Ketidakpastian Tinggi, Bagaimana Prospek Kripto Tahun Ini?
Investor kripto direkomendasikan lebih konservatif dalam berinvestasi koin sepanjang 2026. Hal itu dipicu oleh tingginya ketidakpastian sentimen awal tahun ini.
Co-founder CryptoWatch, Christopher Tahir mengatakan investasi kripto memasuki siklus penurunan. Meskipun begitu, untuk diversifikasi investasi produk kripto masih dinilai menarik, khususnya kripto besar seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH).
"Menurut saya, ada baiknya untuk lebih konservatif tahun ini dan sigap untuk menangkap peluang Ketika ada aksi jual besar-besaran," ujar Christopher kepada CNNIndonesia.com, Senin (12/1).
Christopher menilai aksi pembelian kripto oleh institusi, hingga pemangkasan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) belum ampuh mendorong harga kripto secara umum.
Kendati demikian, potensi likuidasi posisi institusi saat ini akan menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan dalam waktu dekat, khususnya jika mereka terdesak oleh margin call atau sejenisnya.
"Hingga hari ini, seluruh narasi kenaikan kripto sebelumnya sudah terbilang basi dan tidak berdampak besar. Seperti pembelian oleh institusi dan juga pemangkasan suku bunga The Fed," kata Christopher.
Adapun rekomendasi jangka panjang, ia menyarankan untuk tetap membeli aset kripto. Sedangkan untuk trader, disarankan lebih sigap melihat perubahan tren jangka pendek. Untuk target harga 2026, Bitcoin diprediksi berada di level US$75 ribu, sementara Ethereum di level US$2.800 per koin.
"Dengan kondisi yang sangat tidak menentu di awal tahun ini, terlihat belum ada katalis yang benar-benar dapat mengangkat harga secara berkelanjutan," ujarnya.
Melansir laman INDODAX yang diunggah Selasa (30/12), industri kripto diproyeksi memasuki fase baru dan bakal dipengaruhi beberapa faktor penggerak sepanjang 2026.
Di mana, analis melihat pasar bergerak menjauh dari spekulasi liar menuju integrasi institusional dan fungsi sistemik.
Secara keseluruhan, menurut INDODAX, pasar kripto tengah bertransformasi karena beberapa faktor. Pertama, terkait regulasi kripto atau Digital Asset Market Clarity Act (Clarty Act) yang diperkirakan rampung Januari 2026. Regulasi tersebut akan membagi kewenangan pengawasan aset digital secara tegas antara Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) dengan Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC).
Faktor kedua yang potensi peredaran stablecoin yang melampaui US$1 triliun dolar AS di 2026, karena meningkatnya pemanfaatan koin sebagai jalur pembayaran dan settlement digital. Ketiga, siklus empat tahunan Bitcoin yang mulai ditinggalkan.
Faktor keempat, yakni tren pembelian ETF yang melampaui suplai Bitcoin baru dari penambangan diprediksi berlanjut pada 2026. Lebih dari 100 ETF kripto baru diproyeksikan meluncur, dengan potensi arus dana di atas US$ 50 miliar.
Faktor lainnya yang turut mempengaruhi industri kripto tahun ini adalah prediksi pasar bahwa industri akan semakin agresif karena beberapa peristiwa publik, struktur pasar yang matang, namun tetap digerakkan psikologi investor, serta peran kripto dalam sistem keuangan.
Melansir Coinmarketcap pada Senin (12/1) pukul 20.07 WIB, harga BTC berada di US$90.486,91 atau melemah 2,65 persen dalam sepekan terakhir, dengan kapitalisasi pasar US$1.807.470.237,22.
Sementara harga ETH berada di US$3.108,58 atau melemah 2,01 persen sepekan terakhir, dengan kapitalisasi pasar US$375.189.277,12.
Catatan Redaksi: Berita ini tidak dibuat untuk merekomendasikan atau tidak merekomendasikan aset kripto tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.
(ins/sfr)