Di Tengah Era AI, Kementrans Siapkan SDM Unggul Lewat Beasiswa Patriot
Di tengah perlombaan global dalam pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Indonesia memilih menegaskan strategi pembangunan yang berfokus pada kekuatan manusia. Melalui Program Beasiswa Patriot, Kementerian Transmigrasi menyiapkan talenta unggul yang mampu memimpin langsung di lapangan, menggerakkan masyarakat, serta menciptakan lapangan kerja nyata-peran yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Program Beasiswa Patriot dirancang untuk melahirkan transmigran patriot, yaitu sumber daya manusia terdidik yang ditugaskan ke kawasan transmigrasi guna mengelola potensi wilayah dan membangun pusat-pusat ekonomi baru yang berkelanjutan.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, di tengah kemajuan teknologi, kekuatan utama Indonesia tetap berada pada manusia yang memiliki kepemimpinan, empati, dan keberanian untuk hadir bersama masyarakat.
"Teknologi penting, tapi masa depan Indonesia ditentukan oleh manusia yang mau turun ke lapangan, memimpin, dan menggerakkan masyarakat. Itulah yang kami siapkan melalui Beasiswa Patriot," ujar Iftitah dalam Rapat Koordinasi Perguruan Tinggi Mitra Transmigrasi Patriot 2026, Selasa (20/1).
Rapat tersebut diikuti oleh 10 Perguruan Tinggi Negeri dari berbagai daerah yang menjadi mitra program tersebut. Melalui Beasiswa Patriot, peserta tidak hanya menempuh pendidikan, tetapi juga diberi mandat untuk mengelola potensi wilayah dan mengubahnya menjadi kegiatan ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.
Menurut Iftitah, kepemimpinan tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada sistem atau teknologi. Di banyak wilayah, terutama kawasan transmigrasi, kehadiran pemimpin lapangan masih menjadi kunci utama pembangunan.
"Kita butuh orang-orang yang bisa membangun kepercayaan, menyatukan masyarakat, dan mengambil keputusan di situasi nyata. Di ruang-ruang seperti inilah peran manusia tidak tergantikan," tegasnya.
Setelah menyelesaikan studi, penerima Beasiswa Patriot akan menjalani penugasan selama satu tahun di kawasan transmigrasi. Mereka akan fokus mengembangkan sektor-sektor potensial seperti industri lokal, perikanan, kesehatan, dan teknologi terapan sesuai kebutuhan dan karakter wilayah.
"Target akhirnya jelas, lahir pusat-pusat ekonomi baru dan lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Patriot kita hadir sebagai penggerak, bukan penonton," kata Iftitah.
Adapun program ini juga membuka ruang bagi kalangan profesional, termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN) serta anggota TNI dan Polri, yang dinilai memiliki pengalaman lapangan dan kapasitas kepemimpinan untuk memperkuat dampak program.
Kepala Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro, Prof. Wiwandari Handayani, menilai pendekatan ini relevan dengan tantangan pembangunan ke depan.
"Kepemimpinan lapangan dan pendampingan langsung sangat dibutuhkan, terutama di wilayah yang sedang tumbuh. Hal ini bisa dikoordinasikan lebih lanjut dengan Pemerintah Daerah setempat," ujarnya.
Dari sisi pembiayaan, Kementrans tengah melakukan finalisasi skema pendanaan bersama Kementerian Keuangan agar pelaksanaan program berjalan tuntas dan berkelanjutan.
Lebih lanjut Iftitah memastikan Beasiswa Patriot akan diluncurkan secara resmi pada Februari mendatang sebagai bagian dari transformasi transmigrasi berbasis pembangunan manusia.
"Ini investasi jangka panjang. Indonesia membangun manusia unggul agar mampu memimpin di situasi yang tidak bisa dijawab oleh teknologi," pungkasnya.
(ory/ory)