BGN Bantah Siswa Meninggal di Bengkulu Utara Gegara MBG
Badan Gizi Nasional (BGN) membantah kabar yang mengaitkan meninggalnya seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Bengkulu Utara dengan konsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).
BGN menegaskan korban belum sempat mengonsumsi makanan MBG sebelum dinyatakan pingsan.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang menyatakan informasi yang beredar di masyarakat tidak sesuai dengan fakta medis di lapangan.
"Fatih belum memakan menu MBG dari SPPG Giri Kencana ketika diketahui pingsan sebelum dibawa ke rumah sakit," kata Nanik dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (3/3).
Menurut Nanik, hasil pemeriksaan medis menunjukkan korban mengalami pendarahan otak. Temuan tersebut diketahui setelah dilakukan pemindaian CT Scan di RS Bhayangkara.
Sebelumnya, Fatih sempat mendapatkan penanganan awal di RS Lagita Ketahun. Namun rumah sakit tersebut hanya melakukan tindakan kegawatdaruratan karena kondisi kesadaran korban sudah menurun dengan nilai Glasgow Coma Scale (GCS) 6, yang mengindikasikan cedera otak berat dan mengancam jiwa.
Setelah sejumlah rumah sakit di Bengkulu hingga Padang dihubungi namun fasilitas Pediatric Intensive Care Unit (PICU) penuh, korban akhirnya dirujuk ke RS Bhayangkara. Hasil CT Scan di rumah sakit tersebut menunjukkan adanya pendarahan otak yang memerlukan tindakan lanjutan.
Korban kemudian dirujuk ke RS Tiara Sella untuk menjalani operasi bedah saraf. Fatih meninggal dunia sekitar 12 jam setelah operasi dilakukan.
Selain hasil medis, BGN juga menyampaikan temuan uji laboratorium atas sampel makanan MBG yang dibagikan pada hari kejadian. Pemeriksaan dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
"Hasil uji BPOM menunjukkan seluruh sampel negatif, tidak ada bakteri E. coli, boraks, formalin, nitrit, arsen, sianida, ataupun temuan lain yang mengarah pada keracunan pangan," ujar Nanik.
Ia menambahkan pada hari yang sama terdapat sekitar 1.800 penerima manfaat MBG. Namun tidak ditemukan laporan gangguan kesehatan serupa.
"Dari 1.800 penerima manfaat, tidak ada laporan kejadian serupa. Hanya satu kasus ini, dan secara medis ditemukan adanya pendarahan otak," tegasnya.
BGN menyampaikan duka cita atas wafatnya korban serta mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi dan menunggu informasi resmi berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan laboratorium yang dapat dipertanggungjawabkan.
(del/ins)