Harga Cabai Rawit Melonjak hingga 121 Persen di Pekan Pertama Ramadan

CNN Indonesia
Selasa, 24 Feb 2026 05:30 WIB
BPS menyampaikan lonjakan harga cabai rawit terjadi di lebih dari separuh wilayah Indonesia.
BPS menyampaikan lonjakan harga cabai rawit terjadi di lebih dari separuh wilayah Indonesia. (FOTO:CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga cabai rawit melonjak tajam di berbagai daerah pada pekan pertama Ramadan 2026.

Angka kenaikan harga bahkan lebih dari 100 persen di sejumlah kabupaten/kota, dengan disparitas harga yang sangat lebar antarwilayah.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan lonjakan harga cabai rawit terjadi di lebih dari separuh wilayah Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Cabai rawit mengalami kenaikan yang sangat tinggi sekali, yaitu naik pada minggu ketiga di bulan Februari 69,89 persen atau dari Rp57.492 menjadi Rp68.928 (per kilogram)," ujar Ateng dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026, Senin (23/2).

"Kalau kita cermati, cabai rawit yang mengalami peningkatan IPH (Indeks Perkembangan Harga) itu pada 59,44 persen wilayah di Indonesia. Jadi hampir lebih dari setengah wilayah di Indonesia mengalami peningkatan cabe rawit," tambahnya.

Ia menjelaskan jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga cabai rawit mencapai 214 kabupaten/kota hingga minggu ketiga Februari 2026, meningkat dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 210 daerah.

BPS mencatat kesenjangan harga cabai rawit antarwilayah sangat tinggi, dengan harga terendah sekitar Rp23.462 per kilogram dan tertinggi mencapai Rp200 ribu per kilogram.

"Rp200 ribu ini di Kabupaten Nduga, kemudian di Kabupaten Mappi Rp190 ribu, dan di Kabupaten Intan Jaya Rp170 ribu (per kilogram). Ini semuanya di wilayah Papua yang mengalami peningkatan tertingginya," kata Ateng.

Lonjakan tertinggi tercatat di Kabupaten Situbondo dengan kenaikan 121,23 persen menjadi Rp78.449 per kg. Kenaikan drastis juga terjadi di Kota Pasuruan sebesar 114,03 persen menjadi Rp78.192 per kg serta Kabupaten Nganjuk naik 100,81 persen menjadi Rp72.359 per kg.

Kenaikan signifikan lainnya terjadi di Kabupaten Sampang dengan harga Rp83.462 per kg atau naik 99,51 persen, Kabupaten Blitar Rp70.885 per kg naik 98,71 persen, dan Kabupaten Pamekasan Rp91.410 per kg naik 98,27 persen.

Kabupaten Trenggalek, Sidoarjo, Sukoharjo, dan Kota Salatiga juga mencatat kenaikan antara 90-99 persen dan seluruhnya berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP).

Di luar Jawa, kenaikan tinggi juga terjadi di Kabupaten Lombok Tengah dengan harga Rp94.962 per kg atau naik 87,45 persen, Kabupaten Bangli Rp74.974 per kg naik 87,40 persen, serta Kabupaten Lombok Timur Rp88.385 per kg naik 86,86 persen.

Selain cabai rawit, BPS juga mencatat kenaikan harga daging ayam ras meski tidak setinggi komoditas cabai. Secara nasional, harga daging ayam ras naik sekitar 1,65 persen hingga minggu ketiga Februari 2026 dan rata-rata harga berada di level Rp40.789 per kg atau sudah berada di atas harga acuan Rp40 ribu per kg.

Kenaikan harga ayam ras terjadi di 198 kabupaten/kota atau sekitar 55 persen wilayah Indonesia.

Sejumlah daerah mencatat harga cukup tinggi, antara lain Kabupaten Boven Digoel sekitar Rp60 ribu per kg, Kabupaten Sambas Rp50.615 per kg, Kabupaten Bangka Rp40.667 per kig, serta Kabupaten Mempawah Rp43.538 per kg. Sementara di beberapa daerah lain seperti Kabupaten Blitar dan Bantul, harga ayam ras tercatat sekitar Rp37.923 per kg.

BPS juga melaporkan kenaikan harga beras di sejumlah provinsi dan kabupaten/kota. Berdasarkan data hingga minggu ketiga Februari 2026, kenaikan tertinggi terjadi di Kepulauan Riau dengan harga Rp14.849 per kg atau naik 4,25 persen, diikuti Papua Selatan Rp17.258 per kg dengan kenaikan 3,02 persen, dan Gorontalo Rp13.717 per kg dengan kenaikan 1,24 persen.

Ateng menegaskan kenaikan cabai rawit menjadi perhatian utama karena peningkatannya paling signifikan dibanding komoditas pangan lainnya.

"Kalau kita cermati dari petanya juga, titik merah cukup banyak, artinya yang meningkat posisinya lebih dari 15 persen dan jumlah wilayah yang terdampak masih cukup banyak," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

(del/ins)