3.000 Ha Sawah di Jatim Gagal Panen Gara-gara Cuaca Ekstrem

CNN Indonesia
Selasa, 13 Jan 2026 20:50 WIB
Sawah seluas 3.000 hektare di Jawa Timur (Jatim) dilaporkan mengalami gagal panen atau puso akibat cuaca ekstrem.
Sawah seluas 3.000 hektare di Jawa Timur (Jatim) dilaporkan mengalami gagal panen atau puso akibat cuaca ekstrem. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/AJI STYAWAN).
Surabaya, CNN Indonesia --

Sawah seluas 3.000 hektare di Jawa Timur (Jatim) dilaporkan mengalami gagal panen atau puso akibat cuaca ekstrem.

Sebagian besar persawahan yang terdampak terletak di wilayah Pasuruan dan Bojonegoro.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jatim, Heru Suseno, menjelaskan mayoritas lahan yang mengalami puso itu sebenarnya telah melewati periode panen utama. Selain itu, pemerintah sudah menyalurkan bantuan kepada para petani yang terdampak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Puso kemarin itu 3.000 hektare tapi kan tersebar, itu total di Jawa Timur. Itu kemudian sudah dipenuhi bantuan," kata Heru dikonfirmasi, Selasa (13/1).

Meskipun demikian, Heru memastikan insiden ini tidak akan mengganggu total angka produksi padi di Jatim. Dampak banjir terhadap tanaman padi juga relatif masih minim karena air cenderung cepat surut.

"Kalau banjir, tidak semuanya melanda sawah. Ada hujan deras, besoknya sudah surut, sehingga tidak banyak mengganggu tanaman," tuturnya.

Pemerintah kini mulai memfokuskan perhatian pada peringatan BMKG mengenai potensi cuaca ekstrem yang diprediksi berlangsung hingga awal Februari 2026. Hal ini menjadi krusial mengingat waktunya sangat berdekatan dengan masa panen raya pada Maret 2026.

Sebagai langkah mitigasi, Dinas Pertanian terus melakukan pendataan lapangan. Jika ditemukan kasus puso baru, maka pemerintah berkomitmen memberikan bantuan benih dan memfasilitasi penanaman ulang melalui koordinasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan).

"Kalau ada puso, pasti ada penggantian benih. Kami komunikasi dengan Kementerian Pertanian. Petani jangan khawatir, bisa tanam kembali," tegasnya.

Meski dibayangi tantangan iklim, prospek produksi padi pada 2026 diprediksi justru meningkat. Optimisme ini didasari oleh data luas tanam periode Oktober-Desember 2025 yang menunjukkan tren lebih positif dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

"Kalau kita melihat, maka 2026 nanti produksinya kira-kira akan meningkat karena kita melihat bulan Oktober, November, Desember (luas tanam 2025) lebih besar dibanding tahun 2024," pungkas Heru.

[Gambas:Video CNN]

(frd/sfr)