Bahlil Bakal Tambah Stok BBM Jadi 90 Hari Antisipasi Dampak Timteng

CNN Indonesia
Rabu, 04 Mar 2026 12:30 WIB
Jika penutupan Selat Hormuz berlangsung 30 hari, Asia sebagai 84 persen tujuan arus selat berpotensi berebut stok cadangan strategis.
Jika penutupan Selat Hormuz berlangsung 30 hari, Asia sebagai 84 persen tujuan arus selat berpotensi berebut stok cadangan strategis. (FOTO:ANTARA/Dhemas Reviyanto).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan akan menambah kapasitas penyimpanan (storage) stok bahan bakar minyak (BBM) menjadi 90 hari atau tiga bulan yang semula hanya 25-26 hari.

"Faktanya, ketahanan energi kita, storage itu maksimal di angka 25-26 hari, nggak lebih dari itu," ujar Bahlil dalam Konferensi Pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi terhadap Sektor ESDM di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Selasa (3/3).

Pernyataan Bahlil merupakan respons terkait perbandingan ketahanan energi Indonesia dengan Jepang, yakni stok BBM Indonesia dapat bertahan dalam durasi kurang dari 30 hari sedangkan Jepang dapat bertahan hingga 254 hari ke depan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketimpangan tersebut disebabkan karena storage dan atau penyimpanan BBM yang dimiliki Indonesia terbatas.

"Sekarang, kalau kita impor sebanyak itu (Jepang), kita mau taruh (BBM) di mana? Itu permasalahan kita," katanya.

Dengan demikian, Bahlil menyampaikan pemerintah tengah berupaya untuk membangun storage yang kapasitasnya bisa mencapai 90 hari atau tiga bulan. Hal ini agar selaras dengan standar internasional.

Bahlil menargetkan storage mulai dibangun pada tahun 2026 dan direncanakan akan dibangun di Sumatra. Adapun saat ini studi kelayakan atau feasibility study pembangunan storage sedang berlangsung.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Ardian Nengkoda mengatakan sekitar 84 persen minyak yang melalui Selat Hormuz menuju Asia. Jika arus transportasi ini terhenti, ekspor dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, UEA, Qatar, bahkan Iran sendiri, praktis tersendat.

Hal tersebut terbukti dengan pergerakan harga minyak mentah, di mana mengutip Reuters, untuk jenis Brent tercatat naik US$3,66 atau 4,7 persen ke US$81,40 per barel, Selasa (3/3) sekaligus menjadi level penutupan tertinggi sejak Januari 2025.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$3,33 atau 4,7 persen menjadi US$74,56 per barel, tertinggi sejak Juni tahun lalu.

Ardian mengingatkan bahwa harga minyak mentah sudah melonjak tajam. Di sisi lain, OPEC+ menyetujui kenaikan produksi 206 ribu barel per hari untuk pengiriman bulan April. Ardian menilai, tambahan produksi tersebut tidak akan berarti jika tidak bisa melewati selat Hormuz.

Sementara itu, pipa alternatif ekspor minyak kawasan Teluk diperkirakan hanya mampu mengalihkan sekitar 3 juta bph, jauh di bawah potensi kebutuhan 20 juta barel.

"Pasar lebih peduli pada mobilitas fisik minyak mentah ketimbang spare capacity. Artinya, selama kapal tak berlayar, supply efektif global menyusut drastis," ujarnya.

Dia juga memperhitungkan jika dalam 7 hari lalu lintas kapal tanker tidak pulih, maka harga minyak mentah berpotensi melonjak ke kisaran US$110-130 per barel. Akibatnya, maskapai kapal terpukul, biaya logistik meroket, harga pangan dan barang pokok dan ekonomi terdorong naik.

Selain itu, bank sentral di seluruh dunia terancam kehilangan kredibilitas dalam semalam setelah upaya panjang menjaga stabilitas inflasi di masing-masing negara. 

Pakar IATMI menilai jika penutupan berlangsung 30 hari, Asia sebagai tujuan utama bagi 84 persen arus Hormuz, akan berebut kargo spot, memperlebar backwardation dan menguras stok cadangan strategis.

"Negara-negara importir besar seperti China, India, Singapura, Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan menghadapi tekanan neraca berjalan dan depresiasi mata uang," ujarnya.

(fln,dhz/ins)