Patriot Bond Jilid II Bakal Incar Duit Konglomerat Lagi?
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara kabarnya bakal menerbitkan surat utang Patriot Bond Jilid II pada paruh pertama 2026. Pengamat menilai kehadiran obligasi tersebut sebagai akses investor menjaga hubungan baik dengan pemerintah.
Lanjutan dari series pertama ini kabarnya ditargetkan bisa menghimpun dana hingga Rp20 triliun.
Direktur Panin Asset Manajemen Rudiyanto menilai Danantara sudah memiliki target investor untuk penerbitan obligasi jilid II tersebut. Dalam hal ini, target investornya adalah masyarakat kalangan tertentu dan bukan investor publik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini bukan untuk orang umum. Enggak bakal bisa beli juga, lebih ke hubungan baik dengan pemerintah. Pertimbangan ekonomi nol," kata Rudiyanto kepada CNNIndonesia.com, Jumat (23/1).
Menurutnya, penerbitan Patriot Bond jilid II juga tidak memerlukan strategi khusus dalam menggaet minat investor.
"Yang berminat akan datang sendiri. Kalau sebelumnya sudah ikut, bisa saja ikut lagi," ujarnya.
Mengenai besaran kupon obligasi, Rudiyanto menilai tidak ada level yang ideal dan investor cenderung menyesuaikan penawaran yang diberikan penerbit Patriot Bond Jilid II.
Pada Patriot Bond jilid I Danatara menawarkan kupon alias imbal hasil kepada investor berkisar 2 persen untuk tenor lima hingga tujuh tahun. Angka tersebut jauh di bawah imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia saat itu, dengan tenor sama yakni di kisaran 6,2 persen.
Lihat Juga : |
"Investor akan terima berapa saja karena pertimbangannya non ekonomis," ungkapnya.
Vice President Infovesta Wawan Hendrayana menilai peluang penerbitan Patriot Bond jilid II cukup besar, mengingat keberhasilan jilid pertama. Namun, menurut Wawan, instrumen ini sebenarnya menawarkan imbal hasil yang tidak menarik.
"Sebetulnya bagi pembeli patriot bond, tidak ekonomis. Surat Utang Negara (SUN) saja yang 5 tahun imbal hasilnya 5,5 persen-an, patriot bond hanya 2 persen. Memang sudah pasti ada sweetener lain yang mungkin tidak dipublikasikan sehingga para patriot ini mau," ujarnya.
Wawan menambahkan, karena diterbitkan melalui skema private placement, target investor tetap terbatas pada kalangan konglomerat.
Lihat Juga : |
Pengamat Ekonomi Ibrahim Assuaibi menilai rencana penerbitan Patriot Bond jilid II tidak terlepas dari kebutuhan pendanaan besar Danantara untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 8 persen pada 2029.
"Kalau dipaksakan, ya pasti para konglomerat pasti mau. Ya tujuannya untuk membantu perekonomian di Indonesia. Karena kondisi saat ini sangat malu yang hanya bisa membantu itu adalah para konglomerat," katanya.
Ibrahim menilai minat investor juga sangat bergantung pada kondisi ekonomi global. Ia memperkirakan kupon tidak akan jauh dari penerbitan sebelumnya.
"2 persen pun juga sudah bagus sebenarnya. Karena ada kemungkinan besar BI pun juga akan menurunkan suku bunga dalam bulan-bulan ke depan. Kalau seandainya ya bond-nya mungkin turun dari 2 persen, sepertinya tidak akan laku ya," ujarnya.
Obligasi ini akan menjadi kelanjutan dari penerbitan Patriot Bond pertama yang sudah dilaksanakan akhir tahun lalu.
Sejauh ini, Danantara belum memberikan konfirmasi resmi terkait penerbitan surat utang baru tersebut. Namun, sejumlah sumber menyebutkan kupon obligasi yang ditawarkan kemungkinan berada di bawah tingkat suku bunga pasar, meski pembahasan masih berlangsung dan ketentuan penerbitan dapat berubah.
Penerbitan pertama, yang dilakukan akhir 2025, menargetkan penghimpunan dana US$3,1 miliar atau sekitar Rp52,5 triliun, namun realisasinya mencapai US$3,6 miliar (Rp61 triliun) setelah ada penjualan tambahan obligasi.
Sejumlah sumber Bloomberg sebelumnya menyebutkan penerbitan Patriot Bonds II akan menargetkan konglomerat sektor kelapa sawit dan kelompok elite bisnis yang belum ikut dalam tahap pertama. Pada penerbitan pertama, sejumlah keluarga terkaya Indonesia, termasuk Franky Widjaja dari Grup Sinar Mas, ikut berpartisipasi.
Rencana ini sejalan dengan strategi pemerintah yang melihat Patriot Bond sebagai instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, termasuk dukungan terhadap program kesejahteraan publik. Patriot Bond juga telah dipresentasikan kepada Presiden Prabowo Subianto awal Januari 2026, bersamaan dengan paparan agenda Danantara sepanjang tahun ini.
Sejauh ini, Danantara telah menghimpun sekitar US$5 miliar (Rp84,8 triliun) dari dividen badan usaha milik negara (BUMN) yang berada di bawah pengelolaannya. Selain itu, lembaga ini memiliki fasilitas kredit sindikasi tanpa jaminan senilai US$1 miliar (Rp16,9 triliun) dari perbankan internasional, serta kerja sama dengan sejumlah lembaga keuangan asing, termasuk Japan Bank for International Cooperation.
Penerbitan Patriot Bond jilid II ini muncul di tengah perhatian pemerintah terhadap kontribusi kelompok menengah atas, sekaligus langkah pengawasan tambahan terhadap individu dan perusahaan besar terkait pajak dan penguasaan lahan.
Patriot Bond dipandang sebagai salah satu upaya pemerintah mendorong kontribusi sektor swasta dalam program pembangunan nasional, termasuk penyediaan perumahan murah dan program makan gratis bagi pelajar.
(lau/ins)