Harga Minyak Melemah Tersengat Sentimen dari AS

CNN Indonesia
Jumat, 29 Agu 2025 11:55 WIB
Harga minyak turun pada Jumat (30/8) tertekan peningkatan kekhawatiran pasar atas penurunan permintaan dari Amerika Serikat menjelang akhir musim panas.
Harga minyak turun pada Jumat (30/8) tertekan peningkatan kekhawatiran pasar atas penurunan permintaan dari Amerika Serikat menjelang akhir musim panas. (Tangkapan layar twitter @@PIF_en).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak turun pada Jumat (30/8) tertekan kekhawatiran atas menurunnya permintaan dari Amerika Serikat, konsumen minyak terbesar dunia, menjelang akhir musim panas. Namun demikian, minyak tetap mencatatkan kenaikan secara mingguan karena ketidakpastian pasokan dari Rusia.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent untuk pengiriman Oktober, yang akan berakhir hari ini, turun 53 sen atau 0,8 persen ke posisi US$68,09 per barel. Minyak Brent yang lebih aktif untuk pengiriman November juga turun 48 sen atau 0,7 persen menjadi US$67,50 per barel.

Sedangkan, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 51 sen atau 0,8 persen ke level US$64,09 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski melemah pada sesi ini, Brent diperkirakan mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 0,6 persen, sedangkan WTI naik 0,8 persen untuk periode yang sama.

Kenaikan harga sebelumnya dipicu oleh serangan Ukraina terhadap terminal ekspor minyak Rusia serta pernyataan Kanselir Jerman Friedrich Merz yang menutup kemungkinan pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Berakhirnya musim panas di AS bersamaan dengan libur Hari Buruh (Labor Day) pada Senin (1/9), serta peningkatan pasokan dari negara-negara produsen besar seiring berakhirnya pemangkasan sukarela produksi akan turut ikut menekan harga.

"Kami memperkirakan peningkatan pasokan dari OPEC+ dan penurunan musiman aktivitas penyulingan global mulai September akan menyebabkan kenaikan stok minyak global dalam beberapa bulan mendatang. Kami memproyeksikan Brent akan turun ke US$63 per barel pada kuartal IV 2025," ujar Vivek Dhar, analis komoditas Commonwealth Bank of Australia.

Sementara itu, serangan udara Rusia terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Kamis yang menewaskan 23 orang, memicu spekulasi bahwa Amerika Serikat dan Eropa akan memperketat sanksi terhadap Moskow.

"Masih ada ketidakpastian apakah AS dan Eropa akan menambah sanksi terhadap Rusia, serta dampak tarif AS terhadap India. Ini membuat investor enggan mengambil posisi besar," kata Hiroyuki Kikukawa, Kepala Strategi di Nissan Securities Investment.

Tekanan juga meningkat terhadap India setelah Presiden AS Donald Trump menggandakan tarif impor India hingga 50 persen pada Rabu (27/8), sebagai tanggapan atas pembelian minyak Rusia.

Namun para pedagang menyebutkan bahwa ekspor minyak Rusia ke India justru diperkirakan meningkat pada September, menandakan India tetap melanjutkan pembelian meskipun mendapat tekanan.

Dari pasar Asia, Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia disebut mempertimbangkan untuk menurunkan harga minyak mentah Oktober untuk pembeli di Asia, seiring melemahnya permintaan dan melimpahnya pasokan.

Sementara itu, pasokan minyak Rusia ke Hongaria dan Slovakia melalui pipa Druzhba kembali berjalan normal setelah sempat terhenti akibat serangan Ukraina.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/agt)
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
TERPOPULER