Purbaya Bicara Dampak Likuiditas Bank Berlimpah ke Sektor Riil

CNN Indonesia
Kamis, 01 Jan 2026 07:36 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengakui aktivitas sektor riil tak serta merta melaju kencang saat likuiditas di perbankan berlimpah. (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengakui aktivitas sektor riil tak serta merta melaju kencang saat likuiditas di perbankan berlimpah.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena ada jeda waktu antara masuknya dana ke sistem keuangan dengan dampaknya terhadap kegiatan ekonomi secara keseluruhan.

"Kalau kita lihat pengalaman tahun 2020, 2021, bulan Mei kita inject uang, kredit tumbuh, saya yakin posisi undisbursed sama kan? Tapi tetap aja kreditnya bisa tumbuh double digit pada waktu itu," ujar Purbaya dalam media briefing di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Rabu (31/12).

Ia menjelaskan persoalan pinjaman yang belum tersalurkan (undisbursed loan) memang ada. Namun, ketika perekonomian mulai bergerak, permintaan kredit akan meningkat dengan sendirinya.

Karenanya, ia memutuskan untuk menambah likuiditas perbankan dengan menempatkan uang mengendap pemerintah hingga lebih dari Rp200 triliun di sejumlah bank pelat merah beberapa waktu lalu.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, pertumbuhan kredit biasanya baru terlihat lebih kuat beberapa bulan setelah dana masuk ke sistem.

"Problem undisbursed loan ada, tapi ketika ekonominya tumbuh, yang lain akan pinjam lebih banyak ke perbankan, harusnya dampaknya positif, dan kalau kita lihat, hanya 3-4 bulan setelah uang itu masuk ke sistem, kredit mulai tumbuh dengan lebih signifikan," ujarnya.

Purbaya menyebut pergerakan kredit relatif cepat, sementara aktivitas ekonomi secara keseluruhan membutuhkan waktu lebih panjang untuk menunjukkan dampak yang nyata.

Kendati demikian, ia menilai kondisi saat ini sudah jauh membaik dibanding periode sebelumnya.

"Kredit sih cepat ya, tapi economic activity overall akan tumbuh dengan signifikan dua-tiga bulan setelah uang itu masuk ke sistem. Anda lihat kan, walaupun enggak penuh dampak yang saya inject ke sistem kemarin, tapi ekonominya udah berbalik kan?" katanya.

Ia menambahkan perbaikan tersebut juga tercermin dari kondisi sosial dan aktivitas masyarakat.

Menurut Purbaya, harapan terhadap masa depan ekonomi mulai tumbuh seiring munculnya tanda-tanda pemulihan.

"Kenapa orang enggak ada demo lagi di jalan? Karena mereka merasa ada harapan masa depan yang lebih baik, karena mereka sudah melihat ada pergerakan di perekonomian," ujarnya.

Purbaya menilai geliat ekonomi mulai terlihat hingga ke daerah pinggiran. Meski belum sepenuhnya pulih, kondisi saat ini dinilainya tidak lagi sesuram sebelumnya.

"Kalau Anda lihat di kampung-kampung, di pinggiran udah mulai gerak loh ekonominya loh. Paling enggak enggak sesuram waktu itu," katanya.

Menurut Purbaya, sebelum likuiditas masuk ke sistem, sektor riil memang menghadapi banyak kendala.

Salah satunya tercermin dalam pembahasan debottlenecking, ketika sejumlah perusahaan kesulitan mengakses pembiayaan meski permintaan dan agunan tersedia.

"Tapi ke depan kita betulin, yang tadi kita masukin lewat KUR, harusnya sih sudah jalan ya, saya akan cek ya, jadi kondisi ke depan akan berbeda," ujarnya.

Dengan perbaikan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, Purbaya optimistis kinerja ekonomi ke depan akan lebih kuat. Ia bahkan menyatakan keyakinannya pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa melampaui asumsi dalam APBN.

"Jadi sekarang bisa ngomong dengan lebih yakin bahwa tahun depan 6 persen (pertumbuhan ekonomi), walaupun di APBN 5,4 (persen) ya, saya akan paksa dorong ke 6 persen, dan probability itu terjadi semakin terbuka lebar, karena kami semakin sinkron dengan bank sentral," kata Purbaya.

(del/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK