Rupiah Unjuk Gigi ke Rp16.754 per Dolar AS Selasa Sore

CNN Indonesia
Selasa, 03 Feb 2026 16:19 WIB
Nilai tukar rupiah menguat 0,26 persen ke Rp16.754 per dolar AS pada Selasa (3/2) sore. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah bertengger di level Rp16.754 per dolar AS pada Selasa (3/2) sore. Mata uang Garuda menguat 44 poin atau 0,26 persen dari perdagangan sebelumnya.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkanrupiahdi posisi Rp16.777 per dolar AS.

Mata uang di kawasan Asia cenderung menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,03 persen, yuan China menguat 0,13 persen, dolar Singapura menanjak 0,2 persen, won Korea Selatan menguat 0,37 persen, bath Thailand menguat 0,37 persen dan ringgit Malaysia menguat 0,5 persen.

Pelemahan dialami oleh dolar Hong Kong sebesar 0,03 persen dan peso Filipina sebesar 0,02 persen.

Di negara maju, mata uang utama juga kompak berada di zona hijau. Tercatat, poundsterling Inggris menguat 0,12 persen, euro Eropa menguat 0,17 persen, hingga dolar Australia naik 1,1 persen.

Pengamat Mata Uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan penguatan rupiah hari ini dipengaruhi oleh oleh sentimen eksternal dan internal.
Dari sisi eksternal, pasar mencermati sikap Presiden AS Donald Trump terhadop konflik di Iran. Selain itu, Trump juga sepakat untuk memangkas tarif impor produk India dari 50 persen menjadi 18 persen sebagai imbalan atas penghentian pembelian minyak Rusia oleh India dan penurunan hambatan perdagangan.

"Kemudian, Presiden AS Donald Trump menominasikan mantan gubernur Federal Reserve Kevin Warsh sebagai ketua bank sentral berikutnya. Meskipun nominasi tersebut menghilangkan poin ketidakpastian utama bagi pasar, mengurangi permintaan aset aman, Warsh juga dipandang sebagai pilihan yang kurang lunak daripada yang diharapkan pasar," ujar Ibrahim melalui keterangan tertulis.

Di internal, S&P Global Market Intelligence mencatat Purchasing Managers' Index (PMI)Manufaktur Indonesia berada di level 52,6 pada Januari 2026. Angka tersebut naik dari level 51,2 pada Desember 2025. Kenaikan tergolong sedang dan pertumbuhan terus meningkat dengan indeks di atas 50.

"S&P melihat kenaikan kebutuhan produksi dan kondisi permintaan yang membaik mendorong perusahaan untuk menaikkan pembelian input selama enam bulan berturut-turut. Perusahaan juga melaporkan upaya menaikkan inventaris pra dan pasca produksi untuk mempersiapkan kenaikan produksi di tengah permintaan yang terus naik," ujarnya.

Lebih lanjut, Ibrahim memperkirakan rupiah bakal tertekan pada perdagangan esok hari dan ditutup di rentang Rp16.750-Rp16.780 per dolar AS.

(sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK