Prabowo Pamer Efisiensi APBN Tembus Rp305 T Hanya Dalam 3 Bulan

CNN Indonesia
Kamis, 19 Feb 2026 10:32 WIB
Prabowo memamerkan keberhasilannya menghemat APBN hingga US$18 miliar atau setara Rp305 triliun hanya dalam tiga bulan di depan investor AS. (Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden RI Prabowo Subianto memamerkan keberhasilan menghemat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga US$18 miliar atau setara Rp305 triliun (kurs Rp16.926) hanya dalam tiga bulan di awal masa kepemimpinannya.

Ia menyampaikan itu dalam acara Business Summit di US Chamber of Commerce, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (18/2) waktu setempat.

"Dalam beberapa bulan pertama memimpin pemerintahan ini, saya telah menghemat anggaran negara sekitar US$18 miliar dolar secara tunai," kata Prabowo.

Ia berpendapat langkah pemangkasan tersebut cukup berhasil, bahkan mengklaim dirinya merupakan satu dari sedikit Presiden RI yang berhasil menghemat hingga US$18 miliar hanya dalam waktu tiga bulan.

"Saya rasa saya adalah salah satu dari sedikit presiden Indonesia yang dalam tiga bulan pertama pemerintahannya berhasil menghemat US$18 miliar secara tunai," ujarnya.

Prabowo menjelaskan penghematan ini berasal dari inefisiensi dan proyek-proyek yang dinilai tidak produktif seperti kegiatan-kegiatan seremonial.

"Ada banyak hal yang saya batalkan. Misalnya, setiap institusi pemerintah menghabiskan cukup banyak uang untuk upacara atau seremonial," ujarnya.

Ia mengakui budaya seremonial itu merupakan salah satu kelemahan bangsa Indonesia. Prabowo mencontohkan salah satunya menggelar acara ulang tahun kementerian/lembaga yang menghabiskan banyak uang.

"Bisa Anda bayangkan berapa ratus upacara yang kita adakan setiap minggu dan setiap bulan di seluruh Indonesia? Jadi, saya batalkan saja itu semua," ucapnya.

Menurutnya, tugas pemerintah adalah bekerja secara penuh bagi rakyat. Prabowo pun bertekad akan melakukan efisiensi anggaran ini sepenuhnya bagi kepentingan rakyat Indonesia.

"Kami memangkas biaya perjalanan dinas luar negeri dari institusi pemerintah yang mencapai miliaran dolar. Semua orang ingin melakukan studi banding untuk mempelajari sesuatu di luar Indonesia, padahal menurut saya masalah Indonesia sudah sangat jelas," pungkasnya.

(mnf/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK