Istana Setujui Keuntungan Bulog Naik Jadi Hampir Rp1.000 Mulai 2026

CNN Indonesia
Jumat, 23 Jan 2026 14:15 WIB
Direktur Keuangan Bulog Hendra Susanto mengatakan telah mendapat untuk menaikkan margin fee atau keuntungan Perum Bulog mendekati Rp1.000 per kilogram.
Direktur Keuangan Bulog Hendra Susanto mengatakan telah mendapat untuk menaikkan margin fee atau keuntungan Perum Bulog mendekati Rp1.000 per kilogram. (FOTO:CNNIndonesia/Dela Naufalia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Keuangan Bulog Hendra Susanto mengatakan pihaknya telah mendapat persetujuan dari Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menaikkan margin fee atau keuntungan Perum Bulog

Dengan begitu kenaikan margin fee Bulog menjadi hampir Rp1.000 per kilogram mulai 2026, dari level saat ini hanya Rp50 per kilogram.

Hendra mengatakan persetujuan tersebut sudah diperoleh setelah pembahasan di tingkat pemerintah pusat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di-ACC sudah. Kemarin kan sudah di Mensesneg (Prasetyo). Pada prinsipnya oke (kenaikan margin fee)," kata Hendra di Bulog Business District, Jakarta Selatan, Jumat (23/1).

Dia memastikan kebijakan margin fee baru tersebut akan mulai berlaku pada 2026.

"Nah, kalau yang sudah pasti berlaku 2026," ujarnya.

Kenaikan margin fee ini merujuk pada skema baru sebesar 7 persen dari harga pokok pembelian (HPP) Bulog. Dengan skema tersebut, keuntungan yang diperoleh Bulog melonjak signifikan dibanding sebelumnya.

Secara teknis, skema margin fee 7 persen tersebut dihitung dari HPP atau modal Bulog dalam menyerap beras. Dengan kisaran HPP sekitar Rp14 ribu hingga Rp14.400 per kilogram, maka besaran margin yang diperoleh Bulog berada di kisaran Rp996 per kilogram, atau nyaris Rp1.000 per kilogram.

"Margin fee 7 persen itu sama dengan Rp996, Rp4 lagi Rp1.000. Kehitungnya dari HPP, harga pokok pembelian Bulog, jadi dari modal. Modal kita kan Rp14 ribu sampai Rp14.400, dikali 7 persen dapatnya sekitar Rp996, hampir Rp1.000," jelas Hendra.

Jika dikalikan dengan volume penugasan Bulog yang mencapai sekitar 3 juta ton per tahun, potensi keuntungan Bulog pun diproyeksikan akan menyentuh Rp3 triliun tahun ini.

"Hampir Rp1.000 dikalikan 3 juta ton, Rp3 triliun (keuntungan Bulog). Kita sekarang kan (stok beras Bulog) 3,1 juta ton gitu. Berarti Rp3,1 triliun," katanya.

Hendra menambahkan kenaikan margin ini melonjak sekitar 20 kali lipat dibandingkan skema lama yang hanya Rp50 per kilogram.

"Peningkatannya 20 kali lipat," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Dalam kesempatan sama, Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut kenaikan margin fee menjadi 7 persen akan memperkuat kinerja perusahaan dalam menjalankan tugas publik.

"Syukur alhamdulillah kemarin sudah dibahas, untuk kenaikan margin fee ini 7 persen. Ini mudah-mudahan tahun 2026 ke depan selanjutnya ini akan menambah semangat Bulog, dalam hal ini dengan margin fee 2026 nanti akan menambah kinerja Bulog sendiri," kata Rizal.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) sebelumnya mengungkapkan pemerintah telah menyetujui margin fee Bulog naik menjadi 7 persen.

Kenaikan tersebut dimaksudkan untuk mendukung Bulog dalam menjalankan program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) beras satu harga di seluruh Indonesia.

"Dihitung-hitung antara Menteri Keuangan, dari BPKP ketemu angka 10 persen diminta, tapi disetujuinya 7 persen nanti ngambil fee. Itu untuk, utamanya, menjamin agar harga beras satu harga di seluruh Indonesia," ujar Zulhas.

Saat ini, Bulog hanya memperoleh Rp50 per kilogram beras yang disalurkan, nilai yang dinilai sudah tidak memadai untuk menopang operasional.

Margin fee Bulog sebelumnya diusulkan naik menjadi 10 persen, mengacu pada skema penugasan BUMN strategis lain seperti PLN dan Pertamina yang juga memperoleh margin fee 10 persen dalam menjalankan tugas negara.

Margin Bulog sebesar Rp50 per kilogram sendiri telah berlangsung selama belasan tahun, meski Bulog memegang peran penting dalam menjaga keterjangkauan harga pangan nasional.

(del/ins)