Pengamat Beber Dampak Kenaikan Harga Minyak ke RI Imbas Perang Timteng

tim | CNN Indonesia
Rabu, 04 Mar 2026 04:45 WIB
Ketergantungan terhadap impor membuat Indonesia sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak dunia dan juga fluktuasi nilai tukar dolar AS.
Ketergantungan terhadap impor membuat Indonesia sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak dunia dan juga fluktuasi nilai tukar dolar AS. (FOTO:REUTERS/Majid Asgaripour)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kenaikan harga minyak dunia di tengah eskalasi Timur Tengah berpotensi meningkatkan tekanan terhadap harga domestik, termasuk bahan bakar minyak (BBM).

Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) Piter Abdullah menyampaikan dalam kondisi harga minyak global yang meningkat, tekanan terhadap penyesuaian harga BBM domestik hampir tidak terhindarkan.

Menurut Piter, pertanyaan terkait isu Timur Tengah bukan semata apakah harga BBM akan naik atau tidak, melainkan sejauh mana pemerintah mampu menahan kenaikan tersebut melalui kebijakan fiskal yang tersedia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam situasi harga minyak naik, tekanan terhadap harga BBM domestik tentu meningkat. Jika pemerintah menahan kenaikan melalui subsidi, maka konsekuensinya ada pada peningkatan beban fiskal. Sebaliknya, jika dilepas maka tekanan terhadap inflasi bisa menjadi lebih kuat," ujar Piter dalam keterangan resmi tertulis, Selasa (3/3).

Ia menjelaskan kontribusi harga BBM terhadap inflasi relatif besar, baik melalui dampak langsung (first round effect) maupun dampak lanjutan terhadap biaya produksi, distribusi, dan harga barang konsumsi (second dan third round effect).

Dengan struktur tersebut, kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi secara bertahap, tergantung pada respons kebijakan yang diambil.

"Konsumsi minyak nasional mencapai hampir 1,5 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri tidak sampai setengahnya. Ketergantungan terhadap impor membuat Indonesia sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak dunia dan juga fluktuasi nilai tukar dolar AS," terangnya.

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada perdagangan Selasa (3/3), menandai tren kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut di tengah meluasnya perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Konflik yang dipicu serangan provokasi AS dan Israel ke Iran ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent tercatat berada di level US$78,83 per barel, naik US$1,10 atau 1,4 persen. Sehari sebelumnya, Brent sempat menyentuh US$82,37 per barel, level tertinggi sejak Januari 2025, sebelum akhirnya ditutup menguat 6,7 persen.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 74 sen atau 1 persen menjadi US$71,97 per barel. Pada sesi sebelumnya, WTI sempat mencapai level tertinggi sejak Juni 2025 sebelum ditutup naik 6,3 persen.

Lonjakan harga terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar setelah jalur vital distribusi energi global dari Timur Tengah, yakni Selat Hormuz, ditutup.

[Gambas:Video CNN]

(fln/ins)