Pengamat Nilai Polis Asuransi Dolar Efektif Jaga Daya Beli Masa Depan
Industri asuransi jiwa di Indonesia diproyeksikan tetap berada di jalur pertumbuhan yang positif pada tahun 2026. Data terbaru dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menunjukkan bahwa total pendapatan premi industri telah mencapai Rp133,22 triliun hingga kuartal III-2025.
Meskipun angka premi mengalami penurunan tipis sebesar 1,1 persen secara tahunan, antusiasme masyarakat untuk memiliki perlindungan justru meningkat secara signifikan. Hal ini terlihat dari jumlah tertanggung yang kini menembus 151 juta jiwa, atau tumbuh sekitar 12,8 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini mencakup segmen tertanggung perorangan yang meningkat menjadi 22,32 juta orang atau naik 16,9 persen, serta tertanggung kumpulan yang mencapai 129,25 juta orang dengan kenaikan 12,1 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah dinamika pasar dan volatilitas ekonomi global, tantangan bagi pemegang polis kini tidak lagi sekadar memiliki asuransi, melainkan menjaga nilai riil dari manfaat proteksi tersebut di masa depan.
Inflasi dan fluktuasi nilai tukar sering kali membuat nilai santunan yang direncanakan saat ini menjadi tidak memadai ketika risiko benar-benar terjadi bertahun-tahun kemudian.
Perubahan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing dapat mengikis daya beli manfaat asuransi, terutama untuk kebutuhan yang biayanya dipengaruhi oleh standar global.
Pengamat Investasi dari Universitas Atma Jaya (UAJ) Yogyakarta, Sri Susilo, menjelaskan bahwa memiliki polis asuransi dalam denominasi Dolar Amerika Serikat (US$) dapat menjadi strategi efektif bagi masyarakat.
"Ke depan polis asuransi dwiguna prospektif dan sangat baik. Produk polis tersebut dapat sebagai pelindung (hedging) terhadap depresiasi rupiah. Di samping itu memberikan imbal kompetitif dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat terhadap dolar AS dan mata uang kuat (hard currencies) lainnya," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (30/1).
Dalam perencanaan keuangan, mata uang yang digunakan pada polis asuransi menjadi faktor krusial. Polis yang sepenuhnya berbasis Rupiah menghadapi risiko penurunan daya beli jika nilai tukar melemah terhadap mata uang global.
Hal ini menjadi sangat relevan karena US$ merupakan mata uang acuan utama untuk berbagai biaya strategis, seperti pendidikan tinggi di luar negeri, perawatan kesehatan bertaraf internasional, serta kebutuhan gaya hidup global lainnya.
Pergerakan kurs yang fluktuatif sering kali membuat santunan dalam Rupiah menjadi kurang efektif untuk memenuhi kebutuhan yang bergantung pada harga pasar internasional. Oleh karena itu, para perencana keuangan mulai menyarankan proteksi berbasis US$ sebagai cara untuk memastikan bahwa nilai manfaat asuransi tetap relevan dengan biaya hidup di masa depan.
Sebagai mata uang cadangan global, US$ memiliki rekam jejak stabilitas yang lebih konsisten dalam jangka panjang di tengah gejolak pasar internasional.
Merespons kebutuhan tersebut, industri asuransi kini menghadirkan produk yang relevan, seperti Mandiri Wealth Signature USD dari AXA Mandiri. Produk asuransi dwiguna ini mengombinasikan perlindungan jiwa dengan akumulasi nilai tunai dalam mata uang US$.
Skema ini dirancang agar manfaat proteksi yang diterima nasabah selaras dengan dinamika ekonomi global, sehingga keluarga dapat mempertahankan standar hidup atau membiayai rencana besar tanpa terbebani oleh penurunan nilai mata uang domestik.
Strategi ini pada dasarnya merupakan bentuk diversifikasi dalam pengelolaan risiko finansial. Menempatkan sebagian proteksi dalam US$ bukan merupakan langkah spekulasi, melainkan upaya untuk mengurangi konsentrasi risiko pada satu mata uang saja.
Langkah ini sangat relevan bagi kelompok masyarakat yang memiliki rencana pendidikan anak di luar negeri, para pelaku bisnis dengan eksposur ekonomi global, hingga keluarga yang ingin menjaga warisan nilai aset mereka lintas generasi.
Pada akhirnya, perlindungan finansial yang efektif bukan hanya soal besaran angka yang tertera dalam polis, tetapi bagaimana angka tersebut mampu mempertahankan nilainya terhadap perubahan ekonomi.
Di tengah industri asuransi yang terus tumbuh pada 2026, pemilihan mata uang proteksi menjadi elemen strategis untuk memastikan bahwa manfaat yang direncanakan tetap bermakna secara ekonomi saat dibutuhkan nantinya.
(rea/rir)[Gambas:Video CNN]