Viva Yoga Dorong Nanas Jadi Komoditas Unggulan Kawasan Transmigrasi

Kementrans | CNN Indonesia
Senin, 19 Jan 2026 14:19 WIB
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga menerima aspirasi petani nanas di Riau, Ia berkomitmen mendukung reforma agraria dan pengembangan budidaya nanas.
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi. (Foto: Kementrans)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menerima aspirasi petani nanas asal Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, Sendo Naminrova, terkait keberlanjutan usaha budidaya nanas di wilayah tersebut.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Sabtu (17/1), Sendo menyampaikan persoalan utama yang dihadapi para petani, terutama terkait status lahan.

Ia menjelaskan, di Desa Rimbo Panjang terdapat sekitar 108 hektare lahan yang dimanfaatkan untuk budidaya nanas, namun lahan tersebut bukan milik petani.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pak, di Desa Rimbo Panjang ini ada lahan seluas 108 Ha untuk budidaya nanas. Namun lahan yang saya garap itu bukan milik pribadi, tetapi milik orang lain yang bersedia memberikan pemanfaatannya kepada saya," ujar Sendo.

Saat ini, kata Sendo, terdapat sekitar 38 petani nanas yang menggantungkan hidup dari komoditas tersebut. Dari setiap hektare lahan, petani mampu menghasilkan sekitar 19.000 buah nanas dengan harga jual mencapai Rp6.000 per buah.

"Dari menanam nanas inilah kami bisa menyekolahkan anak-anak," ujar Sendo.

Berangkat dari kondisi itu, Sendo berharap pemerintah melalui Kementerian Transmigrasi dapat memberikan solusi agar petani memiliki kepastian lahan, sehingga usaha budidaya nanas dapat terus berkelanjutan.

Menanggapi hal itu, Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menyatakan bahwa aspirasi para petani diterima secara terbuka. Ia menegaskan, salah satu amanat Presiden Prabowo Subianto kepada Kementerian Transmigrasi adalah melaksanakan reforma agraria, termasuk memberikan akses tanah kepada rakyat melalui program transmigrasi karya nusa maupun transmigrasi lokal.

"Tanah yang diberikan bukan sekadar lahan namun juga sebagai sumber ekonomi untuk meningkatkan pendapatan rakyat," ujarnya.

"Jadi yang belum memiliki lahan bisa ikut program transmigrasi," tambahnya.

Ia mengapresiasi Kabupaten Kampar yang telah berkembang menjadi sentra nanas, dengan tiga desa utama yakni Rimbo Panjang, Pagaruyung, dan Kualu Nenas, yang memiliki ribuan hektare lahan budidaya nanas.

Sebagai upaya memperkuat nilai tambah komoditas tersebut, BPPMT Pekanbaru menggelar Festival Nanas bertema Pengembangan Komoditas Nanas sebagai Produk Unggulan di Kawasan Transmigrasi. Festival ini menghadirkan berbagai lapak produk olahan nanas, mulai dari sirup, dodol, keripik, hingga aneka jajanan tradisional.

Lebih lanjut, Viva Yoga mengungkapkan bahwa Kementerian Transmigrasi telah menyiapkan perencanaan pengembangan nanas melalui program rumah produksi. Sebagai bentuk komitmen, pada kesempatan yang sama dilakukan peresmian Pusat Edukasi Nanas Moris yang berlokasi di area belakang BPPMT Pekanbaru.

"Sebagai bukti dari keseriusan program ini, hari ini pula kita resmikan Pusat Edukasi Nanas Moris," ujarnya.

Usai peresmian, Viva Yoga didampingi Kepala BPPMT Pekanbaru Ahmad Syahir melakukan penanaman bibit sekaligus panen nanas.

Menurut mantan Anggota Komisi IV DPR dua periode itu, buah yang kulitnya kasar dan daunnya tajam itu tak hanya mengandung banyak vitamin yang dibutuhkan tubuh manusia namun buah dan daunnya bisa dimanfaatkan untuk sirup, wine, pupuk, kosmetik, bahan bioetanol, dan serat kain atau benang.

"Jadi banyak nilai ekonominya dari membudidayakan nanas ini," ujarnya.

Dengan adanya pusat edukasi, para calon transmigrasi akan dilatih membudidayakan nanas. "Mereka akan ditempatkan di berbagai kawasan transmigrasi sehingga komoditas nanas akan tumbuh di mana-mana", ujarnya.

"Pengembangan nanas secara menyeluruh akan menjadi bagian yang sangat penting di dalam pengembangan ekonomi masyarakat," tambah mantan Presidium MN KAHMI itu.

Sementara itu, Ahmad Syahir menambahkan bahwa tanaman nanas memiliki keunggulan karena dapat tumbuh di lahan tandus, gersang, gambut, maupun tanah kurang subur.

Oleh karena itu, BPPMT Pekanbaru menjadikan nanas sebagai komoditas unggulan dan maskot balai yang wilayah kerjanya meliputi seluruh Pulau Sumatera, termasuk Bangka Belitung dan Kepulauan Riau.

"Sebagai produk unggulan maka nanas kita jadikan maskot BPPMT Pekanbaru", tegasnya.

(inh)