Bos BI Pede Rupiah Menguat ke Rp16.700 per Dolar AS
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah akan terus menguat ke depan. Bahkan, kurs mata uang garuda berpeluang bergerak ke kisaran Rp16.700 per dolar AS.
Menurut Perry, penguatan rupiah bukan bersifat sementara, melainkan didukung fundamental ekonomi yang kuat.
"Secara fundamental, nilai tukar rupiah itu akan terus menguat," ujar Perry dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Selasa (27/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menilai level rupiah saat ini masih berada di bawah nilai fundamental (undervalue). Optimisme tersebut ditopang oleh inflasi domestik yang rendah, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid, serta aliran investasi asing yang masih masuk ke dalam negeri.
Selain faktor fundamental, Perry juga menekankan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai kebijakan.
"Tentu saja adalah bagaimana komitmen Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah dan mengarahkan rupiah ke arah yang lebih kuat," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Perry juga mengungkapkan sejumlah faktor yang menyebabkan rupiah sempat tertekan hingga mendekati level Rp17 ribu per dolar AS dalam beberapa hari terakhir.
Ia mencatat, pada 23 Januari 2026, nilai tukar rupiah melemah hingga mencapai Rp16.815 per dolar AS, dari posisi akhir Desember 2025 di kisaran Rp16.675 per dolar AS.
"Hingga 23 Januari 2026, nilai tukar rupiah tercatat Rp16.815 per dolar AS atau melemah 0,83 persen dibanding level akhir Desember 2025," jelas Perry.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh ketidakpastian pasar global yang mendorong aliran keluar modal asing. Selain itu, peningkatan permintaan valuta asing oleh perbankan dan korporasi domestik turut menambah tekanan terhadap nilai tukar.
Meski demikian, Perry menegaskan kebijakan stabilisasi yang konsisten dilakukan BI telah mendorong rupiah kembali menguat. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah sempat melemah ke level Rp16.780 per dolar AS sebelum berbalik menguat hingga penutupan.
"Dipastikan ke depan stabil dan kecenderungan menguat, didukung inflasi yang rendah dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia," terangnya.
Mengacu data Refinitiv, rupiah pada perdagangan hari ini ditutup menguat 0,06 persen ke level Rp16.760 per dolar AS. Penguatan tersebut memperpanjang tren apresiasi rupiah menjadi lima hari perdagangan berturut-turut.
(lau/sfr)