Kementrans Gandeng 10 PTN Terbaik, Siapkan 1.000 Beasiswa & Tim Riset

Kementrans | CNN Indonesia
Senin, 19 Jan 2026 17:15 WIB
Foto: Arsip Kementrans.
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Transmigrasi menggandeng 10 perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik di Indonesia untuk memperkuat pembangunan kawasan transmigrasi melalui Program Transmigrasi Patriot. Program ini difokuskan pada penciptaan sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya unggul, tetapi sangat unggul, guna mendorong percepatan pembangunan dan investasi di kawasan transmigrasi.

Dalam program tersebut, Kementerian Transmigrasi menyiapkan 1.000 Beasiswa Transmigrasi Patriot bagi para sarjana terbaik dari berbagai disiplin ilmu. Selain itu, sebanyak 1.000 akademisi akan diterjunkan sebagai Tim Ekspedisi Patriot ke 154 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia.

Program ini merupakan kelanjutan dari pelaksanaan tahun sebelumnya yang berhasil menghasilkan sekitar 400 temuan dan rekomendasi pengembangan potensi kawasan.

"Kami melakukan konsolidasi untuk mendiskusikan keberlanjutan program transmigrasi patriot yang insya Allah tahun ini akan dikembangkan dalam bentuk 2 program besar karena kita ingin betul-betul mencetak SDM yang sangat unggul. Bukan lagi SDM unggul, tetapi yang sangat unggul," kata Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara di Jakarta, Minggu (19/1) malam.

Sepuluh PTN yang terlibat dalam program ini adalah Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, dan Universitas Hasanuddin.

Mentrans menjelaskan Program Transmigrasi Patriot tahun ini dikembangkan dalam dua program utama, yaitu Ekspedisi Patriot dan Beasiswa Patriot. Sebagai kelanjutan program tahun lalu, Ekspedisi Patriot 2026 difokuskan pada pengabdian masyarakat yang lebih konkret.

Misalkan, kata Mentrans, di suatu kawasan ada infrastruktur dasar yang belum terpenuhi, maka Kementrans akan menerjunkan para patriot dari kampus-kampus unggulan tersebut untuk membantu masyarakat dalam bidang infrastruktur dasar.

"Kemudian dalam bidang misalkan yang lebih teknis, pembibitan, hama, terkait dengan pertanian, atau misalkan potensi pariwisata, atau juga misalkan pertambangan sesuai dengan potensi ekonomi masing-masing daerah di 154 kawasan transmigrasi," ujar Iftitah.

Selain pengabdian masyarakat, Ekspedisi Patriot juga diarahkan untuk mendorong investasi di kawasan transmigrasi. Sejumlah wilayah dengan potensi besar akan dikembangkan secara terintegrasi.

Misalnya kawasan Rempang dan Galang di Batam untuk industri, perikanan, dan kelautan; Kaluku di Mamuju untuk pengembangan logam tanah jarang yang terintegrasi dengan pertanian; serta Salor di Merauke untuk sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan.

Sementara itu, Program Beasiswa Patriot dirancang untuk mencetak SDM sangat unggul melalui pendirian Kampus Patriot di tiga kawasan transmigrasi strategis, yakni Barelang (Batam, Rempang, dan Galang), Kaluku (Mamuju, Sulawesi Barat), dan Salor (Merauke, Papua Selatan). Program ini bertujuan menjembatani kebutuhan riil masyarakat di lapangan dengan dunia pendidikan tinggi.

"Kita ingin masyarakat lokal mendapatkan manfaat langsung dari pembangunan dan investasi, sehingga tidak terasing di negerinya sendiri," kata Iftitah.

Iftitah menjelskan, Program Beasiswa Patriot akan diseleksi secara ketat, termasuk melalui tes pusat dan penilaian psikologis. Dalam program ini Kementrans membuka ruang kolaborasi dengan kampus-kampus luar negeri.

Sejumlah universitas luar negeri seperti Universitas Teknik München (Jerman), Universitas Nasional Tsing Hua(NTHU, Tiongkok), dan Universitas Stanford (California, AS) menyatakan ketertarikan untuk berkolaborasi, dengan pembahasan regulasi yang saat ini sedang dilakukan.

"Jadi ke depan, pasti akan ada universitas (dari luar negeri) yang bergabung. Seperti apa bentuknya, ini nanti tergantung kecepatan kita menyesuaikan dengan masalah regulasi ini," kata Iftitah.

(ory/ory)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK