Amran soal Impor 1.000 Ton Beras dari AS: Itu Beras Khusus
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan rencana impor 1.000 ton beras dari Amerika Serikat (AS) dalam kerangka perjanjian dagang resiprokal tidak bertentangan dengan kondisi swasembada beras Indonesia.
Ia menyebut beras yang akan diimpor merupakan jenis khusus dan volumenya sangat kecil dibandingkan stok nasional.
"Sudah swasembada (beras). Aku tanya, meluber enggak beras di Bulog? Meluber. Jumlah beras di Bulog hampir 4 juta ton, banyak enggak? Kalau dibagi 1.000 (ton) itu berapa? 1.000 bagi 4 juta berapa? Kalau tidak salah empat nolnya, benar enggak? 0,0004 (persen). Kecil enggak? Terjawab ya, selesai," kata Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (3/3).
Ia menilai angka impor tersebut tidak signifikan jika dibandingkan dengan cadangan beras pemerintah yang mendekati 4 juta ton. Bahkan, menurutnya, Indonesia justru akan mengekspor beras dalam waktu dekat.
"Kalau aku ekspor minggu depan itu baru akan. Ekspor 2.000 ton. Hebat enggak? Hebat pemerintah Indonesia," ujarnya.
Amran menjelaskan beras yang diimpor dari AS bukan beras konsumsi umum, melainkan beras khusus seperti basmati yang memiliki segmen pasar tersendiri. Ia menyebut jenis tersebut biasanya dikonsumsi turis atau investor asing yang datang ke Indonesia.
"Kalau diimpor itu adalah beras khusus, karena basmati sesuai dengan turis-turis yang datang, investor datang. Paham? Jadi taste-nya ini untuk turis kita yang datang," kata Amran.
Ia juga membandingkan rencana impor dari AS 1.000 ton yang belum terealisasi dengan rencana ekspor 2.000 ton yang akan dilakukan dalam waktu dekat.
Menurutnya, jika dilihat secara proporsional, langkah ekspor dalam jumlah lebih besar menunjukkan posisi RI yang lebih kuat dalam perdagangan beras.
"Mana 2.000 ton akan diekspor minggu depan, 1.000 ton belum pasti. Itu pun beras khusus. Mana lebih bagus?" ujarnya.
Rencana impor beras tersebut tercantum dalam dokumen perjanjian dagang resiprokal AS-RI. Dalam kesepakatan itu, Indonesia disebut akan memastikan impor beras asal AS melebihi 1.000 metrik ton per tahun.
Selain beras, komitmen peningkatan impor juga mencakup sejumlah komoditas pertanian lain seperti apel, daging sapi, jagung, kedelai, gandum, kapas, etanol, hingga buah anggur dengan volume tertentu setiap tahunnya.
(del/ins)