Rupiah Ditutup Keok Rp16.884 per Dolar AS Imbas Ketidakpastian Global
Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level 16.884 per dolar AS pada Rabu (18/2) sore. Mata uang Garuda melemah 47 poin atau 0,28 persen dari perdagangan sebelumnya.
Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp16.884 per dolar AS.
Mata uang di kawasan Asia bergerak bervariasi. Yen Jepang turun 0,24 persen, yuan China turun 0,05 persen, serta dolar Singapura juga melemah 0,08 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan baht Thailand naik 0,05 persen, peso Filipina menguat 0,17 persen, dan won Korea Selatan naik 0,06 persen.
Dolar Hong Kong terpantau stagnan pada penutupan perdagangan sore ini.
Mata uang utama negara maju juga kompak berada di zona merah. Euro Eropa melemah 0,17 persen, poundsterling Inggris melemah 0,05 persen, dan franc Swiss turun 0,22 persen. Kemudian, dolar Australia keok 0,18 persen, dan dolar Kanada juga jatuh 0,19 persen.
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan domestik.
Dari sisi eksternal, ketidakpastian masih tinggi meski AS dan Iran sepakat soal prinsip panduan soal nuklir.
Namun, risiko militer tetap tinggi setelah Garda Revolusi Iran melancarkan latihan di Selat Hormuz, karena pasukan AS tetap ditempatkan secara besar-besaran di seluruh Timur Tengah.
Kemudian, investor juga berhati-hati menjelang rilis risalah dari pertemuan kebijakan Federal Reserve.
"Investor juga menunggu laporan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS untuk bulan Desember, yang akan dirilis pada Jumat, indikator inflasi pilihan Fed yang dapat membentuk ekspektasi suku bunga," kata Ibrahim.
Dari sisi domestik, kondisi defisit APBN tengah mendapatkan sorotan dari publik. Ibrahim menilai bila pemerintah tidak cermat dalam melakukan pengelolaan keuangan negara, maka ketergantungan terhadap defisit berpotensi menunda reformasi struktural.
(pta/ins)