Pengusaha Ungkap Dua Alasan Garam Rakyat Kurang Dilirik Industri Mamin
Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) mengungkap penyebab garam rakyat atau garam lokal kurang diminati industri makanan dan minuman (mamin).
Ketua Umum GAPMMI Adhi S Lukman menyebut kualitas garam Indonesia masih rendah, sehingga sulit diserap untuk memenuhi standar industri pengolahan.
Menurutnya, garam lokal masih membutuhkan proses peleburan terlebih dahulu sebelum dikristalkan kembali. Proses tersebut membuat bobot garam banyak menyusut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau garam bagus yang seperti garam Madura. Itu sebagian bagus yang KW1, itu bisa dari kristal, langsung digiling, disesuaikan, terus difortifikasi dengan iodium, sudah beres," ujar Adhi di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Kamis (12/2).
Lihat Juga : |
Selain dari sisi kualitas, persoalan harga juga jadi pertimbangan. Adhi mengatakan harga garam lokal lebih tinggi dari garam impor, seperti dari Australia dan India. Garam lokal dibanderol sekitar Rp2.500 per kilogram (kg), sementara di Australia berada di bawah Rp1.000 per kg.
"Saingan kita kan Australia, India. Australia itu garam sangat murah sekali, karena tinggal gali, garamnya sudah ada. Tidak usah nanam air, panen, segala macam. Tapi perkiraan menurut saya sih, kalau garam di sini kan di tingkat petani sekitar Rp2.500 per kg. Mungkin di Australia sekitar di bawah Rp1.000 per kg," imbuhnya.
Dengan demikian, ia berharap KKP dapat meningkatkan kualitas garam di petambak agar saat diolah oleh industri, penyusutan bobotnya tidak banyak.
"Kami berharap bisa fokus bagaimana meningkatkan petani untuk memproduksi garam yang berkualitas. Supaya kalau diolah ke PT Garam maupun ke industri pengolahan lainnya, itu susutnya tidak banyak," imbuhnya.
Dalam kesempatan sama, Direktur Sumber Daya Kelautan KKP Frista Yorhanita mengungkap harga garam mahal karena faktor logistik. Untuk mengatasinya, KKP akan menggandeng kementerian/lembaga lain untuk memperbaiki jalur distribusi garam.
"Kami harus menggandeng kementerian lain, contoh misalnya untuk perbaikan sarana. Tidak mungkin seluruh tambak (garam) di Pantura ini akan dikerjakan oleh KKP untuk perbaikan salurannya, termasuk untuk yang membuat harga garam tinggi," ujar Frista.
Frista menjelaskan perbaikan jalur distribusi garam akan menggandeng Kementerian Pekerjaan Rumah (PU) untuk perbaikan jalan dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk pembangunan pelabuhan.
"Salah satunya adalah jalur distribusi yang kurang bagus, perbaikan jalan, pelabuhan, itu kita harus menggandeng teman-teman di Kementerian PU, Kementerian Perhubungan untuk membangun pelabuhan, memperbaiki jalan," terangnya.
Pemerintah akan terus membenahi sisi hulu, termasuk meningkatkan kualitas garam rakyat bisa sesuai standar industri. KKP tengah mengembangkan teknologi pengolahan garam dan sarana penyimpanan garam.
"Ini kita lakukan perbaikan juga misalnya dengan memperbaiki saluran airnya, sehingga intake air ke petambak itu kualitasnya bagus, kemudian juga kita menyediakan sarana-sarana pengolahan seperti washing plant untuk mencuci garamnya, meningkatkan kualitasnya," tambah Frista.
(fln/pta)