Harga Minyak Kembali Merosot usai Terkerek Risiko Ketegangan AS-Iran

CNN Indonesia
Selasa, 10 Feb 2026 10:34 WIB
Harga minyak turun tipis pada perdagangan di kawasan Asia, Selasa (10/2) pagi.
Harga minyak turun tipis pada perdagangan di kawasan Asia, Selasa (10/2) pagi. Ilustrasi. (iStock/nielubieklonu).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak turun tipis pada perdagangan di kawasan Asia, Selasa (10/2). Pelemahan terjadi di tengah pelaku pasar yang mencermati potensi gangguan pasokan di tengah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Dilansir Reuters, harga kontrak minyak mentah Brent turun 25 sen, atau 0,4 persen, menjadi US$68,79 per barel pada pukul 0102 GMT. Senada, minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 23 sen, atau 0,4 persen, menjadi US$64,13 per barel.

Hal itu terjadi setelah harga naik lebih dari 1 persen pada awal pekan ini lantaran Badan Administrasi Maritim Departemen Transportasi AS menyarankan kapal komersial berbendera AS untuk tetap berada sejauh mungkin dari perairan teritorial Iran dan untuk secara verbal menolak izin pasukan Iran untuk naik ke kapal jika diminta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekitar seperlima minyak yang dikonsumsi secara global melewati Selat Hormuz antara Oman dan Iran, sehingga setiap peningkatan ketegangan di wilayah tersebut merupakan risiko besar bagi pasokan minyak global.

Iran, bersama dengan anggota OPEC lainnya seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat tersebut, terutama ke Asia.

Pedoman tersebut dikeluarkan meskipun diplomat utama Iran mengatakan pekan lalu bahwa pembicaraan nuklir yang dimediasi Oman dengan AS telah dimulai dengan "baik" dan akan berlanjut.

"Meskipun pembicaraan di Oman menghasilkan nada yang positif namun hati-hati, ketidakpastian yang masih ada mengenai potensi peningkatan ketegangan, pengetatan sanksi, atau gangguan pasokan di Selat Hormuz telah mempertahankan premi risiko yang moderat," tulis Analis IG Tony Sycamore dalam catatan kepada kliennya.

Sementara itu, Uni Eropa telah mengusulkan perluasan sanksi terhadap Rusia yang mencakup pelabuhan di Georgia dan Indonesia yang menangani minyak Negara Beruang Merah.

Ini kali pertama blok tersebut menargetkan pelabuhan di negara ketiga, menurut dokumen proposal yang ditinjau oleh Reuters.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk memperketat sanksi terhadap minyak Rusia, sumber pendapatan utama bagi Moskow, terkait perang di Ukraina.

Sejumlah trader mengungkap Indian Oil Corp (IOC.NS) membeli enam juta barel minyak mentah dari Afrika Barat dan Timur Tengah lantaran perusahaan menghindari minyak Rusia di tengah upaya New Delhi mencapai kesepakatan perdagangan dengan Washington.

[Gambas:Video CNN]

(sfr)