Kekayaan Prajogo Pangestu Melesat Rp15,9T dalam Sehari Jadi Rp603 T
Harta taipan Prajogo Pangestu terus melesat. Berdasarkan data dari Forbes Real Time Billionaires pada Senin (19/1), kekayaan taipan tersebut tembus US$35,6 miliar.
Jika dirupiahkan dengan kurs Rp16.955, kekayaan Prajogo tembus Rp603,6 triliun.
Kekayaan Prajogo melesat sebanyak US$943,5 juta atau setara Rp15,9 triliun dibandingkan Minggu (18/1) yang masih dikisaran US$34,6 miliar. Kekayaan itu juga membuatnya menjadi orang terkaya di Indonesia dan nomor 60 dunia saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harta Prajogo jauh berada di atas Low Tuck Kwong, taipan yang berada di peringkat 98 orang terkaya dunia dengan kekayaan US$23,9 miliar atau setara Rp405,2 triliun.
Kekayaan itu juga berada jauh di atas duo Hartono. Pasalnya, Robert Budi Hartono yang berada di posisi 115 orang terkaya dunia hanya memiliki kekayaan US$21,2 miliar atau Rp359,45 triliun. Sementara itu Michael Budi Hartono yang menempati posisi orang terkaya dunia nomor 121 hanya memiliki kekayaan US$20,3 miliar atau Rp344,18 triliun.
Berdasarkan Laporan Kepemilikan Saham Perusahaan Terbuka kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Senin (19/1), Prajogo melaporkan pembelian 1 juta lembar saham BREN.
Pembelian dilakukan pada 15 Januari melalui 7 transaksi dengan harga saham bervariasi, mulai dari Rp9.525 per saham sampai Rp9.675 per saham.
Seluruh transaksi disebut untuk tujuan investasi pribadi.
Dengan penambahan satu juta lembar saham tersebut, total kepemilikan saham Prajogo naik dari 139.789.700 unit (0,104 persen) menjadi 140.789.700 unit (0,105 persen).
Pada 13 Januari lalu, Prajogo juga membeli 1.330.000 saham BREN dengan harga kisaran Rp8.800 - Rp9.025 per saham. Tujuan pembelian saham disebut untuk tujuan investasi pribadi.
Prajogo merupakan seorang pengusaha karet yang memulai karirnya di industri kayu pada akhir tahun 1970-an. Kemudian, ia mendirikan perusahaan Barito Pacific Timber yang melantai di Bursa Efek Indonesia pada 1993.
Pada 2007, perusahaannya berganti nama menjadi Barito Pacific dengan mengurangi bisnis kayu dan berhasil mengakuisisi 70 persen saham perusahaan petrokimia Chandra Asri.
Sementara itu, pada 2011, perusahaan Chandra Asri juga terus menguat setelah merger dengan Tri Polyta Indonesia dan perusahaan energi Thaioil menjadi investor dengan mengakuisisi 15 persen saham.
Lalu, pada 2023, Prajogo melepas saham perusahaan pertambangan batubara Petrindo Jaya Kreasi. Bukan hanya itu, pada akhir tahun yang sama, ia juga melepas saham energi terbarukan Barito Renewables Energy.
(fln/ins)