Gubernur BI Ungkap Ruang Bunga Acuan Turun Terbuka Lebar
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan ruang untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate masih terbuka lebar. Hal ini dikarenakan inflasi yang terjaga stabil.
Selain itu, nilai tukar rupiah juga sudah mulai stabil meski masih terdepresiasi. Nilai tukar rupiah menguat 40 poin atau 0,24 persen ke level Rp16.728 per dolar AS pada Rabu (28/1) pagi atau semakin menjauhi Rp17 ribu.
"Setelah enam kali kita turunkan sejak September 2024, kami masih punya ruang untuk menurunkan suku bunga dengan inflasi yang rendah dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Perry saat Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2025 yang ditayangkan melalui Youtube BI, Rabu (28/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perry memastikan, bank sentral juga akan terus melakukan ekspansi likuiditas moneter. Dengan demikian, perbankan tidak akan kekurangan untuk bisa mendorong pertumbuhan kredit.
"Kami pastikan kawan-kawan perbankan, likuiditas akan lebih cukup supaya Anda semua bisa menyalurkan kredit demi sektor riil, dan terutama juga ketahanan eksternal melalui kecukupan cadangan devisa," katanya.
Menurutnya, saat ini cadangan devisa BI berada di US$156,5 miliar. Lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas dan dipastikan akan terus meningkat demi menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.
"Jadi kebijakan moneter tagline-nya adalah pro-stability and pro-growth. Stability, nilai tukar. Kami akan jaga stabil dan menguat dan pro-growth melalui kebijakan suku bunga rendah, ekspansi liguritas, dan juga kecukupan cadangan devisa," pungkasnya.
Bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini berada di kisaran 4,9-5,7 persen dengan titik tengah 5,3 persen. Dengan inflasi di kisaran 2,5 persen plus 1 persen.
(ldy/sfr)