BI Beber Biang Kerok Harga Emas Melesat: Investor Lari ke Aset Aman

CNN Indonesia
Selasa, 10 Feb 2026 19:37 WIB
Bank Indonesia (BI) mengungkap penyebab lonjakan harga emas dalam setahun terakhir dipicu oleh pergeseran perilaku investor global yang melirik aset aman. Ilustrasi. (istockphoto/Filograph).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) mengungkap penyebab lonjakan harga emas dalam setahun terakhir dipicu oleh pergeseran perilaku investor global yang memilih mengalihkan dana ke aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan meningkatnya tensi geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan moneter global mendorong investor meninggalkan aset berisiko. Dalam kondisi tersebut, emas kembali menjadi instrumen lindung nilai utama.

"Banyak para investor dan pelaku pasar mereka cari yang safe haven deh. Jadi gak heran emas ini harganya dalam satu tahun terakhir aja naiknya sudah lebih dari dua kali lipat," ujar Destry dalam CNBC Indonesia Outlook, Selasa (10/2).

Menurutnya, kenaikan harga emas dalam satu tahun terakhir tergolong ekstrem dan ini menunjukkan adanya pergeseran besar dalam perilaku investor global.

Investor kini lebih selektif dalam memilih instrumen investasi yang mampu memberikan imbal hasil optimal di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Karena saya ingat sekali tahun lalu ngobrol dengan orang emas masih harga Rp1,1 juta tahun lalu, awal tahun. Tahun ini, hari ini, emas itu sudah mendekati Rp3 juta. Jadi kan naiknya sudah tiga kali lipat gitu. Artinya memang terjadi pergeseran," katanya.

Destry menegaskan, pergeseran instrumen investasi pilihan ini turut membuat rupiah tertekan. Sebab, pelaku pasar akan mencari mata uang yang paling memberikan imbal hasil paling tinggi.

"Uang itu kan enggak ada yang loyal. Uang itu hanya loyal pada berapa sih return yang saya dapat dengan 1 persen atau 1 rupiah atau 1 dolar saya invest," tegasnya.

Namun, ia menekankan bank sentral akan ada terus di pasar untuk menstabilkan rupiah. Hanya saja, upaya stabilitas memang membutuhkan waktu.

"Susah ya bisa rupiah dalam sekejap, satu hari, di-twist langsung menguat ya. Itu gak akan bisa. Kita butuh suatu proses. Kenapa butuh suatu proses? Karena kita ingin kita tumbuh bersama, kita ingin kuat bersama tentu dengan industri dan dengan market," pungkasnya.

(ldy/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK