Artha Graha Peduli Rajut Harmoni Imlek Nusantara Melampaui Sekat Etnis

Arta Graha | CNN Indonesia
Rabu, 11 Feb 2026 21:58 WIB
Perayaan Imlek 2026 dengan tema Harmoni Imlek Nusantara menekankan inklusivitas dan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat hubungan antar komunitas.
Ilustrasi perayaan imlek. (Foto: CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perayaan Imlek 2026 mengambil makna baru melalui tema Harmoni Imlek Nusantara yang mengusung nilai inklusivitas dan kebersamaan. Di balik tema besar ini, peran lembaga sosial seperti Artha Graha Peduli menjadi kunci dalam mewujudkan jembatan akulturasi dan toleransi antar komunitas.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Ketua Umum Panitia Imlek Nasional 2026, Irene Umar, menegaskan bahwa Imlek bukan sekadar perayaan satu komunitas. Perayaan ini telah menjadi ruang perjumpaan nilai budaya yang berbeda namun saling melengkapi.

"Perayaan Imlek tidak hanya dipahami sebagai tradisi Tionghoa, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional yang terus berkembang," kata Irene dalam talkshow Harmoni Imlek Nusantara di CNN Indonesia TV, Rabu (11/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia pun menekankan bahwa semangat inklusivitas tidak cukup berhenti pada narasi. Ia menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor agar nilai harmoni benar-benar terasa di masyarakat.

"Indonesia is the most inclusive country in the whole world. Tapi kita jangan cuma ngomong-ngomong saja," ujar Irene.

Ia menjelaskan bahwa Harmoni Imlek Nusantara dirancang sebagai ruang perjumpaan yang terbuka bagi semua kalangan. Perayaan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat relasi sosial tanpa memandang latar belakang.

Menurut Irene, pendekatan kolaboratif melibatkan pemerintah, swasta, dan komunitas menjadi kunci. Ia menyebut pentingnya membangun hubungan yang berkelanjutan dalam kehidupan bermasyarakat.

"Kita adalah orang Indonesia. Mari kita berbangga dengan hal tersebut," katanya.

Konsep harmoni ini tidak lahir begitu saja, tetapi dirajut melalui kerja konkret berbagai pihak. Artha Graha Peduli tercatat sebagai salah satu institusi yang konsisten hadir dalam setiap momen kemanusiaan di Indonesia, khususnya di Aceh.

Pemilik Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, Azmi Abubakar, menyaksikan langsung kontribusi Artha Graha Peduli sejak bencana tsunami 2004 hingga banjir terkini. Kehadiran mereka tidak hanya membawa bantuan material, tetapi juga memperkuat ikatan persaudaraan lintas etnis.

"Lagi-lagi semenjak hari pertama terjadi bencana yang kemarin, orang Tionghoa dari berbagai komunitas, institusi hadir di Aceh sampai hari ini. Belum selesai. Di antaranya mungkin yang bisa saya sebut seperti Arta Graha Peduli," ungkap Azmi.

Bantuan yang diberikan secara konsisten dalam musibah seperti banjir dan longsor menjadi jembatan akulturasi yang efektif. Ia melihat perubahan cara pandang masyarakat sebagai hasil dari interaksi yang konsisten.

Sejarah menunjukkan bahwa hubungan lintas etnis di Indonesia telah berlangsung lama dan saling memengaruhi. Hal tersebut selaras dengan semangat 'tak kenal maka tak sayang' yang didorong dalam perayaan Imlek tahun ini.

"Di Aceh pada hari ini melihat orang Tionghoa seperti melihat saudaranya. Tidak ada lagi walaupun casingnya beda. Tapi kita bersaudara," ucap Azmi.

Dalam konteks itu, peran Artha Graha Peduli dipandang sejalan dengan tema besar Imlek 2026. Melalui aksi nyata dan keterlibatan sosial, nilai harmoni dinilai dapat terus dirawat dalam praktik sehari-hari, menjadi jembatan interaksi dan akulturasi yang tumbuh secara alami.

(rir)