Mentrans Rancang Balai Transmigrasi Sebagai Kawasan Eduwisata Terpadu

Kementrans | CNN Indonesia
Kamis, 22 Jan 2026 14:53 WIB
Kementerian Transmigrasi akan ubah balai transmigrasi jadi kawasan eduwisata, kembangkan ekonomi dan industri untuk tingkatkan nilai kawasan.
Kunjungan Menteri Transmigrasi, Iftitah Sulaiman, ke BBPPMT Yogyakarta dan Demplot Cangkringan, Yogyakarta. (Foto: Arsip Kementrans)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Transmigrasi berencana mengubah balai-balai transmigrasi menjadi kawasan eduwisata transmigrasi. Langkah ini ditempuh untuk menunjukkan transformasi nyata program transmigrasi kepada masyarakat.

Menteri Transmigrasi, Iftitah Sulaiman, menyampaikan arahan tersebut saat berkunjung ke Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Yogyakarta (BBPPMT Yogyakarta) dan Demplot Cangkringan beberapa waktu lalu.

"Transmigrasi hari ini berfokus pada pembangunan ekonomi dan investasi melalui pembukaan akses dan peningkatan nilai kawasan. Balai harus mempersiapkan program yang mendukung pembentukan kawasan ekonomi secara nyata," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (22/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia juga menekankan pentingnya peran balai dalam menjangkau publik melalui media sosial. Konten yang dibagikan harus informatif, terutama terkait program pembangunan kawasan berbasis sains, nilai ekonomi, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.

Untuk mendukung peran balai transmigrasi, Iftitah menerapkan kebijakan baru berupa sentralisasi pola anggaran tahun 2026. Anggaran akan dialokasikan untuk program revitalisasi dan transformasi yang berfokus pada pembangunan ekonomi melalui pembukaan akses dan peningkatan nilai kawasan transmigrasi.

Transformasi juga mencakup perubahan fungsi balai-balai transmigrasi yang selama ini hanya fokus pada pelatihan pertanian konvensional. Ke depan, balai harus mengembangkan pelatihan di sektor pariwisata dan usaha berbasis industri agar lebih relevan dengan kebutuhan ekonomi modern.

Iftitah pun mewajibkan setiap balai menyusun modul pelatihan berorientasi bisnis dengan nama 'Mencetak Uang di Kawasan Transmigrasi'. Modul ini akan berbasis komoditas unggulan seperti cabai, jamur, atau ternak yang disesuaikan dengan potensi masing-masing kawasan.

"Modul (pelatihan) ini harus dihitung secara lengkap dari sisi bisnis, mulai dari analisis biaya, prospek usaha, hingga peluang pasar. Ini harus rinci, bukan sekadar teori, agar transmigran bisa mandiri secara ekonomi," pungkas dia.

Transformasi ini diharapkan mengubah paradigma pemberian lahan tinggal menjadi ruang investasi yang produktif. Pengelolaan lahan komunal nantinya diproyeksikan untuk meningkatkan nilai ekonomi bagi para peserta transmigrasi.

(rir)