Usung Keberlanjutan, BTN Targetkan 20.000 Rumah Rendah Emisi di 2026

BTN | CNN Indonesia
Kamis, 05 Feb 2026 10:05 WIB
BTN mendorong pembiayaan rumah rendah emisi bagi 20 ribu unit di 2026, dan meningkatkan porsi pembiayaan berkelanjutan sebagai wujud komitmen ramah lingkungan.
(Foto: arsip BTN)
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mendorong pembiayaan rumah rendah emisi kepada 20 ribu unit pada tahun 2026, dan meningkatkan porsi pembiayaan berkelanjutan sebagai wujud komitmen perseroan menerapkan praktik perbankan yang ramah lingkungan (green banking).

Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo mengatakan, hingga akhir 2025, BTN telah menyalurkan pembiayaan untuk pembangunan 11 ribu rumah rendah emisi yang dilakukan oleh berbagai developer di berbagai daerah, contohnya Legok (Banten), Cileungsi (Kabupaten Bogor), Medan, Semarang, Cirebon, dan Bekasi.

"Harapannya, tahun ini bisa mencapai 20 ribu rumah rendah emisi, kalau bisa 30 ribu. Sampai tahun 2029, harapannya kita ingin membangun 150 ribu unit dan sampai 2030 kita harap 200 ribu," ujar Setiyo dalam Media Briefing Program Rumah Rendah Emisi di Perumahan Mutiara Gading City, Bekasi, Rabu (4/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BTN pertama kali meluncurkan Program Rumah Rendah Emisi pada kuartal IV-2024 bersama sejumlah developer dengan target pembangunan 1.000 unit rumah rendah emisi dalam tiga bulan. Program yang kini telah berjalan selama dua tahun tersebut didukung oleh beberapa mitra startup yang memproduksi material atau bahan bangunan ramah lingkungan dari sampah plastik yang sudah tidak bernilai.

Di antara para startup produsen material eco-friendly, ada Rebrick, Plustik, dan Green Brick yang mengumpulkan sampah plastik berupa bungkus mie instan serta sachet sabun dan sampo, sebelum mengolahnya menjadi bahan bangunan untuk flooring, paving, dan dinding. Mereka berkontribusi dalam pengurangan polusi atau sampah rumah tangga.

"Setiap produsen memiliki produk yang berbeda-beda namun mereka saling melengkapi. Dengan rumah rendah emisi ini justru kita menciptakan beberapa startup baru di bidang recycle plastik. Kami sedang mencari pengusaha di setiap pulau karena bisnis ini inklusif, jadi siapa saja bisa terlibat. Saat ini angkanya baru 11.000 (rumah rendah emisi), kalau mau mencapai jutaan tentunya perlu dukungan lebih banyak startup," tutur Setiyo.

Salah satu upaya BTN untuk mencari startup berpotensial adalah melalui ajang kompetisi tahunan BTN Housingpreneur yang banyak menelurkan beragam inovasi yang mendukung sektor perumahan. Plustik yang dibangun Reza Hasfinanda menjadi contoh alumni BTN Housingpreneur 2024, yang telah memulai kolaborasinya bersama para developer rumah rendah emisi melalui dukungan BTN sebagai enabler.

BTN juga kembali menghasilkan para inovator baru melalui BTN Housingpreneur 2025 yang ditutup pada 31 Januari 2026 dengan total 1.170 submission. Ajang tersebut menghasilkan 26 pemenang dari total 58 finalis yang lolos penilaian dewan juri dari pelaku industri perumahan, akademisi, arsitek, dan manajemen BTN.

Setiyo menyatakan apresiasi kepada para developer yang berpartisipasi dalam Program Rumah Rendah Emisi BTN, antara lain Preadi Ekarto selaku pemilik dan CEO ISPI Group yang membangun Perumahan Mutiara Gading City di Bekasi. ISPI Group merupakan salah satu developer yang telah terlibat program BTN sejak dimulai pada November 2025.

"Kami di ISPI Group terus mendukung program rumah rendah emisi ini. Banyak lahan yang masih bisa dibangun untuk rumah rendah emisi," ujar Preadi.

Untuk lebih mendorong lebih banyak developer terlibat dalam Program Rumah Rendah Emisi, BTN akan menstandarisasi insentif yang akan diberikan untuk developer menjadi suatu paket yang menarik.

"Bunga untuk developer rumah rendah emisi juga sudah diturunkan. Nanti akan kami standarisasi, misalnya suku bunganya bisa turun 25 basis poin. Jadi macam-macam insentifnya," kata Setiyo.

Tidak hanya bermitra dengan developer dan startup daur ulang, BTN turut melibatkan nasabah KPR dalam pengurangan emisi karbon melalui Program "Bayar Angsuran-Mu Pakai Sampah-Mu", yang memungkinkan debitur KPR BTN mengumpulkan sampah rumah tangga melalui startup Rekosistem. Nantinya, sampah dikonversi menjadi rupiah ke dalam tabungan nasabah untuk mengurangi angsuran KPR.

"Setelah dihitung-hitung, dengan mengikuti program ini bisa mengurangi cicilan KPR sekitar 10-15% per bulannya atau sekitar Rp100.000-150.000, ini lumayan sekali untuk memberikan penghasilan tambahan bagi rumah tangga yang terlibat," ujar Setiyo.

Program "Bayar Angsuran-Mu Pakai Sampah-Mu" mendapatkan apresiasi dari Ratu Belanda Queen Maxima dalam kapasitasnya sebagai Advokat Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Financial Health (UNSGSA) saat kunjungannya ke Indonesia pada 2025 lalu. Saat itu, Ratu Maxima bertemu dengan para nasabah KPR BTN.

Direktur Commercial Banking BTN, Hermita turut mengapresiasi para nasabah KPR BTN yang menunjukkan antusiasmenya untuk turut terlibat dalam Program "Bayar Angsuran-Mu Pakai Sampah-Mu". "Kami berharap lebih banyak lagi nasabah KPR BTN yang tertarik untuk ikut mengumpulkan sampah dalam program ini, sehingga mereka dapat merasakan manfaatnya terhadap pengelolaan keuangan keluarga," ujarnya.

Setiyo mengatakan, apresiasi tersebut menjadi pengakuan dunia terhadap komitmen BTN menerapkan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environment, Social, and Governance/ESG). Hal ini sejalan dengan keberhasilan BTN meraih ESG Rating AA berdasarkan MSCI ESG Ratings pada 2025, menempatkan perseroan sebagai yang terdepan di antara seluruh perbankan nasional dalam komitmen dan realisasi penerapan ESG.

Guna memperkuat prinsip keberlanjutan, BTN berharap dapat meningkatkan total loan portfolio-nya di sustainability atau ESG menjadi 60% pada 2026 dari 52% saat ini.

"Portofolio ESG BTN juga termasuk pembiayaan kepemilikan rumah bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), karena memberdayakan MBR termasuk aspek sosial dalam ESG," pungkas Setiyo.

(rea/rir)


[Gambas:Video CNN]