BPS Catat Ekonomi Indonesia Tumbuh Solid Sepanjang 2025

BPS | CNN Indonesia
Kamis, 05 Feb 2026 17:56 WIB
Foto: CNNIndonesia/Safir Makki
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru tiga indikator strategis, yaitu Produk Domestik Bruto (PDB), ketenagakerjaan, dan kemiskinan. Ketiga indikator ini memberikan gambaran penting mengenai arah perkembangan ekonomi dan sosial Indonesia.

BPS mencatat, ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah dinamika dan geopolitik global dengan mencatat pertumbuhan yang solid. Pada triwulan-IV 2025, PDB Indonesia tumbuh sebesar 5,39 persen (y-on-y), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 5,02 persen.

Dengan demikian, ekonomi Indonesia pada 2025 tumbuh 5,11 persen (c-to-c), meningkat dari pertumbuhan 2024 yang tercatat sebesar 5,03 persen (c-to-c).

Sebagai pembanding, ekonomi sejumlah negara tetangga juga mencatat pertumbuhan positif pada triwulan-IV 2025 (y-on-y), di antaranya: Vietnam 8,5 persen, Singapura 5,7 persen, Malaysia 5,7 persen, dan Filipina 3,0 persen.

Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, konsumsi masyarakat tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi triwulan-IV 2025.

"Ekonomi Indonesia pada triwulan-IV 2025 tumbuh sebesar 5,39 persen (y-on-y), salah satunya didorong oleh konsumsi masyarakat yang tetap terjaga," jelas Amalia pada konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/2).

Menurut BPS, kinerja konsumsi rumah tangga pada triwulan-IV 2025 utamanya didorong oleh mobilitas penduduk pada momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), berbagai kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi, serta berbagai paket stimulus pemerintah untuk menjaga daya beli, mendorong aktivitas ekonomi, dan pemberdayaan generasi muda.

Sejumlah indikator turut menunjukkan perkembangan yang positif, antara lain transaksi online dari e-retail dan marketplace, serta nilai transaksi uang elektronik, kartu debit, dan kredit.

"Jumlah perjalanan wisatawan nusantara meningkat, tumbuh sebesar 13,42 persen (y-on-y) pada triwulan-IV 2025, diikuti peningkatan jumlah penumpang di beberapa moda transportasi seperti angkutan rel dan angkutan laut," jelas Amalia.

Dari sisi pengeluaran, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh solid sebesar 6,12 persen pada triwulan IV-2025, didorong oleh peningkatan investasi pada bangunan serta mesin dan peralatan. Sementara itu, konsumsi pemerintah meningkat 4,55 persen.

Ekspor barang dan jasa juga mencatat pertumbuhan 3,25 persen (yoy), ditopang oleh ekspor komoditas nonmigas seperti lemak dan minyak hewan/nabati, besi dan baja, mesin dan peralatan listrik, serta kendaraan dan komponennya. Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara turut menopang kinerja ekspor jasa.

Dari sisi lapangan usaha, lima sektor dengan kontribusi terbesar terhadap PDB triwulan IV-2025 adalah industri pengolahan (19,20 persen), perdagangan (13,24 persen), pertanian (11,56 persen), konstruksi (10,16 persen), dan pertambangan (8,93 persen).

Beberapa sektor mencatat pertumbuhan yang tinggi, seperti transportasi dan pergudangan yang tumbuh hingga 8,98 persen, informasi dan komunikasi yang tumbuh hingga 8,09 persen, serta jasa keuangan yang tumbuh hingga 7,92 persen.

BPS mencatat industri pengolahan tumbuh sebesar 5,40 persen pada triwulan-IV 2025 (y-on-y). Kinerja sektor ini terutama didorong oleh industri makanan dan minuman, industri logam dasar, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional.

"Pertumbuhan sektor industri pengolahan utamanya ditopang oleh meningkatnya permintaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri," ujar Amalia.

Sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh 6,07 persen pada triwulan-IV 2025 (y-on-y) seiring meningkatnya produksi domestik.

Sektor informasi dan komunikasi mencatat pertumbuhan yang tinggi sebesar 8,09 persen pada triwulan-IV (y-on-y), didorong oleh meningkatnya lalu lintas data dan transaksi perdagangan melalui sistem elektronik. Sementara itu, sektor pertanian tumbuh 5,14 persen didorong oleh meningkatnya permintaan domestik.

Sepanjang 2025, BPS mencatat bahwa seluruh lapangan usaha tumbuh positif pada tahun 2025 (c-to-c), kecuali sektor pertambangan.

Lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap ekonomi, yaitu industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan konstruksi secara umum melanjutkan tren pertumbuhan positif.

Selanjutnya, sektor pertanian tumbuh impresif sebesar 5,33 persen pada tahun 2025 (c-to-c), didorong peningkatan produksi domestik seperti tanaman pangan dan peternakan. Capaian ini merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

Sektor informasi dan komunikasi mencatat pertumbuhan sebesar 8,35 persen, tertinggi dalam 5 tahun terakhir, seiring tingginya penetrasi internet dan meningkatnya traffic data untuk memenuhi keperluan masyarakat dan bisnis.

Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen pengeluaran tumbuh positif pada 2025 (c-to-c). Pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen ekspor sebesar 7,03 persen, seiring meningkatnya ekspor barang nonmigas dan ekspor jasa.

Konsumsi rumah tangga terus tumbuh hingga 4,98 persen seiring meningkatnya aktivitas dan mobilitas masyarakat. Sementara itu, PMTB tumbuh hingga 5,09 persen, tertinggi sejak 2019 atau pasca pandemi, didorong oleh meningkatnya impor barang modal.

Secara spasial, ekonomi tumbuh positif di seluruh wilayah pada 2025. Pulau Jawa mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,30 persen dan Sulawesi 6,23 persen, keduanya di atas rata-rata nasional.

Sementara itu, wilayah Maluku dan Papua tetap tumbuh positif sebesar 1,44 persen, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan 2024.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurun

Untuk pertama kalinya, BPS merilis kondisi ketenagakerjaan secara triwulanan. Penduduk dengan status bekerja pada November 2025 atau triwulan-III 2025 tercatat sebsar 147,91 juta orang.

"Tingkat pengangguran terbuka pada November 2025 adalah 4,74 persen. Dari total angkatan kerja sebanyak 155,27 juta orang, terdapat 7,35 juta diantaranya yang masih menganggur. Jumlah pengangguran secara absolut turun 0,109 juta orang pada periode Agustus-November 2025" jelas Amalia.

Penyerapan tenaga kerja masih didominasi oleh sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan. Ketiga sektor tersebut menyerap 60,52 persen tenaga kerja nasional.

Pada periode Agustus-November 2025, jumlah penduduk bekerja meningkat 1,371 juta orang. Peningkatan terbesar terjadi pada sektor akomodasi dan makan minum sebanyak 0,381 juta orang, diikuti industri pengolahan sebanyak 0,196 juta orang, dan sektor perdagangan 0,168 juta orang.

Seseorang yang bekerja setidaknya satu jam dalam seminggu termasuk dalam kategori penduduk bekerja, sesuai standar International Labour Organization (ILO).

Tingkat Kemiskinan Kembali Menurun

Tingkat kemiskinan pada September 2025 sebesar 8,25 persen, turun dari 8,47 persen pada Maret 2025. Secara absolut, jumlah penduduk miskin berkurang dari 23,85 juta menjadi 23,36 juta orang, dengan total 4,91 juta rumah tangga miskin secara nasional.

BPS menjelaskan bahwa pengukuran kemiskinan didasarkan pada pendekatan pengeluaran rumah tangga yang dihimpun melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).

Garis kemiskinan nasional pada September 2025 tercatat Rp641.443 per kapita per bulan, sementara garis kemiskinan rumah tangga mencapai Rp3.053.269. Nilainya bervariasi antarwilayah, dipengaruhi tingkat harga dan pola konsumsi.

Pada saat yang sama, tingkat ketimpangan turut menurun. Gini ratio turun dari 0,375 menjadi 0,363, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.

(inh)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK