Ada Libur Imlek-Lebaran, Bos BI Pede Ekonomi RI Melesat Kuartal I 2026

CNN Indonesia
Kamis, 19 Feb 2026 19:28 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis ekonomi domestik bakal tumbuh tinggi pada kuartal I 2026. (AFP/BAY ISMOYO).
Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis ekonomi domestik bakal tumbuh tinggi pada kuartal I 2026. Pasalnya, banyak libur yang dinilai mendorong pergerakan hingga belanja masyarakat.

Kendati demikian, Perry tidak menyebutkan angka proyeksinya secara detail. Hingga akhir tahun, BI memperkirakan ekonomi bisa tumbuh hingga 5,7 persen.

"Kami melihat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal 1 itu masih akan tetap tinggi. Karena di kuartal 1 ini, ada Tahun Baru Cina, Imlek, ada juga kemudian Idul Fitri, demikian juga ada Waisak dan ini akan mendorong peningkatan konsumsi," ujar Perry dalam Konferensi Pers Hasil RDG, Kamis (19/2).

Investasi juga diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi pada paruh pertama tahun ini didorong oleh investasi Pemerintah, termasuk hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA), serta perbaikan keyakinan pelaku usaha yang masih berlanjut.

Selain itu, Perry memastikan kebijakan yang ditempuh BI akan diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan pembiayaan kredit ke sektor riil, khususnya sektor-sektor prioritas pemerintah.

Bank sentral juga memastikan akan terus hadir melalui stimulus moneter, suku bunga hingga ekspansi likuiditas. Koordinasi dengan pemerintah juga dinilai akan makin dipererat dan ditingkatkan.

"Sebagaimana diketahui kami sinergi dengan Pak Menteri Keuangan, Kementerian Keuangan, sama-sama bagaimana memastikan likuiditas itu ada di pasar keuangan dan perbankan," jelasnya.

Ekspansi likuiditas Rupiah juga ditempuh Bank Indonesia melalui penurunan posisi instrumen moneter SRBI dari Rp916,97 triliun pada awal 2025 menjadi Rp819,50 triliun pada 18 Februari 2026.

Bank Indonesia juga membeli SBN sebagai bentuk sinergi erat antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal, yang pada 2026 (hingga 18 Februari 2026) mencapai Rp39,92 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp20,23 triliun.

"Pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan sesuai mekanisme pasar, terukur, transparan, dan konsisten dengan program moneter dalam menjaga stabilitas perekonomian sehingga dapat terus menjaga kredibilitas kebijakan moneter," terang Perry.

(ldy/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK