Bos Danantara Ajak Borong Saham saat IHSG Merah, Apa Pilihannya?
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir mendorong investor untuk tetap membeli saham emiten Indonesia, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merah hari ini.
Pandu menyebut saat ini merupakan waktu yang tepat untuk membeli saham yang mempunyai valuasi, fundamental, dan likuiditas yang baik.
"Untuk saham-saham yang punya valuasi yang baik, fundamental yang baik, likuiditas yang baik, maybe it's a good time to buy," ujar Pandu saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, Senin (2/2).
Menurutnya, aktivitas perdagangan memang cenderung menurun, tetapi sentimen pasar masih didorong oleh aksi beli bersih investor asing (net foreign buy).
Lihat Juga : |
Selain itu, koreksi saham juga terjadi pada emiten dengan valuasi tinggi yang sebelumnya dinilai kurang menarik untuk investasi (uninvestability) seiring aksi jual dari investor ritel.
"Kalau dilihat saham-saham yang fundamental itu mengalami malah net buy dan positif. Jadi ini menarik juga kalau lihat top 10, top 15 buy, top 10, top 15 sell, seperti yang kita bicarakan hari Minggu kemarin malah memang sekarang mulai terjadi," jelasnya.
Pandu juga mengingatkan investor seharusnya membeli saham untuk jangka panjang, bukan jangka pendek.
"Kita harus lihat balik ke fundamental, ke valuasi, kita harus membeli juga melihat saham-saham, dan ini bagus lah juga untuk pemikiran buat teman-teman, jangan hanya melihat short-term. Investasi itu harus memikir medium to long-term," terang Pandu.
Sore ini, Pandu turut hadir dalam pertemuan Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Pertemuan yang digelar secara daring itu akan membahas sejumlah permintaan MSCI, terutama terkait transparansi kepemilikan saham data hingga tata kelola free float.
Saat ditanya wartawan terkait posisi Danantara mengikuti pertemuan tersebut, Pandu membeberkan dirinya mewakili BPI Danantara sebagai pembeli saham ikut memantau.
"Karena kami merasa saham-saham di Indonesia tuh menarik karena ekonominya juga bagus dan saya merasa valuasinya juga sangat menarik kalau mungkin lihat ada beberapa broker pagi ini merilis, membicarakan bahwa apa yang dilakukan baik oleh bursa regulator ini sangat cepat lho," tambahnya.
Tekanan terhadap IHSG terjadi setelah pekan lalu pasar modal Indonesia diguncang kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara perlakuan indeks terhadap saham-saham Indonesia.
Kebijakan tersebut mencakup pembekuan kenaikan bobot saham, penghentian penambahan emiten baru, serta tidak adanya kenaikan kelas saham di seluruh segmen indeks MSCI.
Dampaknya, IHSG sempat anjlok hingga 8 persen pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1), yang memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt).
Kondisi itu juga diikuti oleh pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman serta mundurnya sejumlah pejabat OJK, termasuk Ketua DK OJK Mahendra Siregar.
Pada penutupan perdagangan sore ini, IHSG merosot 406,9 poin atau minus 4,88 persen ke level 7.922 dari perdagangan sebelumnya. Sebanyak 720 kebakaran, 58 saham menguat, dan 36 stagnan.
Mengutip RTI Infokom, investor melakukan transaksi sebesar Rp29,17 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 50,39 miliar saham.
(fln/sfr)