Purbaya Ungkap Kondisi Ekonomi Global: Isu Tarif, The Fed hingga China

CNN Indonesia
Senin, 23 Feb 2026 19:19 WIB
Menkeu Purbaya mengatakan kondisi ekonomi global turut dibayangi pelambatan pertumbuhan ekonomi di China, akibat lemahnya konsumsi domestik.
Menkeu Purbaya mengatakan kondisi ekonomi global turut dibayangi pelambatan pertumbuhan ekonomi di China, akibat lemahnya konsumsi domestik. (FOTO:ANTARA/BAYU PRATAMA S).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kondisi ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian dengan persoalan yang kompleks. Meski demikian, ia menilai perekonomian dunia masih menunjukkan daya tahan yang ditopang pertumbuhan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sebaiknya, ia menyebut negara-negara maju tengah menghadapi tekanan. Amerika Serikat (AS), misalnya, dihadapkan dengan polemik kebijakan tarif resiprokal Presiden Donald Trump yang dibatalkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat.

Selain itu, pasar juga mencermati isu independensi bank sentral AS setelah muncul nominasi Kevin Warsh sebagai calon pimpinan baru Federal Reserve.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perkembangan terbaru menunjukkan MA AS membatalkan tarif resiprokal Presiden Trump. Pasar juga mencermati isu independensi The Fed pasca nominasi Kevin Warsh," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN di Jakarta, Senin (23/2).

Ia menambahkan, ketidakpastian di negara dengan kapasitas ekonomi besar juga tercermin dari kebijakan suku bunga The Fed. Pada Januari 2026, bank sentral AS itu menahan suku bunga acuan di level 3,5 persen hingga 3,75 persen setelah tiga kali memangkas suku bunga pada periode sebelumnya.

Di samping itu, Purbaya mengatakan kondisi ekonomi global turut dibayangi pelambatan pertumbuhan ekonomi di China, akibat lemahnya konsumsi domestik.

"Selain dinamika dari AS, ekonomi global juga dibayangi tantangan perlambatan pertumbuhan di China akibat lemahnya konsumsi domestik," tegasnya.

Di tengah gejolak tersebut, ia memastikan ekonomi Indonesia tetap berdaya tahan. Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,11 persen, yang disebutnya menjadi salah satu yang tertinggi dibanding negara dengan kapasitas ekonomi setara.

"Di tengah latar belakang tersebut, ekonomi dunia menunjukkan resiliensi yang dimotori negara berkembang. Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan tertinggi dan defisit terendah di 2025," katanya.

[Gambas:Video CNN]

(lau/ins)