Bitcoin Ambrol 13 Persen dalam Sehari, Pasar Kripto Kehilangan Rp33 T
Pasar mata uang kripto ambrol akibat aksi jual besar-besaran pada perdagangan Kamis (5/2). Akibatnya, tak hanya Bitcoin, tapi valuasi atau nilai pasar kripto terjun US$2 triliun atau setara Rp33,7 triliun (kurs Rp16.876).
Berdarahnya pasar kripto menyusul terjunnya harga Bitcoin hampir 50 persen ke level US$65 ribu dalam tiga bulan terakhir. Padahal, di awal Oktober 2025 harga raja kripto ini masih di kisaran US$125 ribu.
Melansir CNN.com, harga Bitcoin sempat turun 13 persen dalam 24 jam terakhir. Penurunan harga tersebut menjadi koreksi harian terdalam sejak 16 bulan terakhir.
Penurunan Bitcoin merupakan hal yang wajar mengingat kondisi pasar yang fluktuatif. Namun, kondisi saat ini justru terjadi saat empat bulan terakhir Bitcoin memiliki banyak sentimen pendukung kenaikan harga.
Para penggiat mata uang kripto sempat merekomendasikan investor untuk memberlakukan Bitcoin layaknya aset lindung nilai seperti emas digital.
Analis menilai ada beberapa faktor utama yang menyebabkan harga Bitcoin turun dalam. Salah satunya faktor miners atau penambang. Mereka mulai menjual cadangan koin untuk menutupi biaya operasional yang tinggi. Ada juga faktor likuidasi massal di perdagangan berjangka yang memberikan efek domino.
"Apa yang kita lihat hari ini adalah pembersihan pasar secara agresif," kata seorang analis pasar senior kepada CNN.
Sentimen lain yang turut memengaruhi penurunan Bitcoin adalah tren suku bunga bank sentral yang cenderung tinggi. Ditambah lagi, ketidakpastian regulasi global yang membuat investor memilih untuk menarik investasi mereka dari aset berisiko.
Turunnya kapitalisasi pasar kripto tidak hanya berdampak pada investor ritel, melainkan juga pada institusi besar yang baru saja masuk ke pasar kripto melalui produk ETF.
Berdasarkan laporan terbaru, kerugian pasar kripto secara keseluruhan telah mencapai angka fantastis, yakni US$2 triliun, setara dengan hilangnya valuasi beberapa perusahaan raksasa dunia sekaligus.
(ins/pta)