Momen Bos PLN Menangis Haru Cerita Pulihkan Listrik Sumatra

CNN Indonesia
Kamis, 22 Jan 2026 07:21 WIB
Dirut PLN Darmawan Prasodjo bercerita dengan emosional soal pengalamannya memimpin pemulihan sistem kelistrikan pascabencana banjir Sumatra. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengungkapkan pengalaman emosional saat memimpin pemulihan sistem kelistrikan di Sumatra pascabencana banjir dan tanah longsor.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, ia bercerita tim PLN berada di lapangan selama berminggu-minggu menghadapi kondisi ekstrem dan kerusakan masif di berbagai daerah.

"Kami ada di lapangan selama berminggu-minggu. Dan pertama kali kami merasakan bahwa kami adalah manusia yang sangat kecil melawan kekuatan Tuhan Yang Maha Kuasa dan alam," ujar Darmawan dengan suara terbata dan mata berkaca-kaca, Rabu (21/1).

Ia mengatakan upaya pemulihan yang dilakukan tim PLN jauh melampaui batas normal kemampuan manusia. Di tengah isak yang ia tahan, Darmawan menyebut peristiwa ini menjadi titik balik cara PLN memandang keandalan sistem kelistrikan nasional.

"Tim kami memberikan yang terbaik di luar batas kemampuan kemanusiaan. Ini adalah perubahan besar bagaimana kami menyikapi keandalan sistem kelistrikan," katanya.

Darmawan menuturkan setelah bencana tersebut, jajaran direksi dan manajemen PLN langsung melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kesiapsiagaan. Menurutnya, PLN tidak lagi bisa mengandalkan pola perencanaan lama.

"Kami tidak bisa lagi, tidak punya planning of contingency seperti kemarin. Saat ini kami men-tracking di mana adanya siklon dan hurricane," ujarnya.

Kini, PLN rutin memantau pergerakan cuaca ekstrem, menyiapkan tower emergency, hingga memetakan skenario terburuk apabila belasan menara transmisi roboh sekaligus. "

"Worst case apabila ada 15 tower yang roboh, kami sudah siap," kata Darmawan.

Ia juga menyebut PLN telah menyiagakan helikopter dan memperkuat koordinasi dengan TNI, Polri, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar personel dan peralatan dapat dikerahkan hanya dalam hitungan jam bila terjadi bencana baru.

"Apabila terjadi epicentrum bencana baru, semua siap di-deploy, hanya dalam hitungan jam, baik orangnya maupun peralatannya," ujarnya.

Darmawan turut mengulas perbedaan karakter pemulihan di sejumlah daerah Aceh. Di Aceh Tamiang, perbaikan sistem kelistrikan berlangsung relatif cepat karena akses jalan tidak terputus dan peralatan bisa langsung dikirim dari Sumatra Utara.

Namun, jumlah rumah yang rusak di wilayah itu mendekati 40 ribu unit, hampir setara dengan Aceh Utara.

Sebaliknya, di Aceh Tengah, khususnya Takengon, jumlah rumah rusak jauh lebih sedikit, sekitar 10 ribu unit, tetapi akses jalan terputus sehingga PLN terpaksa mengangkut 1.100 tiang listrik dan kabel menggunakan pesawat Hercules.

Dari situ, PLN melihat kecepatan pemulihan listrik sangat bergantung pada keterbukaan akses, sementara tingkat kerusakan rumah tidak selalu sejalan dengan kondisi jaringan listrik.

Darmawan menyebut saat ini pemulihan sistem kelistrikan Aceh sudah hampir rampung. Dari total sekitar 6.500 desa, kini tinggal 60 desa atau kurang dari 1 persen yang masih mengalami kendala pasokan listrik karena akses jalan belum terbuka atau wilayahnya masih terisolir.

(del/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK