Bahlil Beber Strategi Indonesia Tekan Impor BBM
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membeberkan strategi pemerintah dalam menekan impor bahan bakar minyak (BBM) nasional pada 2026 hingga 2027.
Pemerintah menargetkan pengurangan impor secara signifikan melalui peningkatan produksi dalam negeri serta penerapan program bahan bakar campuran.
Bahlil mengungkapkan jumlah impor bensin selama ini sekitar 25 juta hingga 26 juta kiloliter. Setelah dilakukan Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan, terjadi penghematan kuota impor sebesar 5 juta kiloliter.
"Kami sekarang memprogramkan bensin kita konsumsi sekitar 40 juta kiloliter. Dari 40 juta, produksi kita hanya 14,5 juta kiloliter selebihnya kita impor," ujar Bahlil saat memberikan sambutan Sidang Dewan Pleno BPP HIPMI, Minggu (15/2).
"Impor kita itu sekitar 25 hingga 26 juta kiloliter dengan RDMP kita di Kalimantan kemarin itu bisa menghemat sekitar 5 juta. Berarti impor bensin kita tersisa hanya 20 juta kiloliter," sambungnya.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penerapan mandatori E20 dan E10 yakni campuran bahan bakar nabati dengan bensin yang akan mengurangi impor hingga sebesar 9 juta kiloliter.
"Kita bikin mandatori E20 dan E10 itu bisa mengurangi 9 juta. Jadi impor kita hanya 11 juta," ujarnya,
Bahlil juga menyoroti konsumsi solar nasional yang mencapai 39 juta kiloliter per tahun, sementara produksi domestik hanya sekitar 16 juta kiloliter.
Beroperasinya RDMP Kilang Balikpapan membuat produksi solar domestik bertambah 3,9 juta kl.
Kemudian, dengan implementasi biodiesel B40, Indonesia akan mampu tidak lagi mengimpor solar sepanjang sejarah.
"Tahun ini, dengan penerapan B40 tidak lagi kita melakukan impor solar pertama dalam sejarah peradaban bangsa kita," katanya.
Dengan kebijakan ini, Bahlil tidak takut dirinya menjadi sasaran bulliying di sosial media, akibat Indonesia tidak impor solar lagi.
"Pasti importir sakit kepala ini, nanti keluar lagi di sosmed gambar saya bagaimana lah. Dalam hati saya, terserah kaulah, mau-mau kaulah. Tidak merugikan pendapatan saya kok," ujarnya.
Pada 2027, sambung Bahlil, pemerintah menargetkan produksi bensin dengan kualitas tinggi seperti RON 92, RON 95 dan RON 98, termasuk avtur.
"Jadi 2027 agenda kami adalah tidak impor solar untuk C51, avtur kemudian bensin RON92, RON 95 dan 98. Yang kita impor RON90 dengan volumenya yang sedikit," bebernya.
Dengan strategi tersebut, kata Bahlil dapat mencegah terjadinya kasus tindak pelanggaran hukum.
"Inilah strategi kita agar tidak ada lagi persoalan impor yang diperiksa oleh aparat penegak hukum. Nanti kita impor tinggal krutnya saja," jelasnya.
Selain itu, Bahlil menyinggung negara yang menjadi langganan Indonesia untuk mengimpor bensin yang akan mengalami kerugian cukup besar akibat strategi yang dijalankan nantinya.
"Itulah kemudian negara tetangga kita sebentar lagi akan. Karena 40 persen minyak mereka ekspornya ke kita, masa satu negara kecil kok bisa menjajah kita dengan BBM. Kita bertekad untuk tidak impor dari dia. Ini harus punya nyali," ujarnya.
Tekan Impor LPG
Tak hanya BBM, Bahlil juga berambisi untuk menekan impor LPG. Saat ini, konsumsi LPG nasional mencapai 8,3 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 1,6 juta ton.
"Kita impor 7 juta lebih dengan total impor (LPG) kita Rp120 (triliun) hingga 130 triliun per tahun," ujarnya.
Bahan baku LPG memang berasal dari gas. Sayangnya, beberapa jenis gas yang digunakan sebagai bahan baku LPG tidak diproduksi di Indonesia.
"Untuk LPG, bahan baku dari gas. Tapi gas itu ada C1, C2, C3 dan C4. Nah, untuk produksi LPG itu C3 dan C4. Kita punya produksi di Indonesia yang lebih banyak C1 dan C2. Maka tidak akan mungkin bisa produksi LPG dalam negeri, kalau tidak kita segerakan switch," ungkapnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mendorong pengembangan Dimethyl Ether (DME) sebagai substitusi LPG berbasis batu bara kalori rendah.
"Maka kita dorong DME sebagai substitusi impor yaitu, batu bakar rendah kalori untuk menghasilkan DME sebagai pengganti LPG. Itu caranya, kalau tidak seperti itu saya yakin akan sulit," jelasnya.
(mir/sfr)