencari keuntungan, memberikan pelayanan publik, atau malah bertahan hanya demi memelihara dukungan politik dan mengumpulkan modal untuk pemilihan umum (Pemilu).
"Ketidakjelasan tujuan ini yang membuat kinerja BUMN pada umumnya berada di bawah perusahaan swasta di sektor yang sama," bebernya.
"Barangkali kalau kita berprasangka baik, penempatan pensiunan itu ya agar mereka berkontribusi. Tetapi untuk kontribusi mestinya yang sesuai bidang dan masih segar, bukan pensiunan tidak produktif. Dengan melemahnya atau diterabasnya aturan conflict of interest, maka Danantara, BUMN, dan proyek-proyek investasinya akan rentan jadi ajang memburu rente," wanti-wanti Danang.
Sementara itu, Peneliti NEXT Indonesia Herry Gunawan menegaskan urusan korporasi mutlak menjadi ranah sipil. Ia menilai sama sekali tidak ada urgensi menempatkan purnawirawan TNI dan Polri di kursi Dewan Komisaris BUMN.
Dispensasi non-sipil, menurutnya, hanya bisa dimaklumi untuk industri yang terkait dengan pertahanan semacam DEFEND ID. Oleh karena itu, para mantan prajurit tidak sepatutnya menguasai energi, pangan, maupun sektor selain pertahanan militer.
Ada 3 makna yang dipotret Herry dari hadirnya purnawirawan TNI-Polri di BUMN.
Pertama, BUMN masih menjadi komoditas politik. Para pensiunan yang malah mengisi hari tua di perusahaan pelat merah dianggap sebagai aksi bagi-bagi jatah kepada para relawan.
"Jangan-jangan, BUMN malah dianggap sebagai harta rampasan perang," kritik Herry.
Kedua, ia menegaskan sulit untuk mengatakan bahwa BUMN merdeka dari intervensi politik. Sedangkan makna ketiga yang ditangkapnya adalah ekspresi penempatan circle atau orang-orang terdekat kekuasaan di sektor bisnis korporasi.
Ia menganggap BUMN diharapkan menjadi simpul bisnis atau ekonomi dalam ekosistem kekuasaan yang umumnya sudah menguasai wilayah politik maupun hukum.
Pada akhirnya, itu mengaburkan klaim BUMN bisa berjalan lebih baik di bawah pengaruh purnawirawan.
Menurutnya, masyarakat sipil justru lebih terlatih di korporasi ketimbang TNI dan Polri. Ia juga mengingatkan bahwa selama ini sudah ada program Talent Pool yang digembar-gemborkan Kementerian BUMN sebagai ajang menyiapkan talenta untuk suksesi kepemimpinan.
Talent Pool bahkan tertuang dalam Peraturan Menteri BUMN No. PER-1/MBU/03/2023 tentang Penugasan Khusus dan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan BUMN. Isi beleid itu jelas, salah satunya menegaskan bahwa suksesi direksi diambil dari Talent Pool.
"Ternyata (Talent Pool) hanya berlaku di atas kertas dan jargon. Nyatanya, pimpinan BUMN bisa datang dari mana saja: politisi, pensiunan TNI, maupun pensiunan Polri," katanya.
Di lain sisi, Herry mewanti-wanti betapa besarnya potensi konflik kepentingan dengan adanya campur tangan purnawirawan.
Isyarat conflict of interest juga tampak dari penunjukan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi BUMN era Presiden Prabowo Subianto. Masuknya gerbong pensiunan TNI/Polri serta politisi dinilai sebagai bentuk distribusi kekuasaan.
"Karena itu, hasilnya akan banyak dinikmati oleh yang mendistribusikan kekuasaan tersebut, bukan untuk masyarakat. Dengan kata lain, distribusi kesejahteraan akan berputar di lingkaran kekuasaan," ungkap Herry.
"Menurut saya, perkembangan yang terjadi saat ini di lingkungan BUMN merupakan preseden buruk bagi pengelolaan BUMN oleh Danantara. Padahal, ketika pemerintah membentuk Danantara, ada harapan BUMN akan dikelola lebih baik, setidaknya lebih profesional. Faktanya, justru lebih buruk," tuturnya.
Ia mengkritisi bagaimana para profesional di lingkungan bisnis justru dipaksa minggir dan diparkir. Sedangkan pemerintah memilih memberikan karpet merah bagi aktor politik maupun pensiunan TNI/Polri.
"Kondisi ini akan semakin menurunkan tingkat kepercayaan publik maupun investor kepada Danantara. Ini sekaligus menjelaskan bahwa Danantara terlalu lekat dengan politik ketimbang profesionalisme dalam bisnis," ucapnya mengingatkan.
Daftar 45 pensiunan TNI dan Polri yang mengisi kursi komisaris BUMN:
1. Komisaris Independen MIND ID Letjen TNI (Purn.) Nugroho Widyotomo 2. Komisaris Utama dan Komisaris Independen Pertamina Komjen Pol (Purn.) Mochamad Iriawan 3. Komisaris Pertamina Letjen TNI (Mar) (Purn.) Bambang Suswantono 4. Komisaris Independen Pertamina Komjen Pol (Purn.) Condro Kirono 5. Komisaris Telkom Indonesia Mayor TNI (Purn.) Ossy Dermawan 6. Komisaris Independen PLN Irjen Pol (Purn.) Yazid Fanani 7. Komisaris Independen PLN Marsma TNI (Purn.) Mutanto Juwono 8. Komisaris Utama Pelindo Laksamana TNI (Purn.) Agus Suhartono 9. Wakil Komisaris Utama Pelindo Komjen Pol (Purn.) Suntana 10. Komisaris Independen Jasa Marga Mayjen TNI (Purn.) Nachrowi Ramli 11. Komisaris Independen Jasa Marga Irjen Pol (Purn.) Rudi Antariksawan 12. Anggota Dewan Pengawas Perum Peruri Komjen Pol (Purn.) Sutanto 13. Komisaris Independen Wijaya Karya (WIKA) Mayjen TNI (Purn.) Rusmanto 14. Komisaris Utama Hutama Karya Laksamana TNI (Purn.) Yudo Margono 15. Komisaris Independen Hutama Karya Irjen Pol (Purn.) Agung Sabar Santoso 16. Komisaris Independen KAI Mayjen TNI (Purn.) Rochadi 17. Komisaris Utama/Komisaris Independen Garuda Indonesia Marsekal TNI (Purn.) Fadjar Prasetyo 18. Komisaris Garuda Indonesia Mayjen TNI (Purn.) Glenny Kairupan 19. Komisaris Independen PT PP Irjen Pol (Purn.) Istiono 20. Komisaris Utama Adhi Karya Mayjen TNI (Purn.) Dody Usodo Hargo 21. Anggota Independen Dewan Pengawas Perum Bulog Mayjen TNI (Purn.) Arifin Seman 22. Anggota Independen Dewan Pengawas Perum Bulog Letjen TNI (Purn.) Andi Geerhan Lantara 23. Anggota Independen Dewan Pengawas Perum Bulog Komjen Pol (Purn.) Verdianto Iskandar Bitticaca 24. Komisaris Independen DEFEND ID Mayjen TNI (Purn.) Eddy Syahputra Siahaan 25. Komisaris Independen DEFEND ID Mayjen TNI (Purn.) Arkamelvi Karmani 26. Komisaris Utama/Komisaris Independen ID FOOD Mayjen TNI (Purn.) Fransiskus Xaverius Suhartono Suratman 27. Komisaris ID FOOD Irjen Pol (Purn.) Budiono Sandi 28. Komisaris Utama PT Taspen Komjen Pol (Purn.) Suhardi Alius 29. Ketua Dewan Pengawas Perum DAMRI Irjen Pol (Purn.) Sam Budigusdian 30. Anggota Dewan Pengawas Independen Perum DAMRI Brigjen TNI (Purn.) Anwar Ende 31. Anggota Dewan Pengawas AirNav Indonesia Marsdya TNI (Purn.) Daryatmo.
Pemerintah mengobral kursi empuk untuk purnawirawan TNI dan Polri di Dewan Komisaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com, ternyata ada 45 purnawirawan yang menjadi komisaris di berbagai perusahaan pelat merah itu.
Jumlahnya tak termasuk di anak usaha holding BUMN. Pengecualian hanya berlaku untuk perusahaan di bawah PT Len Industri (Persero) alias DEFEND ID sebagai induk BUMN industri pertahanan serta PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID yang merupakan holding tambang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mungkin memang masih wajar jika urusan pertahanan dipercayakan kepada mantan prajurit. Namun, ternyata masalah tambang sampai pangan juga dalam cengkeraman purnawirawan. TNI atau Polri, mereka sama-sama mengambil porsi cukup dominan.
Contohnya, Nugroho Widyotomo selaku purnawirawan bintang tiga TNI yang menduduki kursi Komisaris Independen MIND ID. Holding BUMN tambang itu bahkan menunjuk anggota Polri aktif, yakni Komjen Muhammad Fadil Imran sebagai Komisaris.
Fadil diketahui masih menjadi Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri.
Ada juga 3 purnawirawan yang memegang peran penting dalam urusan beras dengan duduk di kursi Anggota Independen Dewan Pengawas Perum Bulog. Mereka adalah Mayjen TNI (Purn.) Arifin Seman; Letjen TNI (Purn.) Andi Geerhan Lantara; dan Komjen Pol (Purn.) Verdianto Iskandar Bitticaca.
Begitu pula di PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) alias ID FOOD yang tak luput dari kelap-kelip bintang. Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen induk BUMN pangan itu adalah Mayjen TNI (Purn.) Fransiskus Xaverius Suhartono Suratman.
Sedangkan posisi Komisaris ditempati Irjen Pol (Purn.) Budiono Sandi.
Lantas, apa maslahat dan mudarat eksistensi purnawirawan TNI-Polri di BUMN, terlebih, semua perusahaan pelat merah baru-baru ini bermigrasi ke Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara)?
Sekretaris Jenderal Transparency International (TI) Indonesia J Danang Widoyoko melihat fenomena ini bukan untuk kepentingan bisnis BUMN. Menurutnya, penempatan pensiunan TNI dan Polri murni sebagai urusan politik.
"Ini bentuk patronase. Jadi, yang berkuasa memberikan pekerjaan atau jabatan ke para pendukung sebagai imbalan dari dukungan politik," kata Danang kepada CNNIndonesia.com, Senin (16/6).
"Tidak perlu mereka cakap atau tidak, punya skill relevan atau tidak, juga bukan untuk BUMN akan untung atau tidak. Ini semata-mata relasi patronase untuk memelihara dukungan bagi pemegang kekuasaan," tegasnya.
Danang secara spesifik mempertanyakan bagaimana mantan prajurit itu bisa bercokol di BUMN pangan. Ia menilai tidak ada hubungan dan korelasi hadirnya purnawirawan dalam pos tersebut.
Apalagi, jika dipaksakan dengan narasi menjaga ketahanan pangan Indonesia.
Ia menyebut militer bukan satu-satunya pihak dengan etos kerja. Militer yang berprestasi tentu punya disiplin luar biasa di bidang pertahanan.
Akan tetapi tambahnya, masalah bisnis bisa ditangani manajer yang bertahun-tahun belajar dan mengerjakan operasional perusahaan.
"Ketika dipindah ke sektor lain, apakah (TNI-Polri) akan berguna atau tidak? Saya kira kita perlu merunut sejarah. Banyak bisnis militer yang bangkrut dan bubar saat diterpa krisis 1998. Kalau tidak ada krisis, mungkin BUMN baik-baik saja. Tetapi pengalaman bisnis di bawah yayasan dan koperasi TNI menunjukkan bisa rugi (ketika ada krisis) dan akhirnya bubar atau dijual ke pihak lain," jelasnya.
Danang menyarankan tujuan BUMN ke depan sudah semestinya diperjelas. Ia mencontohkan bagaimana perusahaan swasta bertekad mencetak profit sebesar-besarnya.
Nah berkaitan dengan hal ini, seharusnya pemerintah juga demikian; mau menjadikan BUMN apa?
Ia melihat perusahaan pelat merah justru sering tidak jelas dalam menetapkan tujuan bisnis, apakah BUMN dibuat untuk mencari keuntungan, memberikan pelayanan publik, atau malah bertahan hanya demi memelihara dukungan politik dan mengumpulkan modal untuk pemilihan umum (Pemilu).
"Ketidakjelasan tujuan ini yang membuat kinerja BUMN pada umumnya berada di bawah perusahaan swasta di sektor yang sama," bebernya.
"Barangkali kalau kita berprasangka baik, penempatan pensiunan itu ya agar mereka berkontribusi. Tetapi untuk kontribusi mestinya yang sesuai bidang dan masih segar, bukan pensiunan tidak produktif. Dengan melemahnya atau diterabasnya aturan conflict of interest, maka Danantara, BUMN, dan proyek-proyek investasinya akan rentan jadi ajang memburu rente," wanti-wanti Danang.
Sementara itu, Peneliti NEXT Indonesia Herry Gunawan menegaskan urusan korporasi mutlak menjadi ranah sipil. Ia menilai sama sekali tidak ada urgensi menempatkan purnawirawan TNI dan Polri di kursi Dewan Komisaris BUMN.
Dispensasi non-sipil, menurutnya, hanya bisa dimaklumi untuk industri yang terkait dengan pertahanan semacam DEFEND ID. Oleh karena itu, para mantan prajurit tidak sepatutnya menguasai energi, pangan, maupun sektor selain pertahanan militer.
Ada 3 makna yang dipotret Herry dari hadirnya purnawirawan TNI-Polri di BUMN.
Pertama, BUMN masih menjadi komoditas politik. Para pensiunan yang malah mengisi hari tua di perusahaan pelat merah dianggap sebagai aksi bagi-bagi jatah kepada para relawan.
"Jangan-jangan, BUMN malah dianggap sebagai harta rampasan perang," kritik Herry.
Kedua, ia menegaskan sulit untuk mengatakan bahwa BUMN merdeka dari intervensi politik. Sedangkan makna ketiga yang ditangkapnya adalah ekspresi penempatan circle atau orang-orang terdekat kekuasaan di sektor bisnis korporasi.
Ia menganggap BUMN diharapkan menjadi simpul bisnis atau ekonomi dalam ekosistem kekuasaan yang umumnya sudah menguasai wilayah politik maupun hukum.
Pada akhirnya, itu mengaburkan klaim BUMN bisa berjalan lebih baik di bawah pengaruh purnawirawan.
Menurutnya, masyarakat sipil justru lebih terlatih di korporasi ketimbang TNI dan Polri. Ia juga mengingatkan bahwa selama ini sudah ada program Talent Pool yang digembar-gemborkan Kementerian BUMN sebagai ajang menyiapkan talenta untuk suksesi kepemimpinan.
Talent Pool bahkan tertuang dalam Peraturan Menteri BUMN No. PER-1/MBU/03/2023 tentang Penugasan Khusus dan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan BUMN. Isi beleid itu jelas, salah satunya menegaskan bahwa suksesi direksi diambil dari Talent Pool.
"Ternyata (Talent Pool) hanya berlaku di atas kertas dan jargon. Nyatanya, pimpinan BUMN bisa datang dari mana saja: politisi, pensiunan TNI, maupun pensiunan Polri," katanya.
Tanda Distribusi Kesejahteraan Hanya di Lingkar Kekuasaan
Pengamat juga menyebut keberadaan purnawirawan TNI dan Polri justru membuat BUMN rawan konflik kepentingan yang bisa berdampak ke kinerja mereka. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Di lain sisi, Herry mewanti-wanti betapa besarnya potensi konflik kepentingan dengan adanya campur tangan purnawirawan.
Isyarat conflict of interest juga tampak dari penunjukan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi BUMN era Presiden Prabowo Subianto. Masuknya gerbong pensiunan TNI/Polri serta politisi dinilai sebagai bentuk distribusi kekuasaan.
"Karena itu, hasilnya akan banyak dinikmati oleh yang mendistribusikan kekuasaan tersebut, bukan untuk masyarakat. Dengan kata lain, distribusi kesejahteraan akan berputar di lingkaran kekuasaan," ungkap Herry.
"Menurut saya, perkembangan yang terjadi saat ini di lingkungan BUMN merupakan preseden buruk bagi pengelolaan BUMN oleh Danantara. Padahal, ketika pemerintah membentuk Danantara, ada harapan BUMN akan dikelola lebih baik, setidaknya lebih profesional. Faktanya, justru lebih buruk," tuturnya.
Ia mengkritisi bagaimana para profesional di lingkungan bisnis justru dipaksa minggir dan diparkir. Sedangkan pemerintah memilih memberikan karpet merah bagi aktor politik maupun pensiunan TNI/Polri.
"Kondisi ini akan semakin menurunkan tingkat kepercayaan publik maupun investor kepada Danantara. Ini sekaligus menjelaskan bahwa Danantara terlalu lekat dengan politik ketimbang profesionalisme dalam bisnis," ucapnya mengingatkan.
Daftar 45 pensiunan TNI dan Polri yang mengisi kursi komisaris BUMN:
1. Komisaris Independen MIND ID Letjen TNI (Purn.) Nugroho Widyotomo 2. Komisaris Utama dan Komisaris Independen Pertamina Komjen Pol (Purn.) Mochamad Iriawan 3. Komisaris Pertamina Letjen TNI (Mar) (Purn.) Bambang Suswantono 4. Komisaris Independen Pertamina Komjen Pol (Purn.) Condro Kirono 5. Komisaris Telkom Indonesia Mayor TNI (Purn.) Ossy Dermawan 6. Komisaris Independen PLN Irjen Pol (Purn.) Yazid Fanani 7. Komisaris Independen PLN Marsma TNI (Purn.) Mutanto Juwono 8. Komisaris Utama Pelindo Laksamana TNI (Purn.) Agus Suhartono 9. Wakil Komisaris Utama Pelindo Komjen Pol (Purn.) Suntana 10. Komisaris Independen Jasa Marga Mayjen TNI (Purn.) Nachrowi Ramli 11. Komisaris Independen Jasa Marga Irjen Pol (Purn.) Rudi Antariksawan 12. Anggota Dewan Pengawas Perum Peruri Komjen Pol (Purn.) Sutanto 13. Komisaris Independen Wijaya Karya (WIKA) Mayjen TNI (Purn.) Rusmanto 14. Komisaris Utama Hutama Karya Laksamana TNI (Purn.) Yudo Margono 15. Komisaris Independen Hutama Karya Irjen Pol (Purn.) Agung Sabar Santoso 16. Komisaris Independen KAI Mayjen TNI (Purn.) Rochadi 17. Komisaris Utama/Komisaris Independen Garuda Indonesia Marsekal TNI (Purn.) Fadjar Prasetyo 18. Komisaris Garuda Indonesia Mayjen TNI (Purn.) Glenny Kairupan 19. Komisaris Independen PT PP Irjen Pol (Purn.) Istiono 20. Komisaris Utama Adhi Karya Mayjen TNI (Purn.) Dody Usodo Hargo 21. Anggota Independen Dewan Pengawas Perum Bulog Mayjen TNI (Purn.) Arifin Seman 22. Anggota Independen Dewan Pengawas Perum Bulog Letjen TNI (Purn.) Andi Geerhan Lantara 23. Anggota Independen Dewan Pengawas Perum Bulog Komjen Pol (Purn.) Verdianto Iskandar Bitticaca 24. Komisaris Independen DEFEND ID Mayjen TNI (Purn.) Eddy Syahputra Siahaan 25. Komisaris Independen DEFEND ID Mayjen TNI (Purn.) Arkamelvi Karmani 26. Komisaris Utama/Komisaris Independen ID FOOD Mayjen TNI (Purn.) Fransiskus Xaverius Suhartono Suratman 27. Komisaris ID FOOD Irjen Pol (Purn.) Budiono Sandi 28. Komisaris Utama PT Taspen Komjen Pol (Purn.) Suhardi Alius 29. Ketua Dewan Pengawas Perum DAMRI Irjen Pol (Purn.) Sam Budigusdian 30. Anggota Dewan Pengawas Independen Perum DAMRI Brigjen TNI (Purn.) Anwar Ende 31. Anggota Dewan Pengawas AirNav Indonesia Marsdya TNI (Purn.) Daryatmo.